HOME : FOOTBALL

Headlines News  

05 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Solusi Penyakit Akut Birokrasi


Komunikasi yang santun, merupakan cerminan dari ke-santunan kepribadian kita.
Birokrasi yang santun, siapakah yang menginginkannya? 
Komunikasi diibaratkan se-perti urat nadi penghubung ke-hidupan, sebagai salah satu ekspresi dari karakter, sifat atau tabiat seseorang untuk saling berinteraksi, mengidentifika-sikan diri serta bekerja sama. Kita hanya bisa saling mengerti dan memahami apa yang dipi-kirkan, dirasakan dan dikehen-daki orang melalui komunikasi yang diekspresikan dengan 
menggunakan berbagai saluran baik verbal maupun non-verbal. Pesan yang ingin disampaikan melalui komunikasi, bisa ber-dampak positif bisa juga sebalik-nya, tergantung dari efektif tidak-nya penggunaan saluran komu-nikasi itu sendiri. 
Dalam konteks kodrati “manu-siawi”, komunikasi akan lebih mendarat dan bernilai positif, jika para komunikan mengetahui dan menguasai teknik berko-munikasi yang baik, santun dan elegan. Namun, kesantunan ber-komunikasi sepertinya masih sering menjadi “barang langka” yang diimpikan banyak orang, te-tapi terkadang sulit dilakukan, termasuk oleh orang yang me-mimpikannya.
Konsep kesantunan komunika-si tidak hanya sekadar berkaitan dengan kehalusan tutur kata, te-tapi juga harus berangkat dari niat tulus yang diekspresikan dari ketenangan, kesabaran dan emphaty kita dalam berkomu-nikasi. Lakon komunikasi yang demikian akan menghasilkan komunikasi dua arah yang berci-rikan penghargaan, perhatian dan dukungan secara timbal balik dari pihak-pihak yang ber-komunikasi.
Komunikasi yang santun kini menjadi persoalan penting dalam berbagai strata masyarakat dan organisasi baik yang sederhana maupun modern. Birokrasi pun tak luput dari tuntutan kebutu-han tersebut, karena birokrasi mengusung tugas mulia sebagai pelayan masyarakat [public ser-vants]. Dalam keseharian eksis-tensi birokrasi, masih sering di-jumpai sejumlah hal yang “men-cemaskan” dari perilaku komuni-kasi yang kurang santun. Etika komunikasi sering terpinggirkan, karena kesantunan belum mem-budaya sebagai urat nadi kehi-dupan organisasi. Banyak realita yang membuktikan kekecewaan masyarakat yang berurusan de-ngan birokrasi, karena kualitas pelayanan yang belum berpers-pektif pelanggan dan masih jauh dari kesan memuaskan. Kondisi ini sangat berbeda jika berurusan di kantor-kantor swasta yang lebih ramah dan memuaskan. 
Kendala komunikasi pun sering berlangsung di dalam internal tubuh birokrasi baik vertikal maupun horisontal. Tak sedikit dijumpai hubungan komunikasi antar sesama staf maupun antara atasan dengan bawahan yang sangat “kaku”. Atasan sering membangun tembok pe-misah struktural yang justru me-nyumbat saluran komunikasi, sementara ada pula staf yang sering mengabaikan etika dan over acting dalam berkomunikasi dengan atasan.
Akibatnya, berkembang prak-tik komunikasi yang sentralis dan top down (dari perspektif pimpinan), serta komunikasi “asal bapak senang” (dari perspektif staf). Inilah dua penyakit “akut” yang meng-gerogoti proses komunikasi organisasi birokrasi. Bisa diba-yangkan, jika dianalogikan de-ngan tubuh manusia, dan ada satu saluran yang tersumbat, pasti mekanika tubuh akan terganggu.
Stephen Covey (2005) menge-mukakan, bahwa komunikasi merupakan keterampilan paling penting dalam hidup kita. Mungkin, seperti halnya berna-fas, banyak orang beranggapan bahwa komunikasi sebagai sesuatu yang otomatis terjadi, sehingga orang tidak tertantang untuk belajar berkomunikasi secara efektif dan santun. Karena itu, banyak orang mejadi malas belajar bagaimana menulis seca-ra efektif, bagaimana membaca dengan cepat dan efektif, bahkan bagaimana menjadi pendengar yang baik. 
Yang paling penting dalam komunikasi, bukan sekadar pada apa yang dikatakan, tetapi pada karakhter kita dan bagai-mana kita mentransfer pesan serta menerima pesan. Komuni-kasi harus dibangun dari diri kita yang paling dalam (etika kharakter) sebagai fondasi integritas yang kuat. Ini berarti bahwa kemampuan komunikasi harus dilatih, diasah dan dikem-bangkan melalui proses belajar terus menerus.
Kekuatan hubungan yang tercipta melalui komunikasi dalam lingkup birokrasi, harus dibangun dalam dua kondisi, yaitu : Pertama: Pemimpin harus berani berkomitmen untuk secara sadar menciptakan ruang dan kondisi, dimana komunikasi berlangsung efektif dan tidak tersumbat secara struktural ka-rena kekuasaan. Komunikasi efektif harus menghindari hal-hal seperti suka menghakimi, terlalu cepat menebak, mendengar atau menyampaikan pesan tidak secara utuh, bersikap emosi, ter-lalu memonopoli komunikasi. Pemimpin harus memperkuat keahlian komunikasi dan pembuatan keputusan dengan memberikan komitmen untuk mendengarkan secara intensif kata-kata orang lain, berusaha mengenali dan memahami de-ngan jelas kehendak kelompok, berusaha mendengarkan secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mendengarkan juga melampaui upaya mema-hami suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Pemim-pin yang baik akan menghargai perbedaan pendapat, menjadi pendengar yang baik, tidak bersikap defensif dan membuat bawahannya merasa penting. Jika perintah yang akan dialirkan bisa dikomunikasikan dengan santun, maka seorang pemimpin tidak perlu berteriak atau marah-marah dan menunjukkan arogansinya.
Kedua Bawahan (staf) juga harus mengembangkan diri untuk menguasai teknik berko-munikasi secara efektif, agar mampu meyakinkan pimpinan melalui kerja, mampu beradap-tasi dengan lingkungan kerja (sesama staf) serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada publik.
Dari uraian di atas, telah menunjukkan bahwa kemam-puan berkomunikasi secara santun dalam kapasitas individu sebagai pemimpin atau yang dipimpin, memiliki korelasi yang signifikan dengan peningkatan kemampuan hidup individu, terjalinnya hubungan yang harmonis, dialogis dan kon-struktif antar dan antara idividu, kelompok, organisasi dan peme-rintah. Peningkatan kemam-puan dan hubungan tersebut akan berimplikasi pada semakin terbuka dan mudahnya peluang untuk mewujudkan tujuan-tujuan individu, kelompok, organisasi dan pemerintah. 
Dalam titian karya peng-abdian kita diberbagai lahan kehidupan, etika yang beretos kerja hendaknya dijadikan tabiat. Kesediaan merendah, kerelaan menyelami kedala-man nurani sesama melalui keikhlasan mendengar, ma-rilah kita kedepankan untuk menyejukkan suasana dan meredakan berbagai amarah yang silih berganti menerpa keindahan ikatan kebe-ragaman masyarakat persada tercinta ini.(*)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin