|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Little Boy
Oleh: Denni Pinontoan
|
Suzuko Numata yang kini berusia kira-kira 80 tahun dari Bangsal Higashi Hiroshima mendapat semangat untuk hidup setelah ia menyaksikan daun-daun baru mulai tumbuh pada sebuah pohon yang juga selamat dari pemboman dan tunas-tunas daun yang menyembulkan warna hijau dari ranting-ranting gosong itu menjadikannya punya keinginan untuk hidup kembali. Itu terjadi di suatu hari pada tahun 1947. Numata, seorang nenek yang waktu pemboman Hiroshima menjadi saksi mata. Untung ia masih bisa hidup. Begitu pernah dilansir gatra.com 6 Agustus 2005.
"Pohon itu mengajarkan bahwa saya masih hidup," kata Numata.
Ketika bom atom dijatuhkan pada tanggal 6 Agustus 1945, Numata tengah berada di Biro Komunikasi Hiroshima yang berjarak sekitar 1,4 Km dari pusat ledakan. Lutut kirinya mengalami cedera serius akibat ledakan bom atom itu. Empat hari kemudian dia harus merelakan kaki kirinya diamputasi hingga di atas lutunya.
Numata, mewakili manusia yang pernah putus asa tapi kemudian bisa bangkit. Tapi ia juga mewakili manusia yang menjadi korban keganasan perang. Perang, selalu meninggalkan banyak kisah sedih. Tapi dari padanya – karena ia telah terlanjur menjadi cara manusia untuk meraih suatu kepentingan – perang juga bisa memberi kita pelajaran soal hakekat hidup diri sendiri, diri orang lain dan dunia. Dan, lebih dari untuk belajar mengulang atau bagaimana baiknya berperang, perang mestinya memberi pelajaran pada kita untuk mengusahakannya menjadi tidak ada. Tapi, itu adalah visi manusia-manusia pencinta damai.
Numata, adalah saksi kehancuran Hiroshima atas kebrutalan perang. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki adalah bagian-bagian terakhir Perang Dunia ke-2. Perang yang telah menewaskan kurang lebih 50.000.000 (limapuluh juta) orang itu, dinyatakan sebagai perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Perang Dunia ke-2 akhirnya menjadi salah satu fase dalam perjalanan sejarah pergaulan masyarakat dunia. Setelah fase itu, ada lagi fase yang lain. Dan kita terus-menerus ada dalam pergantian fase. Fase akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya dunia ini.
Perang Dunia ke-2 memperlihatkan dengan gamblang kepada penghuni planet ini, betapa manusia yang diposisikan sebagai rakyat, adalah kecil dan sangat kecil untuk suatu prestise, gengsi dan kekuasaan. Perang akhirnya memang tidak kemudian memperhitungkan agama dan kemanusiaan. Memang perang, oleh kebanyakan manusia dianggap sebagai cara terakhir untuk mempertahankan kedaulatan atau demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Tapi, semua perang ada yang berhadap-hadapan. Dulu, Amerika tampil sebagai penyelamat dunia, tapi sekarang masyarakat internasional mencurigai dia sebagai penyebab dan dibalik dari perang-perang yang terjadi, khususnya di Timur Tengah.
