|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Kontroversi elit GMIM
Solusi Satu-satunya Adakan Sidang Sinode
Istimewa
|
Pertikaian antarpendeta dengan masing-masing pendukungnya di lingkungan GMIM, sudah menjurus pada tingkat perpecahan. “Jadi jalan keluar satu-satunya adalah mengadakan Sidang Sinode Istimewa, dengan mengagendakan pergantian pucuk pimpinan, namun tetap dalam tuntunan dan lindungan kasih Tuhan,” ujar Toar Palilingan SH, warga GMIM yang mengaku prihatin dengan elit GMIM saat ini.
Menurut, Toar usulannya ini didasarkan karena persoalan yang melilit GMIM saat ini tidak mampu diatasi oleh ketua sinode, bahkan ketua sinode sendiri yang terlibat dalam persoalan. “Jadi dengan semangat yang berlandaskan kasih TuhanYesus, sudah saatnya GMIM bangkit dan sadar, bahwa mencampuradukkan kegiatan pelayanan dengan kegiatan-kegiatan sekuler, hanya akan membawa jemaat pada jalan yang sesat. Jadi, tema ‘Berubahlah Budimu’ jangan hanya slogan tanpa makna,” katanya.
Ia menambahkan, di satu sisi BPS berupaya mencari solusi terbaik, tapi di satu sisi surat ketua yayasan AZR Wenas dapat membuat keresahan jemaat. Menurut anggota RBPSL Wilayah Kawangkoan I Pnt Febry Suoth, surat itu mencerminkan ketidakmampuan seorang pemimpin. Karena dua keputusan prinsip yang dibuatnya, yaitu pelantikan rektor dan surat yayasan Wenas yang bersifat pribadi, karena tidak diketahui pengurus yayasan lainnya. Lagi pula pengurus YPTK yang menetapkan Pdt RAD Siwu sebagai rektor bukan orang sembarangan. Selain ada dua teolog, yaitu Ketua Komisi Tata Gereja Pdt F Sumerah STh dan Pdt HWB Sumakul PhD, juga terdapat sejumlah akademisi senior seperti Pnt Prof Dr ventje Ranutng dan Dr Decky Walalngi MS, serta para praktisi hukum, yaitu James Karinda SH.
Hal senada disampaikan Pnt Drs Denny Rompas MSi yang intinya ikut mengkritisi produk-produk kebijakan BPS dan yayasan Wenas.
Sementara itu banyak kalangan GMIM yang juga memintakan agar persoalan seputar GMIM dilakukan coolingdown. “Saya kira dengan coolingdown, kita harapkan akan ada komunikasi yang baik secara intern di antara pimpinan BPS dan juga yayasan. Jadi biaralah mereka mengambil kebijakan intern dulu,” tutur Jopie Worek.
Namun kalangan lain bernada sebaliknya. Menurut Pnt Rein Jan Tumilaar, bagaimana BPS dan pimpinan GMIM lainnya, meminta coolingdown, kalau mereka sendiri terus saja membuat keputusan-keputusan yang memanaskan warga GMIM.
Bahkan menurut Judi Turambi SH, melihat kondisi GMIM saat ini, memang sebaiknya wacana pemekaran Sinode GMIM diwujudkan, di mana setiap kabupaten/kota di Tanah Minahasa membentuk sinode masing-masing, meskipun tetap dalam satu sinode am GMIM. “Dan itu bisa diajukan dalam Tata Gereja yang sedang dibahas untuk direlevansikan,” ujar Turambi.(jef)
|
|