HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

03 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Pemanasan Global; Menanti Bumi Tenggelam!
Oleh: JR Pahlano DAUD (Bagian V)


Efek rumah kaca terbentuk terutama dari gas karbondiok-sida (CO2) yang dihasilkan pembakaran bahan bakar fosil, pembangkit listrik, pabrik, kendaraan bermotor, polusi, dll (belum lagi jika ditambah penipisan ozon) menyerap radiasi panas yang dipantul-kan bumi dari yang seharus-nya dilepaskan ke ruang ang-kasa. Data terkini yang di-ambil NOAA dari Pegunungan Rocky-AS menunjukkan bah-wa kadar CO2 meningkat se-cara signifikan. Konsentrasi polutan di atmosfer bahkan mencapai rekor tertinggi sebe-sar 381 part per million (ppm). 100 ppm lebih tinggi selama sejuta tahun, kemungkinan 30 juta tahun dari ketika rata-rata masa praindustrialisasi bumi dimulai. Tahun 2005 lalu, terjadi kenaikan yang sangat besar mencapai 2,6 ppm. Angka ini sangat mengkhawa-tirkan dan menjadi patokan baru bagi ilmuwan di seluruh permukaan bumi. Rata-rata kenaikan dalam 30 tahun ter-akhir sangat pesat dan yang menjadi kecemasan adalah kita tidak tahu pada angka berapa titik balik kandungan polutan CO2 di atmosfer (Nature, 2005, BBC News). Andaikan emisi karbondioksida menjadi makin tinggi, maka bencana akan terjadi lebih cepat, namun apabila kita bisa mengu-ranginya, maka proses terse-but akan menjadi lebih lambat. 
Sejak ditandatanganinya Protokol Kyoto pada tahun 1997 (satu-satunya kesepakatan internasional untuk mengu-rangi gas rumah kaca), berbagai negara dunia telah berko-mitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. 16 Februari 2005, Protokol Kyoto yang diratifikasi 161 negara mulai berlaku menetapkan negara-negara industri agar mengurangi emisi global sebe-sar 5.2 persen di bawah ting-kat emisi tahun 1990 dalam jangka waktu 2008-2012. Na-mun kesepakatan itu mengha-dapi tantangan besar dan tidak diindahkan Amerika Serikat, produsen karbondioksida terbesar dunia. Hanya AS dan Australia yang menolak ikut demi kepentingan ekonominya. Di samping itu, negara ber-kembang seperti Cina dan In-dia kelihatan turut mengham-bat pelaksanaan Protokol Kyoto. Indonesia yang belum diha-ruskan ikut memangkas emisi pun sepantasnya mengambil langkah kontributif dalam upaya memperlambat pemana-san global. Namanya saja pema-nasan global, sehingga upaya penanggulangannya pun harus bersifat global, oleh seluruh war-ga dunia. Kejadian-kejadian klimatik yang ekstrem akibat pemanasan global pasti menye-babkan biaya sosial-ekonomi yang tinggi, terutama hancur-nya sumber pangan manusia. Merugikan dunia di segala sendi kehidupan. Dengan tanda-tan-da alam yang jelas, tiba saatnya semua bersatu melawan pe-manasan global, keterlamba-tan melakukan hal ini akan melahirkan petaka di masa depan.
Tidak berbeda jauh dengan apa yang digambarkan film ‘The Day After Tomorrow’ karya Roland Emmerich. Sebuah gambaran “kiamat dunia” yang datang karena ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya, mempengaruhi seluruh negara dan bangsa. Badai topan dan tornado, hujan batu es, es di kutub meleleh, naiknya per-mukaan air laut, jaman es penuh kebekuan datang kembali. Pelepasan gas CO2 yang memanaskan suhu secara global, pecah dan melelehnya dataran/gunung es di kutub dan perubahan pergerakan arus udara dan air laut saat ini sudah dan sedang terjadi. Berbagai bukti dan fakta di sekitar kita yang diuraikan sebelumnya hanya-lah sebagian kecil dari hasil-hasil penelitian berbagai ilmu-wan dunia mengenai pemana-san global. Kecenderungan ini patut dipikirkan setiap orang, sebab mencair dan menyusut-nya es dan naiknya permu-kaan air laut, bertambah he-batnya badai, dan sejenisnya adalah tahap awal dari dam-pak yang lebih besar yang ke-lak akan dihadapi oleh setiap orang di bumi. Tidak berlebi-han, jika dikatakan bahwa manusia memang mencipta-kan kiamatnya sendiri, dan hal ini sesuai pula dengan nu-buatan Alkitab mengenai akhir zaman. Refleksi yang sangat penting saat ini tentang ba-gaimana kita telah memperla-kukan lingkungan dan alam kita sendiri. Berlomba larut dalam dosa tidak hanya terha-dap sesama manusia, namun terhadap alam ciptaan Tuhan. Kita telah melihat efek ketidak-nyamanan pada tubuh kita dan kerusakan di sekitar kita. Sudah cukup untuk tidak ambil pusing masalah ini, dan sudah saatnya bertindak walau dari hal sekecilpun. Reserve, reuse, recycle dan replant lingkungan kita dan selalu ingat untuk mencintai karya ciptaan Tuhan.
(Penulis adalah Mahasiswa Graduate School of Science ‘Marine Biology’, Kyushu University-Japan, Member of Japan Ecological Society

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin