HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

30 August 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

MUSDA : KONSOLIDASI DEMOKRASI
(Sumbangan pikiran menghadapi Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara Tahun 2006)
Oleh : Drs JEFRY KEMBAU

 IKUTI BERITA LAIN

Mitra dan Semangat Pluralisme(3)

 SURAT PEMBACA

Kerdil, Demo Mahasiswa Unsrat pada Herman Kemala

 COMMENTAREN

Awas, Bahaya Flu Burung


Sang bintang pemilu legislatif tahun 2004 itulah julukan terhadap Partai Demokrat. Fantastis! itulah kalimat yang keluar dari hampir sebagian besar politisi, pengamat politik dan masyarakat luas,setelah melejitnya perolehan suara Partai Demokrat. Memperoleh 32 kursi legislatif yang terbagi 1 kursi DPR, 5 kursi DPRD Sulawesi Utara, 26 kursi DPRD kabupaten / kota se Sulut. Lebih spektakuler lagi partai yang dideklarasikan pada tanggal 4 Juni 2002 di Sulawesi utara mampu mencatat sejarah prestisius memenangkan pemilihan Presiden dan wakil presiden tahun 2004, SBY MJK menjadi presiden dan wakil presiden Pertama pilihan rakyat. Berbagai pujian ditujukan kepada Partai Demokrat cukup beralasan mengingat pada waktu itu merupakan partai yang baru.Itulah sekilas torehan sejarah yang diukir Partai Demokrat, memasuki kurun waktu kurang lebih dua tahun paska pemilihan Presiden dalam waktu dekat ini Partai Demokrat Sulawesi Utara akan melaksanakan Musyawarah Daerah Pertama tahun 2006.
Musda dalam pengertian ideal dapat diasumsikan sebagai salah satu sarana kader, organisasi melaksanakan kedaulatan.Musda dapat menjembatani kepentingan Dewan Pimpinan Pusat dan kepentingan kader yang ada ditingkat daerah sampai tingkat paling bawah.Memang, problem terjadi tatkala Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara nantinya berlangsung, akan memunculkan pertanyaan dapatkah Musda pertama Partai Demokrat Sulawesi Utara Tahun 2006 mendorong proses konsolidasi demokrasi partai ? Cukup beralasan pertanyaan ini muncul sehubungan dalam pelaksanaan musda nanti yang berhak memilih dan menentukan figur untuk menduduki top leader ada ditangan para voters (ketua DPC ketua DPC ditambah ketua DPD demisioner dan unsur DPP masing masing satu suara). Kondisi seperti ini sangat riskan akan tercorengnya proses konsolidasi demokrasi kalau sampai para voters moral hati nuraninya hilang misalnya akibat ulah salah satu kandidat melakukan money politic. Indikasi awal seperti inilah menuju konsolidasi demokrasi tidak semulus yang dibayangkan.
Hingar bingar menjelang perhelatan Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara tahun 2006 telah memunculkan figur figur untuk berkompetisi memperebutkan top leader. Barangkali satu dinamika politik dibalik munculnya para kandidat untuk bertarung dalam musda berimbas pada terjadi kelompok kelompok pendukung masing masing kandidat. Sebagai kader penulis melihat menghadapi Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara berlangsung ada tiga kelompok yang akan bertarung.Pertama, kelompok Perintis, kelompok yang berjuang sejak awal berdirinya Partai Demokrat Sulawesi Utara dari sosialisasi sampai saat ini masih eksis. Kedua, kelompok pendukung, kelompok ini para simpatisan Partai Demokrat yang bergabung pada waktu pelaksanaan pemilihan presiden. Ketiga, kelompok pendatang baru, kelompok ini merupakan para simpatisan Partai Demokrat yang masuk menjelang pelaksanaan Musda tahun 2006. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima itulah realita yang ada saat ini. Hal ini konsekwensi dari eksistensi partai Demokrat dalam pertumbuhan dan perkembangannya mendapat simpati bahkan empati masyatakat luas. Barangkali menjadi perdebatan yang gundah tatkala masing masing kelompok (perintis, pendukung, pendatang baru) ada upaya upaya memenangkan, memperebutkan top leader Partai Demokrat Sulawesi Utara, dengan masing masing asumsi kelompok kitalah yang paling layak, kitalah yang paling ideal menahkodai Partai Demokrat Sulawesi Utara.
Mengacu pada jati diri Partai Demokrat hasil kongres I di Denpasar Bali Tahun 2005. Partai Demokrat adalah partai yang bernafaskan Nasionalis Religius, dengan mengedepankan aspek Humanisme dan pluralisme. Pluralisme yang bermakna mengakui dan menghargai serta merangkul berbagai dan semua ras, suku rangsa, profesi, jenis kelamin, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, serta keberadaan ciri khas setiap daerah yang menyatu sebagai bangsa Indonesia. Humsanisme yang bermakna mengakui dan menjunjung tinggi nilai dan martabat prikemanusiaan yang bersifat hakiki dan universal sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bagian yang integral dari masyarakat dunia. Begitu pula sifat Partai Demokrat yang terbuka untuk semua warga negara Indonesia tanpa membedakan suku bangsa, profesi, jenis kelamin, agama. Dengan acuan inilah kelompok kelompok yang akan bertarung dalam Musda nanti merupakan bagian yang tak terpisahkan. Satu untuk semua, semua untuk satu. yang pada gilirannya menjadi kekuatan Partai Demokrat. 
Smith and Lindeman mengatakan salah satu hakikat demokrasi adalah berlakunya secara parsial berbagai keinginan. Pernyataan ini mengandung arti bahwa pluralisme pada hakekatnya adalah satu segi prinsipil demokrasi, sehingga demokrasi memang memerlukan kesediaan bentuk bentuk tertentu kompromi yang berprinsip yang terkandung didalamnya kesanggupan menerima perbedaan. Mengakomodir perbedaan perbedaan yang ada serta meminimalisir sikap skeptis para kandidat serta kader, pelaksanaan Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara Tahun 2006 perlu dibingkai oleh aturan aturan main yang jelas. Sehingga pelaksanaan Musda ini bukan hanya sekedar ajang pemilihan top leader Partai Demokrat Sulawesi Utara atau sebagai alat legitimasi kader atau kelompok tertentu. Tapi yang paling urgen Musda I Partai Demokrat Sulawesi Utara kita jadikan momentum mengokohkan konsolidasi demokrasi. Didalamnya membutuhkan rekonsiliasi dimana persaingan politik didudukan pada tempatnya tanpa saling membenci juga memerlukan kesediaan melakukan bentuk bentuk kompromi tertentu tanpa melanggar prinsip etika organisasi. Seperti memformulasikan kepengurusan hasil kolaborasi segenap komponen dan elemen Partai Demokrat serta adanya elaborasi kepengurusan yang proporsional sesuai kapasitas, kapbilitas serta kredibilitas masing masing kader partai. Dengan demikian pada gilirannya komitman bersama mengkonstruksikan Partai Demokrat menjadi partai kader yang modern akan tercapai. Dan Partai Demokrat yang dulunya dipandang sebagai partai alternatif kedepan akan menjadi partai solusi untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.Partai Demokrat,…Jaya,…


Penulis
Pengurus Angkatan Muda Demokrat Indonesia (A M D I) Minahasa Selatan

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin