|
|
|
|
![]() |
![]() |
Margie Wowor SSos
Kebijakan Harus Pro Rakyat
Dalam satu tahun kepemimpinannya, Jimmy Rimba Rogi dan Abdi Buchari telah menun-jukkan komitmennya untuk membangun Ma-nado. Hal ini juga yang dikatakan gadis cantik pemilik nama lengkap Maggie Wowor SSos. “Lihat saja pembuat-an jalan dan selokan serta pena-taan kota yang dilakukan. Hal ini sangat menunjang terwujudnya visi Manado menjadi Kota Pari-wisata Dunia 2010,” katanya.
Untuk ke depan, lanjutnya, dalam kepemimpinan di tahun berikutnya, Imba-Abdi harus te-tap mengeluarkan kebijakan yang pro kepentingan rakyat, se-hingga rakyat akan merasa dekat dengan pemimpinnya.(mon)
Pemkot Gelar Razia KTP
GUNA mewaspadai penyu-sup dan penduduk ilegal di Kota Manado, Pemkot beren-cana akan melakukan razia KTP. Hal ini diungkapkan Se-kretaris Kota (Sekkot), Ir GSV Lumentut MSi MM. Lumentut sendiri belum memastikan hari sweeping tersebut, namun ia mengaku penertiban ini memperhatikan etika dan aturan. Bagian lain, Lumentut juga menjelaskan, penertiban yang nantinya digelar ini bertujuan juga untuk mendata warga PKL yang sesungguh-nya, sebab pascapenertiban PKl di pusat kota belum lama ini, daftar PKL yang disodor-kan ke pemerintah kota melejit drastis.(ran)
Parkir Pusat Kota Bakal Diswastakan
Manajemen perparkiran di Pasar 45 rencananya akan diserahkan ke pihak swasta. Ini dimaksudkan agar penge-lolaannya dilakukan secara profesional, sekaligus meng-optimalkan pemasukan bagi kas daerah. Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Manado, Drs Hein Dandel, rencana pengelolaan parkir oleh pihak swasta sedang dipikirkan kembali. “Untuk jangka panjang, rencana ter-sebut memang demikian. Bah-kan sampai saat ini sudah ba-nyak pihak swasta yang ber-keinginan mengelolanya,” kata Dandel, Rabu (23/08).(win)
Imba Makan Siang Bersama Pemulung dan Buruh Sampah
Walikota Manado, Jimmy Rimba Rogi SSos memberikan apresiasinya terhadap keber-adaan buruh sampah dan pe-mulung yang ada di Manado. Di sela-sela perayaan syukur satu tahun kepemimpinanya, Imba menyempatkan diri ma-kan siang bersama dengan ‘laskar pembersih kota’ ini.
Menurut Imba, kebersihan dan keindahan kota tidak lepas dari peran buruh-buruh sampah dan para pemulung. Selain menawarkan makan siang, Imba juga secara simbolik menyerahkan sejum-lah atribut kerja, kepada buruh sampah.
Buruh sampah yang turut hadir dalam acara ini keba-nyakan terharu sebab apa yang dilakukan walikota ke-pada mereka dianggap suatu penghormatan. Kata Marsuki, salah satu buruh sampah yang berhasil diwawancarai Komentar, persoalan paling mendasar bagi buruh sampah adalah kenaikan upah, sebab upah yang mereka dapat dari hasil kerja mereka, terasa minim dan tidak sebanding dengan kebutuhan dan risiko yang nantinya dihadapi mereka.
“Torang ini rentan terkena penyakit sebab setiap hari bergelut dengan sampah, namun kenyataannya subsidi kesehatan untuk kami tidak ada, kendati hal ini adalah suatu yang sangat penting bagi kami. Makan siang dan undangan pemerintah kota terhadap kami ini memang berarti, namun jauh lebih ber-arti apabila kami juga diper-hatikan dalam pembayaran upah dan masalah kese-hatan,” ujarnya.(ran)
Mapanget Terbaik Antarkecamatan
MANADO-Kecamatan Ma-panget yang dikomandani Drs Franky Heydemans sebagai camat, berhasil terpilih men-jadi Kecamatan Terbaik di Ko-ta Manado. Terpilihnya ke-camatan ini sebab hasil peni-laian pihak panitia, bahwa sistem administrasi keca-matan, ketertiban dan kein-dahan kecamatan ini telah memenuhi standarisasi yang ditetapkan pihak panitia. Pe-nyerahan penghargaan untuk Kecamatan Mapanget, dise-rahkan langsung Walikota, Jimmy Rimba Rogi, di sela-sela perayaan satu tahun ke-pemimpinan Imba-Abdi, Rabu ( 23/08) kemarin. Heydemans sendiri menyatakan terima kasihnya, khusus bagi warga Mapanget, sebab prestasi yang diraih ini, tidak lepas dari peran dan kesadaran masya-rakat Mapanget.(ran)
Problema ratusan honorer Kesbang Manado
Sudah Terjatuh Tertimpah Tangga Pula
“Biar jo torang pe doi Rp 3 juta te nda kase pulang, mar torang diakomodir sebagai tenaga honorer pemerintah kota.” Ungkapan memelas, yang sekaligus menjadi harapan ratusan tenaga honorer di badan Kesatuan Bangsa (kesbang) Manado.
Nasib ratusan tenaga honorer Kesbang Manado, hingga saat ini masih mengambang, sebab terang-terangan Pemerintah Kota Manado, tidak mengakui keberadaan mereka. “Kita nanti bayar kalu dorang mengantongi SK walikota.” Begitu penegasan Walikota Manado, Jimmy Rimba Rogi SSos, saat diwawancarai Komentar lalu.
Pengakuan Imba tersebut se-cara otomatis memupus harapan ratusan tenaga honorer ini. Sudah jatuh tertimpah tangga pula, itu-lah pribahasa kuno paling tepat dialamatkan kepada ratusan tenaga honorer Kesbang ini, sebab sudah terlanjur membe-rikan Rp 3 juta kepada oknum pejabat, namun mereka tidak diakui sebagai tenaga honorer.
Bukan hanya itu saja, gaji selama sembilan bulan juga tidak pernah diberikan.
Harapan untuk diakomodir sebagai tenaga honorer resmi
masih diharapkan mereka, se-bab sampai detik ini, mereka tetap aktif mengabdikan diri di Kantor Kesbang, semata-mata menunggu belas kasihan pemerintah kota. Bagi honorer yang masih singel, penderi-taan ini mungkin belum terlalu terasa. Tapi bagi yang sudah berkeluarga hal ini terasa menyakitkan, akibat tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari. “Tolong kwa pak wali buka hati untuk kami,” ujar tenaga honorer ini dengan wajah sayu.
Ya, keluhan yang begitu memprihatinkian, karena ini juga menyangkut urusan perut dan kesinambungan kepulan asap dapur. Di lain sisi kita memahami sikap tegas Pemkot yang tak ingin terlalu gampang mengge-lontorkan anggaran. Tetapi di sisi lain, ada ratusan perut yang menanti untuk diisi, dan berarti butuh biaya untuk itu. Kini, harus ada solusi karena keringat yang telah keluar sejatinya mesti mendapat apresiasi.(**)
|
|