HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

25 August 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Dari Ajang Pilkada Sangihe 
Saligana Perkasa, MaMa Percaya Diri 

Oleh : Yus Manumpil 

 IKUTI BERITA LAIN

Mitra dan Semangat Pluralisme(3)

 SURAT PEMBACA

Terminal Karombasan Mirip WC Umum

 COMMENTAREN

Memahami Kebijakan Pemkot Manado


Sejak Jumat, 18 Agustus lalu, tahapan Pilkada di Sangihe mulai memasuki masa kampanye diawali dengan pemaparan visi dan missi tiap pasangan kandidat di depan sidang paripurna Dekab Sangihe di Tahuna. Ketiga pasang kandidat, Letkol (Inf) RN Budiman Azis Saleh Yanis, SH (Manis) dengan nomor urut 1, Drs. Winsulangi Salindeho – Jabes Gaghana, SE (Saligana) nomor urut 2 dan Letkol CPM Donny Makaminan, SE – Ir. Femmy Mamudi, MBA (MaMa) nomor urut 3, secara bergilir menyampaikan paparannya yang diikuti dengan cermat dan serius oleh hadirin yang memadati gedung rakyat tersebut. 
Kendati berbeda dalam gaya, sistematika dan penekanan topik yang disampaikan, namun secara garis besarnya semua kandidat bertujuan sama. Yaitu, terjadinya peningkatan dan percepatan KKN dan tercapainya azas pemerataan dalam kehidupan bermasyarakat memberantas pembangunan, terciptanya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Dengan visi dan missi yang nyaris seragam itu, sudah tentu tiap kandidat menyimpan amunisi cadangan sebagai umpan untuk memikat lebih banyak konstituen sekaligus strategi dan jurus pamungkas untuk “melumpuhkan” lawan. 
Tanpa bermaksud menyepelekan pasangan. MaNis, tulisan ini lebih menyoroti pasangan SaliGana dan MaMa, Masalahnya, sejak awal menjelang Pilkada, kedua pasangan ini sudah menyedot perhatian khusus warga Sangihe ketika memburu peluang maju sebagai calon. 
SaliGana 
Pasangan yang diusung kolaborasi Partai Golkar – PDIP dan didukung oleh PAN dan Partai Merdeka ini dari perhitungan matematis di atas kertas, jelas jauh mengungguli kedua pesaingnya. Pada Pemilu legislatif 2004 lalu gabungan perolehan suara kedua partai besar tesebut mencapai 70% lebih sehingga secara bersama – sama merebut 21 dari 25 kursi di Dekab Sangihe. Kemudian, Salindeho yang menjadi bupati sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Sangihe dan Gaghana yang Ketua DPC PDIP Sangihe terpilih menjadi WakilKetua Dekab Sangihe dalam dua setengah tahun terakhir ini, memiliki peluang sangat besar dalam menanamkan pengaruh dan popularitas di tengah masyarakat. Tidak mengherankan bila dalam survai oleh Lembaga Survai Independen (LSI). Salindeho unggul jauh dari figur lainnya dengan meraup dukungan 52% responden. Demikian pula halnya pada konvensi Partai Golkar, ia mengoleksi 90% dukungan. Sementara pasangan Salindeho – Gaghana, juga mengungguli pasangan lainnga dalam Rakercabsus PDIP Sangihe. Maka bersinergilah dua kekuatan besar tersebut maju dalam Pilkada. 
Dengan posisi jabatan yang strategis seperti itu, tidaklah sulit bagi SaliGana untuk membangun jaringan “pemenangan” sejak dini di semua sektor kehidupan masyarakat sampai tingkat terbawah. Akses seperti itu tidak dimiliki oleh para pesaingnya. Maka, ketika tahapan Pilkada dimulai, SaliGana sudah benar – benar siap tempur dengan dukungan personil, logistik dan finansial yang berlimpah. Sementara pesaingnya mungkin saja baru bangun tidur dan bersiap belajar baris-berbaris. Sebagai penguasa yang “incumbent”, SaliGana berhak mengklaim bahwa kemajuan pembangunan di Sangihe merupakan karyanyata mereka sebagai kepedulian terhadap aspirasi rakyat. Hampir tiap hari dalam dua bulan terakhir ini media massa gencar memberitakan, mengulas bahkan mengiklankan gebrakan – gebrakan Salindeho melalui berbagai program di semua sektor kehidupan dan pembangunan. Begitu antusiasnya sanjungan media massa sehingga terkesan SaliGana adalah segala – galanya di Sangihe dan tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Hal ini sudah tentu keliru dan jelas salah