Pada 6 Agustus Hiroshima di bom. Tiga hari kemudian giliran Nagasaki. Semua di tahun 1945 dan di Jepang. Jepang, waktu itu adalah sebuah negara yang berambisi besar untuk menguasai dunia. Jepang menyerah kalah, setelah Little Boy (sebuah kode nama yang diberikan kepada senjata nuklir) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika dan sekutunya. Dia dijatuhkan dari sebuah pesawat B-29 Superfortress bernama Enola Gay yang dipiloti oleh Letkol. Paul Tibbets, dari sekitar ketinggian 9.450 m (31.000 kaki). Senjata ini meledak pada 8.15 pagi (waktu Jepang) ketika dia mencapai ketinggian 550 meter. Little Boy merupakan senjata nuklir pertama dari dua yang pernah digunakan dalam perang. Momen kekalahan Jepang ini dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya
Little Boy, kemudian tidak hanya sekedar sebuah kode nama, tapi ia adalah pemusnah juga sekaligus kemenangan sesaat. Little Boy, meski barangkali bukan awal dan satu-satunya, tapi ia tetap sebagai cara bagi penggunanya untuk menguasai dunia. Little Boy, tidak bisa kita mengerti dari harafiahnya. Little Boy, adalah besar, superior dan laki-laki jantan, perkasa. Sebuah paradigma yang laku di abad-abad sebelumnya, waktu itu dan bahkan tersisa hingga sekarang. Sebuah paradigma yang kemudian menjadikan kebenaran tunggal dan poros bumi berpusat pada satu kekuasaan negara, tapi terlebih dulu mempropaganda kita, bahwa ada dua dunia: Dunia Barat dan Dunia Timur, ada laki-laki yang perkasa, penguasa dan ada perempuan yang lemah, lembut dan cengeng, dikuasai. Juga ada yang kafir dan beriman, ada Kristen ada Islam.
Ledakan dahsyat Little Boy tidak kemudian menghasilkan perdamaian kekal. Ia malahan hanya memperteguh bahwa ada yang lemah dan ada yang kuat, ada penguasa ada yang harus dikuasai. Little Boy, mengalahkan ambisi untuk berkuasa, dan kemudian menjadi awal dari sebuah penguasaan lagi. Little Boy, harus dijatuhkan sebagai peledak, karena subyeknya melihat dunia terbelah dua atau lebih dengan ambisi yang besar untuk memusatkan dunia pada satu kekuasaan.
Tapi Little Boy yang sesungguhnya hanyalah bom atom. Pada awalnya ia tidak mempunyai tujuan, keberanian dan kekuatan, karena ia tidak bernyawa. Tapi, paradigma subjek-objek, ambisi yang harus dikalahkan (tujuan), dan semangat untuk berkuasa, yang semuanya itu hanya ada pada manusia, maka kemudian Little Boy menjadi berani, punya tujuan, dan menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Ia mengubah lebih separuh sejarah dunia ini.
Little Boy yang sesungguhnya memang hanya bom atom. Dan bagi Ibu Teresa, bom atom bukan pertama-tama yang berbahaya bagi kehancuran dunia. Yang paling berbahaya adalah ketika manusia (yang menciptakan bom atom dan yang mengatur untuk apa ia dibuat) mengalami ketiadaan cinta kasih. “Kehancuran dunia, pertama-tama bukan senjata kimia dan bom atom, tapi ketiadaan cinta kasih dari manusia,” begitu Ibu Teresa pernah berkata.
Little Boy, memang hadir dan berada untuk tuannya, manusia. Tergantung subjek, Little Boy akan dipakai untuk membunuh atau tidak atau jatuhnya akan ke mana, kalau memang harus dipakai. Kenapa bukan bom atom yang Ibu Teresa anggap sebagai yang paling berbahaya? Ya, itu karena, sekali lagi, bom atom nanti menjadi berani, punya tujuan, keberanian dan kekuatan ketika nanti dimaknai dan dipakai oleh subjek. Subjek yang selalu berada dalam godaan untuk berkuasa. Pun, daya ledak Little Boy yang mencapai 13 kiloton TNT, berada dalam kuasa subjek yang memperalatnya.
Little Boy, memang terbukti bukan sebagai pendamai yang kekal. Karena dia dibuat bukan untuk menghentikan sebuah tindakan manusia yang bernama perang.Bahkan Little Boy akhirnya menjadi perang itu sendiri. Perang Israel versus Libanon (yang sementara berkecamuk) lagi-lagi membuktikan hal tersebut. Perang terus terjadi, entah hingga kapan berakhirnya. Juga, semua jenis bahasa ada kata yang menunjuk pada apa yang kita sebut sebagai perang. Dan, kehadiran kosa kata itu, barangkali setua peradaban dunia ini. Dan, kemenangan dalam perang kadang masih lebih kuat daya keterpangaruhannya untuk banyak pengulangan dari pada pengalaman menderita karena perang.
