HOME : FOOTBALL

Berita Kota Manado dan Sekitarnya 

06 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Menengok Eksploitasi 
Pekerja Anak di Kawasan Megamas

 
ANAK adalah mahkota keluarga. Karenanya setiap orangtua wajib untuk memberikan yang terbaik bagi perkembangan dan masa depan anak-anak mereka. Namun apa yang terjadi di Kawasan Megamas justru memberikan potret lain dari pengakuan ini.

Malam itu, saya bersama sejumlah teman bermaksud melepaskan kepenatan sehabis kerja di belakang Kawasan Megamas. Kami pun memilih bersantai di salah satu rumah makan di kawasan tersebut sambil menikmati makan malam bersama. Ketika kami sedang menikmati lezatnya nasi goreng spesial, tiba-tiba dua orang anak datang menghampiri kami sembari memohon belas kasihan kepada kami. “Om minta uang seribu om. Soalnya kita mo pulang mar nyanda ada doi,” ungkap ke-duanya agak bersamaan.
Mendapat sapaan dari tamu tak diundang ini, kami pun akhirnya menghentikan sejenak aktivitas makan. Tanpa tedeng aling-aling saya mencoba melontarkan sejumlah pertanyaan untuk mengorek tentang alasan keberadaan mereka. Dan kedua anak yang masing-masing bernama Vera (8) dan Donny (9) tahun ini me-ngatakan segala sesuatu dengan polosnya. “Torang tinggal di Tuminting om. Torang pe orangtua ada suruh datang di sini for minta-minta doi pa orang-orang di sini for mo beli beras,” ungkap Donny.
Pernyataan anak-anak ini sempat menga-getkan kami. Kami justru tak menyangka bah-wa di balik kemegahan Kawasan Megamas
tersembunyi kegiatan eksploi-tasi pekerja anak. “Apa cuma ngoni dua yang beking bagini di sini?” tanya kami. “Banyak orang om. Dorang lain ada batagih di sana. Dorang dari Singkil deng ada yang dari Tikala. Dorang sama deng torang, orangtua ada suruh,” ujar Donny menjawab perta-nyaan kami.
Dari dari mulut anak-anak ini juga terungkap pengakuan bahwa oleh orangtua mereka melarang mereka untuk bersekolah, melainkan mem-bantu orangtua mencari uang. “Torang suka no mo sekolah mar torang pe orangtua suruh torang minta-minta di tampa rame. Jadi torang dari pagi sampe malam datang di sini. Nanti kalau so malam torang pe papa atau mama datang ambe,” paparnya.
Kong apa kerja papa deng mama?” tanya kami. “Nyanda kerja om. Dorang cuma di rumah. Papa cuma tidor-tidor, kong malam bermain kartu. Mama cuma di rumah,” kata mereka. Haruskah memang anak-anak yang jadi korban? (simon) 

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin