|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Mengintip kehidupan PKL di jalan Boulevard
Punya Dua Mikro, Per Hari Untung Jutaan Rupiah
|
SEBUTAN Pedagang Kaki Lima (PKL) jadi pantas disandang mengingat profesi mereka sebagai pedagang keliling. Kita mungkin kaget bila disodori fakta bahwa dari berjualan mereka bisa mendapatkan kesejahteraan yang setara bahkan lebih dari seorang kepala dinas sekali pun.
Malam itu, saya mencoba berjalan kaki menelusuri jalan Boulevard. Tepat di belakang Multimart, saya mencoba berhenti sejenak di samping salah satu gerobak makanan. Sesaat kemudian muncul seorang lelaki tua turun dari sebuah mikrolet dan duduk di sebuah kursi yang kebetulan berada di samping gerobak makan tersebut.
“So klar mencari om? Singgah makang dang ini,” tanya saya sekadar membuka pembicaraan. “Oh nda, cuma ingin lihat istri saya yang bajual di sini,” jawabnya singkat. “So lama bajual di
sini om?” tanya saya dengan agak hati-hati. Dan pria yang mengaku asal Jawa Tengah ini pun meng-angguk pelan. “Sudah dari tahun 80-an. Waktu itu kita bajual sen-diri, tapi karena so ada oto mikro jadi cuma maitua yang bajual. Nanti kalau so klar mencari baru kita bantu pa dia,” ujarnya.
Ia pun lantas berkisah, pada awalnya dengan modal yang yang sangat kecil ia mencoba ber-usaha seperti ini untuk meng-hidupi keluarganya yang sudah dikarunia tiga anak. Bahkan dirinya rela berjualan dari pukul 17.00 hingga 03.00 Wita. Dan ia pun sukses melewati banyak hambatan dan tantangan dalam usahanya.
“Berkat usaha ini, kita akhirnya bisa punya dua oto mikro. Satu kita pakai untuk mencari, satu lagi kita kase orang lain yang mencari, dengan setoran tiap hari Rp 80 ribu. Kita juga akhirnya bisa beli tanah seharga Rp 85 juta dan membangun rumah di situ,” tukasnya.
“Kong berapa pendapatan yang om dapa tiap hari dari usaha bajual ini?” tanya saya lebih jauh. “Kalau dulu kita pe penghasilan cuma Rp 500 per hari tapi sekarang tiap hari sudah satu juta lebih. Untuk mikro kita dapat minimal Rp 200 ribu tiap hari. Saya sangat bersyukur dengan pendapatan seperti ini karena saya bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak-anak saya. Ada yang sudah kerja tapi ada yang kuliah di Unsrat. Tapi kita tetap suka hidup se-derhana seperti ini,” paparnya.
Setelah berbincang-bincang dengannya, saya pun berpindah ke PKL yang lain dengan maksud yang sama. Dan ternyata kehi-dupan yang dialami Budi ter-nyata juga dialami sejumlah PKL yang lain yang memiliki profesi yang sama. Menariknya, mes-kipun memiliki hidup yang tergo-long wah bahkan boleh dikata melebihi kehidupan para pejabat pemerintahan, namun mereka memilih hidup sederhana dan tetap berprofesi sebagai PKL.
Seperti pengakuan Yono, salah seorang PKL yang sehari-hari berjualan nasi goreng. Pria yang sudah berusaha sejak umur 70 tahun ini akhirnya menikmati kehidupan yang kalau dikate-gorikan tergolong wah. Terbukti, selain pendapatannya yang men-capai satu juta rupiah setiap ha-rinya, Yono juga memiliki dua mi-kro. Bahkan, dengan usahanya ini Yono akhirnya boleh berbahagia karena ketiga anaknya kini telah sukses dalam pendidikannya.
Dengan kenyataan seperti ini, saya pun berani mengambil kesimpulan ini: ternyata ke-hidupan menjadi PKL tetap menjanjikan kesejahteraan bila ditekuni dengan ulet dan sabar.(***)
|
|