|
|
|
|
![]() |
![]() |
SUATU hari, seorang anak berlari sambil berteriak, “Ma,,,mama,,, lihat mama, ini ada pengumuman mama menang undian susu berhadiah. Coba mama lihat!” Si anak, sebut saja Alex, segera menyerahkan selembar selebaran kepada ibunya. “Ah, ndak usah, mama kan tidak bisa membaca, kamu saja yang baca. Ingat, baca yang keras yaa!” tukas ibunya. “Baik ma,” jawab si anak dengan riang.
Lalu dengan suara keras Alex pun membaca pengumuman itu, "Selamat, anda berhak mendapat hadiah sebuah kalung emas dan cincin berlian". Tiba-tiba ibunya langsung berteriak, “Uhuyyyyy..!” sambil melompat kegirangan.
“Tapi, mama…, mama…?” sela si anak. “Ada apa?” Tanya ibunya. “Saya belum selesai membacanya,” jawab si anak. “Ya, sudah, kalau begitu, cepa baca instruksinya apa, mama sudah sangat ingin memakai cincin sama kalung baru,” pinta si ibu.
Alex pun membaca instruksinya dengan sangat keras. "Untuk menjaga kepuasan pemenang dan ketepatan pengukuran, silakan anda kirimkan jari dan leher anda untuk di ukur sesuai kalung dan cincin yang mau dibuat!" Sang ibu pun terbingung-bingung, matanya berkaca-kaca, dan, tiba-tiba, dia menangis terisak. Sementara si anak, cepat-cepat merobek lembaran yang dibacanya tadi. Sedang kita, yang sedang membaca kisah ini, boleh jadi sempat bingung sebelum tersenyum, kecut.
Mendapat hadiah, atau lulus tes calon pegawai negeri sipil (misalnya), pasti menimbulkan sensasi batiniah tersendiri bagi siapa saja. Kegirangan yang terpicu bisa meledak-ledak, sama hangatnya bila kemudian hadiah atau keberhasilan itu ternyata kemudian tak jadi kenyataan.
Di sisi lain, tak jarang pula, rakyat seperti akan mendapat ‘durian runtuh’ ketika diberi janji manis oleh para elit kita pada suatu saat. Tak heran bila kemudian ternyata janji itu (umpamanya) hanya jadi isapan jempol, banyak dari mereka yang menuntut pertanggungjawaban. Memang, kredibilitas dan integritas seseorang sesungguhnya diukur dari setiap kata yang keluar dari mulut bibirnya. (*)
|
|