kaprah. Sah – sah saja bila SaliGana dan pendukung fanatiknya membusungkan dada sebagai pahlawan pembangunan Sangihe. Tapi, barangkali alangkah arif dan bijaksananya bila warga Sangihe menoleh sejenak ke masa lima tahun lalu. Sebagai pasangan yang terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Sangihe periode 2001 – 2006, Alm. Aris Makaminan – Salindeho menjabarkan visi dan missi mereka dalam bentuk Rencana Stratejik Lima tahun yang setelah melalui pembahasan akhirnya disetujui dan ditetapkan oleh Dekab Sangihe sebagai acuan prioritas pembangunan. Dalam Renstra tersebut tercantum secara rinci berbagai program, kegiatan dan kebijaksanaan untuk memajukan Sangihe ke depan. Untuk menggolkannya, tanpa kenal lelah Alm. Makiman mondar-mandir Tahuna - Manado – Jakarta guna melobi gubernur, para anggota DPR-RI dan para menteri agar berkenaan memperhatikan dan membantu pembangunan di Sangihe dengan fasilitas, proyek maupun dana. Perjuangannya ini ternyata tidak sia – sia. Secara bertahap namun pasti, pemerintah pusat mulai mengucurkan bantuan. Sampai wafatnya, almarhum masih sempat menyaksikan sebagian hasil jerih payah perjuangannya sementara selebihnya mungkin baru terealisasi menyusul kemudian ketika Sangfihe dipimpin oleh Salindeho sebagai penerusnya. 
Dalam buku Renstra tersebut terurai apa yang direncanakan dan harus dilaksanakan tiap tahun. Pembangunan talud / boulevard Tahuna, ada tercantum di situ. Perluasan bandara Naha dan Pembangunan sejumlah dermaga pelabuhan juga ada disitu. Demikian pula halnya dengan pembangunan gedung sekolah, fasilitas kesehatan, jalan dan jembatan, sarana penunjang dan bantuan untuk para nelayan, petani, generasi muda, kesenian, olahraga sampai pemekaran wilayah dan peningkatan kesejahteraan pegawai dan aparat pemerintahan dan masih banyak lainnya ada tercantum di situ. 
Sudah tentu, dengan menguraikan hal ini penulis sama sekali tidak berniat untuk mengabaikan segala sumbangsih pemikiran dan karyanyata Salindeho. Penulis hanya bermaksud ingin mengajak semua pihak agar secara jujur dan tulus mengakui serta menghormati jasa dan pengorbanan orang lain. Bagaimanapun, kepemimpinan Salindeho sejak dua setengah tahun lalu merupakan kelanjutan dari duet Makaminan – Salindeho. 
Bila Salindeho berhasil memajukan pembangunan Sangihe baik yang dirintisnya bersama alm. Makaminan maupun kreasi dan hasil perjuangannya sendiri apakah itu berarti bahwa kepemimpinannya mutlak dipertahankan karena sebagaimana yang digemar – gemborkan pendukungnya tidak ada orang lain yang mampu menggantikannya, itu sangat menggelikan dan konyol. Kita semua tahu bahwa Salindeho adalah seorang birokrat sejati yang sarat pengalaman. Namun itu tidak berarti bahwa tidak ada figur lain yang mampu menggantikannya untuk memimpin Sangihe. Semuanya tentu terpulang kepada warga Sangihe yang berhak memilih siapa figur yang mereka nilai layak memimpin Sangihe ke depan. Waktu terus bergulir dan itu berarti ada yang datang dan ada yang pergi. Kalau memang konstituen menghendaki demikian, mengapa tidak ? 
Selain dapat membangun akses yang luas dengan masyarakat dan menikmati keuntungan lainnya, sebagai penguasa, SaliGana tentu saja rentan dari semua sorotan dan kritikan masyarakat. Baik secara transparan, terselubung maupun lewat gossip murahan warga masyarakat setiap saat memantau dan mengikuti tindak tanduk serta sepak terjang sang penguasa. Masyarakat akan leluasa menilai sesuai parameter mereka sendiri apakah sang penguasa masih layak dipertahankan atau perlu diganti. 
MaMa 
Perjuangan berat sudah harus dilakoni baik oleh Donny Makaminan maupun Femmy Mamudi sejak awal, yaitu untuk bisa maju ke ajang Pilkada. Makaminan sejak dini sangat berkeinginan dan mengharapkan bisa maju dibawah naungan. Pohon beringin, Partai Golkar. Namun hal itu tidak kesampaian karena kurang mendapat dukungan dalam konvensi partai. Dalam survai oleh Lembaga Survai Independen (LSI)-pun ternyata ia hanya meraup beberapa persen suara saja. Femmy Mamudi yang berpasangan dengan HR Makagansa juga mengalami nasib yang sama. Kalah suara dari pasangan SaliGana dalam Rakercabsus PDIP Sangihe. 
