|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Surat Ketua Yayasan AZR Wenas
Dinilai Lakukan
Pembusukan
|
Di kalangan warga GMIM kini ramai membicarakan soal surat Ketua Yayasan AZR Wenas Pdt Julianus Lefrand ‘Ecky’ Posumah STM, yang ditujukan kepada Badan Pekerja Sinode GMIM dan tembusan kepada ketua-ketua wilayah se-GMIM. “Isi surat itu sangat tendensius dan melakukan pembusukan terhadap seseorang,” ujar Pnt Martianus Baroleh MSi bersama komponen GMIM lainnya, kepada harian ini.
Protes yang sama datang pula dari Sekretaris Pria Kaum Bapa GMIM Pnt Ir Stefanus Liow, Pdt Roy Lengkong STh, dan Tommy Sumakul SH. Mereka menilai surat tersebut benar-benar tidak etis. Apalagi yang melakukannya adalah seorang pendeta.
“Dari surat yang bernada menyudutkan pribadi Pdt Richard Siwu itu, semakin jelas siapa-siapa aktor yang berada di balik kondisi GMIM saat ini,” ujar Tomy Sumakul.
Stefa Liow juga menambahkan, apa yang dituduhkan Pdt Posumah terhadap pimpinan PKB juga tidak memiliki landasan yang kuat. Begitu pula mengenai proses pergantian Rektor UKIT yang membawa Pdt Siwu terpilih sebagai rektor.
“Kalau mau bicara aturan, Pdt Ecky Posumah sendiri yang tidak tahu aturan. Karena dalam Tata Gereja, sudah disebutkan yang menjadi ketua yayasan adalah anggota BPS. Kalau ia mau jujur dan tahu aturan, seharusnya ia menolak untuk jadi ketua yayasan,” tutur Liow.
Sementara itu, surat Pdt Posumah yang membawa-bawa nama institusi Yayasan Wenas, ternyata tidak pula diketahui oleh para pimpinan yayasan lainnya. Drs Philep Regar MS sebagai salah satu pimpinan yayasan secara terpisah mengaku tidak pernah diundang untuk bicara soal surat tersebut. Apalagi surat itu hanya Pdt Posumah yang menandatangani. “Seharusnya kalau surat resmi yang mengatasnamakan yayasan, harus ditandatangani oleh sekretaris dan diketahui oleh seluruh pimpinan yayasan,” jelasnya. Demikian pula Pdt Kelly Rondo MTh yang mengatakan tidak tahu menahu dengan surat tersebut.
Pdt Ecky Posumah yang dikonfirmasi harian ini melalui telepon, mengatakan, biarkan saja surat itu beredar secara terbuka. Ketika dimintai tanggapannya mengenai isi surat tersebut, ia balik bertanya, apakah Komentar bertanya sebagai wartawan atau warga GMIM. Ketika dijawab, wartawan sekaligus warga GMIM, Pdt Posumah buruh-buruh mengatakan, “Maaf, saya ada tamu,” dan langsung menutup telepon.(jef)
|
|