|
|
|
![]() |
![]() |
|
Aditya Anugerah Moha, SKed
Berkah Terindah Buat Butet dan Bolmong
|
TUJUH tahun menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Aditya Anugerah Moha yang akrab disapa Didi akhirnya sukses mempersembahkan yang terbaik buat kedua orang tuanya, Hi Syamsudin Kudji Moha BBA dan Dra Hj Marlina ‘Butet’ Moha Siahaan. Persembahan putra sulung Bupati Bolmong bukan berupa materi atau uang, melainkan dua kata yakni ‘Sarjana Kedokteran’ (SKed).
Ya, Didi berhak menyandang gelar tersebut, setelah melewati ujian meja hijau, Selasa (04/04) kemarin dengan nilai yang cukup menggiurkan, A Plus (94). Sebuah prestasi membanggakan, barangkali seperti prestasi Ibundanya yang baru-baru ini ditetapkan KPUD sebagai bupati Bolaang Mongondow terpilih dengan menyabet jumlah suara yang spektakuler pula. Tentu ini menjadi berkat terindah khususnya buat pasangan Butet dan Kudji, bahkan rakyat Bolmong pada umumnya..
Namun sukses itu, aku Didi, bukan diraih begitu saja, melainkan lewat perjuangan yang keras dan penuh liku. Terkadang ada suka, terkadang duka. “Dinamika kuliah itu benar-benar terasa selama studi di Faked Unsrat. Saya sempat mengalami pasang surut, dalam hal ini terjadi pembagian segmen ketika saya harus mengurus kuliah, organisasi dan bisnis. Akibatnya, ya saya pernah juga merasakan bagaimana mendapat nilai A plus, tapi kadang juga mendapat nilai D plus,” aku dia sambil berkelakar.
Didi memang sibuk, sebab selain kuliah, dia juga aktif berorgaisasi. Sampai sekarang dia menjabat Wakil Ketua KNPI Sulut dan Wakil Ketua 1 BKPRMI Sulut. Dalam dunia bisnis, kakak kandung dari Muhamad Maulana Bayu Moha ini juga menjadi Direktor of DC Group yang membidangi DC Productin, DC FM dan DC TV.
Tertarik di politik? “Saya rasa itu merupakan langkah yang spektakukler kalau harus terjun ke politik. So saya memutuskan untuk tetap konsen pada bidang saya. Bagi saya, yang penting tahu saja soal politik, tapi tidak perlu harus terjun di dalamnya,” jawabnya.
Namun begitu, Didi mengakui, penyelesaian studinya sempat terganggu karena dinamika politik. Terbukti, ketika menyadari orang tuanya harus bertarung di suksesi Maret lalu, dia terpaksa menunda jadwal ujian skripsi yang mulanya diagendakan 14 Maret. “Saya akui, bulan Maret adalah puncak ketegangan dan kesibukan saya dalam studi. Di satu sisi saya harus berpikir tentang ujian skripsi, tapi di sisi lain, saya memikirkan suksesi. Memang tegang juga, tapi saya berusaha untuk tetap tenang,” katanya.
“Syukur Alhamdulillah saya bisa melewati semua tantangan itu. Dan gelar ini saya persembahkan khusus buat Ayahanda dan Ibundas tercinta. Karena tanpa kedua orang tua, saya tidak bisa berdiri sendiri, tegar seperti ini,” aku Didi mengakhiri.(*/tus)
|
|