|
|
|
![]() |
![]() |
|
Prof
Dr Ir Bobby Polii MS
Menata
Sampah di Sumompo
|
SOAL sampah ternyata bisa menarik perhatian pakar.Buktinya, Prof Dr Ir Bobby Polii MS yang adalah Kepala Pusat Studi Lingkungan Unsrat dengan serius menyikapinya, khusus seputar pengelolaan TPA Sumompo. Menurutnya, kawasan itu perlu dikelola secara bijak.
Sebab, tanpa upaya ini jangan diharapkan penanganan sampah warga Kota Manado dapat diatasi secara maksimal. Sebab, untuk kawasan kota Manado dewasa ini hampir dipastikan tidak ada daerah atau lokasi lain yang bersedia dijadikan wilayahnya sebagai TPA. Makanya, disarankan lebih memfokuskan pada TPA Sumompo.
Fokusnya tak sekadar soal daya tampung, melainkan bagaimana memaksimalkan Sumompo menjadi TPA yang representatif dan tidak menimbulkan pencemaran bagi warga sekitar.
“Saat ini konsep yang diterapkan di TPA Sumompo adalah open dumping, yakni mendorong tumpukan sampah dengan alat berat. Dengan cara seperti ini, dapat dipastikan akan banyak menimbulkan masalah. Antara lain, ketika operator alat berat tidak bekerja sampah pun akan terabaikan,” ungkap Polii sambil menyarankan bahwa konsep yang pas untuk Sumompo adalah menggunakan metode sanitary landfill, yaitu mengelola sampah dengan mempertimbangkan kesehatan masyarakat.
Sanitary landfill ini cukup sederhana, yakni menimbun sampah dengan tanah dengan ketinggian antara 1-5 meter sampah dan tanah sekitar setengah meter. Hal ini sebagai upaya untuk menghilangkan bau yang menyengat. Kemudian untuk menghindarkan panas, yang disebabkan oleh bahan organik maka diperlukan leaceate, semacam saluran air lindih yang dipasang diantara sampah.
Polii menambahkan, kini sudah waktunya Sumompo mengubah penampilan menjadi tempat yang representatif. Artinya, meskipun areal TPA ini dipenuhi sampah namun, perlu diimbangi dengan zona buffer atau penghijauan. Hal ini berfungsi untuk keindahan dan mengurangi pencemaran bau. “Persoalan lingkungan perlu ditangani secara dini. Jangan baru melakukan action, setelah terkena imbasnya. Karena itu, pemkot perlu melakukan langkah konkret dan tidak tambal sulam. Melainkan penanganan secara maksimanl,” tandasnya. (helda)
|
|