|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Playboy, Welcome to Manado!
|
PROTES keras dilancarkan sejumlah komunitas di Jawa dan Makassar soal terbitnya ma-jalah Playboy versi Indonesia, kemarin (07/04). Tapi bagi warga Manado, seakan tidak ingin mem-vonis sebelum melihatnya. Bah-kan meski belum secara lang-sung melihatnya, suara welco-me atas majalah itu banyak di-sampaikan warga di kota tinu-tuan ini.
Tak heran antusias besar me-nanti masuknya majalah ber-bandrol Rp 39 ribu ini, bisa dira-sakan para penjualan media massa di pusat kota. Hasil pan-tauan Komentar di pusat perbe-lanjaan Pasar 45 dan toko-toko buku kemarin (07/04), memang majalah berlogo kelinci berdasi itu, belum masuk. Peredarannya ma-sih sebatas di Jakarta. Tapi pe-minatnya yang ‘waiting list’ di ka-langan loper, sudah seabrek.
Dengar saja penuturan penjual majalah dan koran di jantung Kota Manado, Pasar 45. Mereka me-ngatakan, semenjak bulan lalu, sudah banyak masyarakat yang menanyakan kehadiran majalah ini
(Playboy). Balak misalnya, pe-dagang berbagai majalah yang berjualan di depan Roberta. Ia mengaku dirinya kewalahan men-jawab pertanyaan dari pembeli yang sebagian besar menanya-kan apakah Playboy sudah ma-suk di antara banyaknya maja-lah dan koran yang ia jajakan. “Hari ini Anda mungkin orang ke seratus yang menanyakan ma-jalah Playboy ke saya mas,’’ ucap Balak ketika wartawan koran ini pura-pura ingin membeli, ke-marin malam.
Sementara itu, di Jakarta sen-diri, penampilan perdana Play-boy jauh dari harapan. ‘’Nama-nya tidak sesuai dengan isinya,’’ ungkap beberapa warga ibukota. Pasalnya, Playboy dengan cover Early Ardhana ini tidak menam-pilkan pose-pose syur bahkan telanjang seperti yang diperma-salahkan sebelumnya. Banyak masyarakat yang merespons po-sitif kehadiran majalah ini, terbukti dua pekan sebelum terbit sudah banyak masyarakat yang ingin membelinya.
Adapun isi dari majalah ini ternyata tidak memuat liputan seputar seks belaka, melainkan pembaca bisa mendapatkan liputan artikel tentang masalah politik, ekonomi, bahkan liputan tentang sosial dan budaya terangkum dalam majalah ini.
Ketika dihubungi via hp, artis asal Manado Jeanne Wenas yang saat ini tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta menga-takan, kalau dirinya saat ini sudah memiliki majalah terse-but dan lebih dari itu, pemeran Putri dalam serial AADC ini menjelaskan isi dari majalah ini biasa-biasa saja.
“Tidak jauh dari majalah-maja-lah lain. Isinya sama dengan majalah biasa. Malah majalah FHM lebe menantang,” aku Jeanne seraya menambahkan, kalau pada cover depan majalah itu masih tetap terpampang ‘khu-sus dewasa’. Sementara itu sejumlah warga Manado yang dihubungi juga tidak menyata-kan alerginya dengan majalah ini.
Jovan Parengkuan misalnya. Wulan Minahasa 2005 ini malah menyambut positif jika Playboy masuk Manado. “Sejak awal Jo-van setuju majalah ini beredar. Karena tidak akan sevulgar Playboy luar negeri. Indone-siakan banyak badan sensor atau semacamnya.”
Senada disampaikan Riany Lasut, Favorit Nona Manado dan Favorit Noni Sulut 2005
“Tadinya sih, nggak setuju, tapi ternyata lebih banyak infonya. Jadi, tanggapan saya berubah jadi positif tentang majalah Play-boy.”
Begitu juga pernyataan Chirsty Besouw. Nona Manado 2004 ini malah sejak dulu setuju saja majalah ini. ”Dari dulu, saya setuju majalah Playboy beredar. Kalo ada tawaran, Chirsty pikir-pikir dulu dan tergantung pake baju apa,” katanya. Tak keting-galan disampaikan Mona Su-mampouw. Keke Balikpapan 2004 ini mengatakan, “Saya dari dulu tidak terlalu khawatir majalah Playboy beredar. Playboy aja, kalah hot sama Popular, jadi nggak masalah beredar di Indonesia. Nanti kalo sudah ada di Manado, saya mau beli,” katanya.
Senada juga disampaikan Car-la Posumah. “Saya tidak me-ngerti majalah itu diperde-batkan. Cuma namanya saja yang bikin orang ngeri. Karena sudah heboh, pose-pose di ma-jalah Playboy jadi begitu. Coba kalo belum heboh, pasti hasilnya lain,’’ katanya. Sementara itu, di Jakarta sendiri kalangan FPI (Front Pembela Islam) telah mengancam akan menindak Playboy jika tidak ditutup. Selain itu, Menteri Pemuda dan Olah-raga juga menyatakan tetap menolak peredaran Playboy.
Hanya saja karena Playboy Indonesia (PI) tidak ada gambar bugilnya, polisi pun sejauh ini belum bisa melakukan tindak-an.
“Saat ini Polda Metro Jaya melakukan penelitian apakah ada unsur pornografi atau tidak. Kalau ada, kita akan tindak,” kata Kapolri Jenderal Pol Su-tanto di Mabes Polri.
Sementara Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam juga menegaskan, Playboy Indonesia baru bisa ditindak jika ditemukan adanya unsur pornografi. “Selama Playboy itu tidak ada gambar pornonya, ya kita tidak bisa apa-apa. Tapi kalau ada pornonya tentu kita tindak,” terangnya.
Anton mengakui belum me-lihat wujud asli majalah Playboy itu. Menurutnya, pers memiliki kebebasan yang diatur oleh UU asalkan tidak disalahgunakan.
“Yang tidak boleh itu yang ada pornonya,” terang Anton Bach-rul Alam. Mengenai rencana salah satu ormas Islam menyer-bu kantor Playboy, Anton me-ngatakan agar hal itu tidak di-lakukan. “Kita tidak boleh mem-berikan kesempatan pada ma-syarakat untuk main hakim sen-diri,” ujarnya.(mon/yandry/zal)
|
|