Sebagaimana Little Boy yang pernah memperteguh sebuah dikotomi, perang Israel versus Libanon pun demikian. Perang ini menyeret umat manusia – yang memang memiliki emosi – pada dua kutub pro dan kontra. Sebenarnya ada satu kutub lagi yaitu tidak pro tidak juga kontra, tapi berdiri di tengah untuk menyatakan sikap tidak berpihak. Tapi, dalam kondisi yang terdesak seperti ini, kutub yang satu itu menjadi sulit untuk menyatakan diri. Tidak ada yang tidak berpihak di zaman yang menuntut sikap seperti ini. Tidak berpihak pada siapa-siapapun akhirnya harus disebut sebagai sebuah sikap.
Perang Israel versus Libanon, kemudian membelah kita pada simpati dan antipati, pro dan kontra. Ini kemudian bersamaan dengan dikotomi Barat-Arab, Kristen-Islam. Dan, yang antagonis dan protagonis, tergantung siapa yang menilai. Padahal, menurut yang tidak pro dan tidak kontra, di sana sedang terjadi perang yang para pelakunya adalah manusia dan korbannya adalah juga manusia. Yang mereka sebut adalah “manusia” bukan nama agama. Bahwa manusia-manusia yang berperang dan menjadi korban perang memeluk agama seperti yang para pro dan kontra sebut, itu adalah fakta. Tapi, peluru dan bom serta kematian di sana tidak memilih-milih agama. Di sana yang berperang dan menjadi korban terdiri manusia-manusia yang memeluk agama Islam, Kristen atau juga Yahudi. Perang sifatnya memang brutal, meski ada yang sebenarnya hanya sekedar untuk mempertahankan kedaulatan, kebenaran dan keadilan. Tak jarang, apa yang mati-matian dipertahankan itu, dikalahkan oleh ambisi untuk berkuasa. Tapi itulah perang.
Sehingga, sekali lagi Little Boy memang bukan sebagai pendamai kekal. Begitu juga dengan perang Israel versus Libanon. Apalagi kita di sini dan kini yang telah terseret dan menyeretkan diri dalam suatu proyek pendikotomian. Kita akhirnya terjebak – barangkali karena desakan atau memang terdesak akibat kesalahan kita mengerti dan memaknai keberagamaan – pada mem-”perang”-kan agama. Agama, yang sebenarnya diharapakan untuk mendamaikan, kini kita libatkan (peralat) dalam pertikaian, perang dan permusuhan. Jangan-jangan kita sedang perlakukan dan maknai agama sebagai “Little Boy” yang hanya memusnakan dan menghancurkan kemanusiaan dan persaudaraan. Itu boleh jadi, karena memang Little Boy dan agama, sejatinya sama-sama tidak punya keberanian, tujuan dan kekuatan sehingga bukan sebagai pendamai kekal. Little Boy dan agama nanti mempunyai tujuan, kekuatan dan keberanian ketika subjek memaknainya.
Tapi, Little Boy dan agama harus kita bedakan dengan perang. Apapun motivasi dan tujuannya, perang selalu meninggalkan penderitaan, dan sedikit kemenangan. Tapi, harus kita akui, bahwa keduanya bisa dengan gampang dipakai dan diperalat untuk suatu perang karena mereka mempunyai daya ledak yang dahsyat. Padahal, mestinya daya ledak itu untuk kehidupan. Pohon saja bisa memberi kekuatan pada Numata, korban Little Boy, untuk bisa hidup.
Tomohon, 8 Agustus 2006
|
|