Sebenarnya setelah gagal dalam Rakercabsus tersebut, Mamudi sudah berniat untuk melupakan ambisinya maju bersaing dalam Pilkada dan berkonsentrasi pada tugasnya sebagai wakil rakyat Sangihe di Deprov Sulut. Tapi, sebagian besar akar rumput PDIP terus memohon dan mendorongnya agar mencari pasangan dan “perahu” lain maju dalam Pilkada. Gayungpun bersambut. Rupanya, Makaminan yang tidak terakomodir oleh Golkar, berhasil menemukan perahu lain untuk tumpangan yaitu gabungan empat partai di Dekab Sangihe yaitu PKPI, PDS, PPD dan PBB. Ia mengajak Mamudi untuk berpasangan dan keduanyapun mendaftar ke KPUD Sangihe sebagai calon Bupati – Wakil Bupati Sangihe 2006 – 2011. 
Sebagai seorang perwira TNI, Makaminan sebelumnya kurang dikenal di Sangihe sebab Ia belum pernah bertugas di daerahnya itu. Sementara Mamudi mulai dikenal luas oleh masyarakat ketika berkampanye pada Pemilu legislatif 2004 yang berhasil membawanya ke kursi Deprov Sulut. Dengan demikian, untuk maju dalam pertarungan Pilkada ini keduanya yang sama- sama pecundang, hanya mengandalkan tekad baja. Mereka sama sekali belum memiliki secuil sumbangsih atau karya nyata yang pernah diperbuat atau dipersembahkan bagi daerah tercinta. Pasangan MaMa ini benar – benar mulai dari nol. Tapi hal itu tidak membuat mereka keder atau hilang nyali. Malah keduanya lebih bersemangat agar bisa membuktikan bahwa mereka juga nantinya akan amampu berbuat banyak bagi kemajuan pembangunan di Sangihe. 
Tahapan sosialisasi mereka lakukan sampai ke pelosok – pelosok danpulau terpencil sehingga berhasil mengundang simpati masyarakat. Nasib sial dan kemalangan mereka pada tahapan penyaringan di Partai Golkar dan PDIP selain sangat menyentuh hati rakyat juga lebih memacu semangat mereka untuk tetap tegar dalam perjuangan. Terlebih lagi dengan adanya ancaman pemecatan terhadap Mamudi dari keanggotaannya di PDIP, warga masyarakat semakin simpati kepada mereka. Ketika akhirnya DPP PDIP hanya menjatuhkan sanksi berupa peringatan keras kepada Mamudi agar tidak menggunakan atribut PDIP, semakin kuatlah dukungan akar rumput PDIP kepadanya yang menyambutnya dengan sorak sorai kemenangan. Mereka yakin, ada “missi” terselubung dalam sanksi tersebut. Mamudi adalah kader dan asset PDIP yang potensial. Bisa saja DPP PDIP berjaga – jaga bila MaMa menang, maka Mamudi dapat diorbitkan menjadi Ketua DPC PDIP Sangihe . Bukankah Pemilu 2009 sudah dekat ? 
Pada kampanye dalam bentuk rapat umum di lapangan Gesit Tahuna Sabtu lalu, pasangan SaliGana benar – benar tampil perkasa dalam segala hal. Sementara pasangan MaMa dalam rapat umum di lapangan. Pokol Tamako tampil percaya diri apa adanya. MaMa dalam orasi kampanye menjanjikan perubahan dan pembaharuan yang lebih baik di masa mendatang sementara SaliGana bertekad mempertahankan status – Quo. 
Apapun yang mereka janjikan kesemuanya terserah kepada para konstituen. Beberapa kali pelaksanaan pemilu menjadi pelajaran dan memberikan pengalaman berharga bagi mereka dalam berpolitik. Mudah – mudahan saja mereka tidak tergiur oleh iming – iming uang dan beras dari para kandidat tetapi memilih sesuai hati nurani. 
Semua warga Sangihe berharap agar Pilkada ini dapat berlangsung dengan aman dan tertib tanpa harus menimbulkan perpecahan. Setiap kandidat harus siap kalah dan siap menang. Kalau menang jadilah milik semua warga Sangihe dan bukan hanya milik segelintir pendukungnya. 
Kalau kalah bersikaplah sportif dan membantu yang menang. Hanya dengan semangat persatuan seperti itulah daerah Sangihe dapat maju berkembang. Selamat bersaing. 
Somahe kai kehage …………

Penulis adalah wartawan dan pemerhati daerah perbatasan. 

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin