|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Khotbah Terakhir(2)
Oleh: (Alm) SPB Roeroe
|
Kemarin (06/04), jenazah Dr (HC) SPB Roeroe SH MBA dimakamkan. Sosok pelayan Tuhan yang juga abdi masya-rakat di bidang hukum dan legislatif ini dipanggil Tuhan ketika sedang berkhotbah pada Ibadah Minggu (02/04) di Jemaat GMIM Pniel, Tomohon. Berikut sambungan tulisan khotbah terakhir yang dikutip dari catatan tangan almarhum dalam sebuah buku tulis kecil.
Sidang Jemaat Maha Tuhan!
Reaksi pertama yang timbul akibat merasa ditinggalkan adalah perasaan bingung tak menentu. Kita merasa kosong dan bengong, “Betulkah dia su-dah pergi? Mengapa dia pergi? Betulkah aku ditinggalkan? Mengapa aku ditinggalkan?”
Pada tahap itu kita bagaikan mati rasa. Kita belum merasa sakitnya, kita ibarat pasien dokter gigi yang disuntik mati rasa supaya cabut gigi itu tidak menyakitkan. Kita tidak tahu bahwa gigi kita dicabut sampai ke akarnya. Kita tidak tahu bahwa gusi kita berlumuran darah. Kita belum merasakan sakitnya, beberapa jam kemu-dian barulah sakitnya itu terasa.
Begitulah juga dengan pera-saan ditinggalkan, belum ter-pikir dalam benak apa dampak dan akibat yang akan menimpa kita kelak.
Baru kemudian akan timbul rupa-rupa rasa pedih dan perih yang tadi digambarkan oleh pemazmur; berantakan, remuk, ambruk, hancur luluh, letih lesu, layu, tercekik, betul-betul tak berdaya.
Dapatkah kita terhindar dari penderitaan itu? Tidak!
Derita ditinggalkan dan ke-hilangan adalah bagian dari cinta. Kita mencintai dan di-cintai, kita memiliki dan di-miliki, tetapi itu tidak berlang-sung abadi.
Segala sesuatu ada akhirnya, jika kita tidak mau menderita sedih dan pedih, itu sama se-perti kita tidak mau mencintai dan dicintai.
Kita menikmati cinta, sebab itu pada suatu hari kelak kita harus bersedia membayar harganya cinta, yaitu sedih dan pedih karena berpisah dengan apa yang kita cintai. Itulah harga sebuah cinta.
Sidang Jemaat Maha Tuhan!
Jika orang yang kita cintai itu berharga, kita pun harus rela membayar cinta itu sesuai dengan harganya. Kerelaan membayar itu terwujud dalam cara kita menangani rasa sedih dan pedihnya.
Kita bukan menutup-nutupi dan menyangkal rasa sedih itu, namun bersedia mengakui dan menanggungnya. Kita bukan tergesa-gesa ingin keluar dari sedih itu, melainkan bersabar menyediakan waktu untuk menempuh proses jangka pan-jang kesedihan itu menuju pe-mulihan sedikit demi sedikit. Kita bukan menolak derita sedih ini, melainkan ikhlas me-nanggungnya.
Cara mengolah rasa kehila-ngan seperti itu memakan waktu dan menyakitkan, na-mun lambat laun kita justru jadi semakin menghargai apa atau siapa yang kita cintai itu.
Ini suatu contradictions ter-minus cinta; artinya; suatu perbantahan akhir dari cinta. Semakin kita mencintai dia, semakin ikhlas pula kita menanggung derita sedih dan pedih akibat ditinggalkan dan kehilangan dia.
Sidang Jemaat Maha Tuhan!
Cinta terdiri dari dua sisi ber-beda; yaitu gelak tawa, senang, dan bahagia, tapi disatu sisi adalah air mata, susah dan se-dih. Karena cinta bukan hanya mendekap atau memeluk, me-lainkan juga melepaskan.
Cinta bukan hanya menatap atau melihat lalu berkata: “Aku cinta padamu”, melainkan juga meratap atau menangis sambil tersendat-sendat berkata: “Me-ngapa Engkau meninggalkan aku?”
Itulah sebabnya pemazmur tadi meratap, sambil berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mazmur 22:2)
Setelah ucapan ratapan pe-mazmur ini, kemudian bebera-pa ratus tahun kemudian, ka-lau kita hitung mundur kebe-lakang dari sekarang terjadi kurang lebih 2000 tahun lalu, ratapan pemazmur ini meng-gema di langit mendung saat itu diatas bukit Golgota.
Dalam segala kesakitan ka-rena luka-luka akibat disiksa di luar batas perikemanusiaan dan dipaku di kayu salib, se-orang lelaki muda bernama Yesus, meratap ke awan-awan gelap gulita di tengah hari sambil berkata-kata dengan suara terputus-putus; “Allah-ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34).
Drama kematian Yesus Kris-tus di kayu salib di atas bukit Golgota yang telah terjadi ku-rang lebih 2000 tahun lalu itu-lah, yang saat-saat ini sebagai Umat Kristiani generasi kita boleh hidup dan berada karena penebusan dosa, sementara memperingatinya kembali.
Pesan firman yang dapat kita ambil dari peristiwa ini sambil menatap dan berjalan ke depan mengarungi kehidupan yang masih penuh dengan berbagai macam tantangan yaitu: Apa-bila kita menjadi seorang pe-mimpin yang mengandalkan Tuhan bukan berarti beban dari tantangan. Tantangan boleh datang dari atasan ataupun da-ri rakyat.
Contohilah teladan Nabi Musa dalam pembacaan Alkitab tadi Keluaran 5:1-24 mengingatkan kita sebagai pemimpin agar tetap konsisten, mengandalkan kuasa Allah dalam menyeleng-garakan tugas dan tanggung jawab.
Pemimpin bekerja dengan baik apabila memperjuangkan hak rakyatnya dengan pantang menyerah. Pemerintah yang bertanggung jawab adalah pemimpin yang peka dengan keluhan rakyatnya.
Realita kehidupan masa kini banyak pemimpin yang hanya memperjuangkan haknya sendiri.
Kesengsaraan rakyat tidak diperhatikan, kenaikan BBM, tingginya biaya pendidikan, tidak memadainya fasilitas umum untuk meningkatkan SDM, daya beli masyarakat yang semakin melemah seiring dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, masih menjadi isu di mana-mana. Dan itulah menjadi tantangan hidup untuk kita atasi secara bersama-sama dengan cara antara lainnya memberantas segala bentuk penyelewengan yang terjadi di hampir semua taraf hidup bermasyarakat dan bergereja, sambil mengandalkan kuasa Tuhan Allah. Semoga Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
(Naskah disalin sesuai dengan tulisan tangan Almarhum Dr (HC) S.P.B. Roeroe, SH. MBA)
|
|