|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Todongan Pistol Oknum Ajudan Bupati, Sangihe Vs Pemain Sepakbola
|
Reformasi sudah bergulir delapan tahun yang lalu artinya segala bentuk-bentuk pende-katan represif yang melekat dizaman orde baru tidak layak dijalankan pada zaman refor-masi sekarang ini. Ironis mema-ng jika dizaman ini masih ada pejabat publik yang duduk di “singgasana” atas nama rakyat tapi implementasinya justru mem-buat rakyat “menjerit”.
Seperti halnya insiden peno-dongan senjata api (pistol) ok-num ajudan Bupati Sangihe BS alias Salindeho terhadap se-orang pemain sepakbola, dan lebih gila lagi ini terjadi di “ista-na” (rumah dinas Bupati Sangi-he) di Tona Tahuna. Pasalnya Cuma karena “sang raja” se-dang tidur pulas maka ajudan bersama anggota Satpol PP Sangihe melarang warga ber-main sepakbola. Merasa lara-ngannya tidak digubris, salah seorang warga Maikel Manosoh (Anggota PS Tona Junior) dipang-gil ke pos penjagaan lalu dikero-yok oleh beberapa oknum Satpol PP. Karena terdesak Maikel pun berlari hendak menyelamatkan diri, tetapi todongan pistol oknum ajudan yang diarahkan ketubuh Maikel membuat Maikel tak ber-geming, maka dari arogansinya ajudan melepaskan beberapa kali tamparan ke wajah Maikel di-susul dengan pemukulan oleh anggota Satpol PP.
Mencermati peristiwa yang te-lah menciderai demokrasi di “Ta-nah Adat” dan dilakukan di “Ru-mah Rakyat” Sangihe, beberapa tokoh muda yang tergabung da-lam SMSI (Solidaritas Masyara-kat Seputar Istana) Alfons Patras dan kawan-kawan mengecam serta mengutuk sikap arogansi ajudan Bupati Salindeho yang tidak manusiawi dan tidak layak dipertontonkan pada masyarakat serta mengajak selurah kompo-nen masyarakat untuk menolak aksi brutalisme dan anarkisme terhadap warga Sangihe dengan alasan:
1. Tempat kejadian perkara bu-kan halaman rumah dinas Bupati tetapi adalah gelanggan olahraga (Gelora Santiago) yang notabene adalah tempat untuk olahraga.
2. Sejak kepemimpinan Bupati Yudha Tindas hingga Bupati Aris Makaminan tidak pernah ada komando untuk melarang masya-rakat melakukan aktivitas olahra-ga di Gelora Santiago termasuk bermain sepakbola.
3. Jika peristiwa ini adalah im-bas dari sang bupati maka se-orang yang namanya Winsulangi Salindeho tidak layak dan tidak pantas lagi untuk menjadi pemim-pin masyarakat Sangihe lima tahun ke depan. Sebaiknya jika ada perintah, maka dengan jiwa besar seorang Winsulangi Salin-deho harus meminta maaf se-cara terbuka kepada masya-rakat Sangihe pada umumnya dan khususnya masyarakat Kelurahan Tona melalui media massa serta memberikan sanksi tegas bagi oknum ajudan yang telah melukai hari rakyat dan menodai “rumah rakyat” Sa-ngihe. Akhirnya, biarlah pe-ristiwa ini menjadi refleksi bagi kita warga masyarakat dalam rangka menyikapi pilkada untuk memilah pemimpin Sangihe yang kapabel dan berhati nura-ni jangan sampai ada warga Sangihe yang meminta suaka politik ke negeri tetangga Pili-pina, hanya karena sikap dan karakter pemimpinnya yang arogan dan tidak manusiawi.
Somahe Kai Kehage
Oleh: Febry Maxmillian. Paparang
PraSaRaNa (Putra sangir Kelahiran Tona)
|
|