|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Muda-mudi Bali ciuman masal
Cewek Malu, Cowok Nafsu
|
Ciuman (omed-omedan) ma-sal para muda-mudi di Bali, di-gelar Jalan Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar, Jumat (31/03) kemarin. Acara tradisi ini di-saksikan ribuan orang, terma-suk turis mancanegara.
Tapi ciuman di depan umum masih merupakan hal yang tabu bagi sebagian masyarakat bang-sa ini. Tidak terkecuali gadis Ba-li yang mengikuti tradisi omed omedan. Sebagian gadis itu ma-lu-malu saat harus berciuman. Namun lainnya santai saja.
Ketua Sekeha Teruna Teruni
(Karang Taruna) Desa Sesetan, Luh Novi Larasanti yang men-jadi peserta omed-omedan me-ngaku sudah tidak malu lagi berciuman saat omed-omedan. Gadis itu sudah enam kali mengikuti omed-omedan.
“Ya nggak tahulah ya. Habis sembahyang tadi malunya su-dah hilang,” kata Luh saat dita-nya apakah tidak malu berciu-man dilihat banyak orang seperti dikutip detik. Luh mengaku da-lam omed-omedan itu dia berciu-man dengan pacarnya sendiri. Gadis itu berjodoh dengan pa-carnya itu lewat omed-omedan yang dia ikuti dua tahun lalu.
Perempuan Bali itu mengaku tidak keberatan ciuman di depan umum karena ciuman itu merupakan tradisi yang per-lu dilestarikan. “Kalau ciuman di sini sebagai perekat persau-daraan sesama warga Banjar,” ceritanya.
Sementara Kadek Dedek Wi-rawan mengaku sengaja pulang kampung untuk ikut omed- omedan. Pria yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Semarang, Jawa Tengah itu sudah tiga kali ikut ritual hot itu. “Tapi baru kali ini dapat cium bibir,” katanya pria yang belum punya pacar itu bangga. Bagi Kadek, mengikuti omed-omedan merupakan kebanggaan ter-sendiri sebagai warga Banjar. Ada kenangan tersendiri dan ada keistimewaan,” katanya.
Sejumlah peserta lainnya me-ngaku omed-omedan hanya permainan yang tak perlu dilebih-lebihkan. Di hari-hari biasanya, muda-mudi Banjar biasanya tidak berani mela-kukan ciuman di depan umum. “Nggak apa-apa ini kan tradisi,” kata Putu Hendra.
Setelah sembahyang, peserta omed-omedan yang perempuan dikumpulkan di sebelah selatan Jalan Banjar Kaja. Sementara yang laki-laki di sebelah utara. Setelah berkumpul di kelom-poknya masing-masing, para peserta memilih satu orang perwakilannya yang akan maju untuk berciuman. Peserta yang terpilih kemudian dipegangi ramai-ramai oleh kelompoknya masing-masing.
Bila kebetulan yang jadi per-wakilan adalah pasangan pacar atau sudah kenal, mereka lang-sung didorong ke depan untuk mulai berciuman. Namun bila belum kenal, kandidat ciuman diangkat ke udara untuk me-lihat lawan yang akan dicium-nya. Kalau sudah siap, peserta mengajukan jempolnya baru kemudian didorong ramai-ra-mai ke depan untuk berciuman. Setelah diguyur air ganti satu pasangan lainnya dan bergan-tian terus sampai peserta habis. Meski bersedia ikut omed-ome-dan, tak berarti perempuan Banjar itu bisa dengan santai melakukan ciuman di depan umum. Banyak perempuan yang malu-malu dan menolak dicium saat tiba gilirannya maju ke depan.
Peserta perempuan yang ogah dicium itu akan menutup mu-kanya sampai lari-lari menjauhi si cowok yang akan mencium-nya. Kalau yang terjadi hal de-mikian para orangtua yang bertugas mengakhiri ciuman dengan guyuran air terpaksa turun tangan. Peserta yang me-nolak dipegang erat-erat dan mukanya disodorkan lawan jenisnya untuk dicium. Men-dapat paksaan itu, sejumlah peserta biasanya berteriak-teriak dan ada juga yang me-ringis menahan tangis.
Namun setelah guyuran air se-bagai tanda ciuman selesai me-reka pun sudah melupakan pe-ristiwa itu. Seperti tak ada ke-jengkela ataupun dendam, me-reka bergabung lagi mendorong teman-temannya yang akan mendapat giliran melakukan aksi cium. “Cowok-cowoknya nafsu sekali ciumnya, kasihan yang cewek,” kata Putu Srihar-tati, gadis yang baru menonton omed-omedan untuk pertama kalinya itu. Meski begitu, ia tidak setuju tradisi itu dihapuskan jika Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan.(dtc)
|
|