|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Aksi blokir Depot Pertamina disesalkan warga
Ulah 150 Orang, Lumpuhkan SPBU se-Sulut
|
Hanya karena ulah sekitar 150 orang yang berunjuk rasa sambil memblokir jalan masuk ke Depot Pertamina Bitung, mengakibatkan ribuan warga se-Sulut dirugikan. Pasalnya, demo itu berimbas lumpuhnya SPBU-SPBU yang ada di seluruh kabupaten/kota di daerah ini, sehingga memicu antrian panjang kendaraan di lokasi-lokasi pengisian BBM.
Demo itu sendiri dilakukan oleh anggota keluarga yang mengklaim ahli waris Dotu Simon Tudus. Mereka memblo-kir jalan masuk depot sejak Se-nin (03/04) malam pukul 21.00 WITA hingga Selasa (04/04) Pukul 19.00 WITA kemarin.
Akibatnya, sekitar 80-an tanki pengangkut BBM dari sembilan kabupaten/kota sejak Pukul 4 pagi kemarin yang sudah stand by, tidak bisa beroperasi. Truk-truk itu tidak bisa masuk lokasi pengisian di depot karena pen-demo telah mendirikan tenda di gerbang masuk-keluar depot.
Nanti saat Kapolda Sulut, Dan-rem 131 Santiago dan Asisten II
Pemprop Sulut meninjau De-pot Pertamina Bitung, akhirnya massa ahli waris yang diko-mandani Ny Theresia Langelo membubarkan diri setelah mendapat pengarahan.
Sebelumnya, saat demo ber-langsung siang hari, Kapolres Bitung, AKBP Aridan Roeroe saat ditemui wartawan menga-takan, pihak ahli waris sudah memberitahukan aksi terse-but. Tapi pihaknya mengata-kan tidak boleh, sebab hal ter-sebut bisa dikategorikan me-langgar hukum. “Sebab ini bisa mengganggu hajat hidup orang banyak, jadi kepentingan umum harus didahulukan bu-kan pribadi atau golongan. Yang dikejar pada aksi boikot ini kan masalah uang sewa, dan jika bicara uang sulit untuk diatasi apalagi ini adalah hak keluarga yang sudah ada kepu-tusan hukum tetap dari Mah-kamah Agung,” jelas Roeroe.
Di pihak ahli waris sendiri da-lam orasinya yang disampai-kan Ny Theresia Langelo me-ngatakan, pihaknya tidak akan beranjak sebelum Pertamina dan Pemprop Sulut membayar hak keluarga sebagaimana amar putusan MA sekitar Rp 1,8 miliar. “Ini yang terakhir dan harus tuntas. Mengapa pe-merintah dan Pertamina ber-sikap tidak adil. Baru saja diblokir sehari sudah ribut, coba bayangkan kami keluarga dirugikan selama 40 tahun tidak diperhatikan. Jadi kesim-pulannya, satu-satunya cara adalah menduduki depot sam-pai hak kami dipenuhi,” te-riaknya.
Situasi sempat memanas saat puluhan sopir terlihat sudah tak sabar. Tak heran mereka mendekatkan kendaraan me-reka sambil membunyikan klakson mendekati dua tenda ahli waris. Untung saja tak ter-jadi keributan karena petugas langsung mengatasinya.
Kepala Cabang Pertamina Manado, Basuki Trikoraputra didampingi Kepala Depot Pertamina Bitung, Rachwono dan Humas Pertamina Manado, Fred Tewu saat ditemui menga-takan, sejak diblokirnya pintu masuk depot, distribusi BBM belum tersalur satu persen pun. “Jika hal ini terjadi 1 X 24 jam yang sangat dirugikan adalah Sulut sendiri,” ungkapnya.
Buktinya, dari pemantauan koran ini, seluruh kabupaten/ kota, SPBU-SPBU langsung kosong akibat suplai minyak tidak masuk. Imbasnya, an-trian panjang pun terjadi, dan kemacetan tak terelakkan. ‘’Ini namanya demo gila. Mereka demo tapi tidak memper-hatikan kepentingan umum,’’ keluh Donny, seorang sopir di Manado.
Pernyataan bernada emosi juga disampaikan salah satu sopir mengaku bernama Didi. ‘’Tangkap saja mereka, karena sudah bikin susah banyak orang. Kalau mau demo sila-kan, tapi jangan halangi suplai BBM sehari-hari.’’
Sementara masih dari Bi-tung, Pertamina sendiri menje-laskan, soal tuntutan sewa lahan Rp 1,8 M sudah dibicara-kan antara petinggi Pertamina di Jakarta dengan Gubernur Sulut SH Sarundajang. “Jadi ini hanya masalah waktu. Lagi-pula siapa yang menjamin jika Rp 1,8 M sudah terbayar lalu tidak ada gugatan lagi. Padahal tanah ini milik pemprop yang diserahkan ke Pertamina untuk dibangun depot. Tapi akhirnya menjadi begini siapa yang sangka,” ungkap pejabat Pertamina Bitung.
Walikota Bitung Hanny Son-dakh sendiri mencoba melaku-kan langkah pendekatan de-ngan pihak ahli waris, baik pagi dan sore hari tetapi tidak ada titik temu. Namun saat di-hubungi Komentar Pukul 19.15 WITA, Sondakh mengatakan pihak keluarga ahli waris sudah membubarkan diri.
“Lagi pula soal depot ini se-mentara dibahas oleh Muspida Sulut malam ini (tadi malam, red). Pihak Pemkot Bitung inti-nya akan mendukung dan siap membantu sebab bagaimana-pun juga Depot Pertamina Bi-tung adalah milik negara yang perlu penanganan serius se-mua pihak,” tukasnya.
Kabag Tapem dan Humas Pemkot Bitung Rahel Rotinsulu SSTP saat menghubungi Ko-mentar mengatakan usai mas-sa membubarkan diri pukul 7 malam, aktivitas pelayanan pendistribusian BBM kembali berjalan normal. “Aktivitas depot berjalan normal kemba-li, truk-truk sudah mulai me-ngisi kebutuhan BBM yang akan disalurkan ke masyara-kat,” kata Rahel yang saat itu berada di Depot Bitung.
Kacab Pertamina Manado, Besuki Trikoraputra mengata-kan pihaknya akan menyalur-kan semua jatah yang tertunda distribusinya. “Untuk premium 550 KL, Solar 600 KL, Minyak Tanah 400 KL dan Avtur 80 KL. Ini akan disalurkan malam ini juga (kemarin malam, red),” katanya.
Sementara itu, sejak tadi malam, sejumlah SPBU sudah mulai melayani pengisian BBM. Meski begitu, antrian masih terjadi, karena banyak kendaraan sudah parkir di SPBU sejak siang hari.(irv/tim)
|
|