|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Fenomena UKIT pascaperayaan Hut ke-41
Berjalan dengan Allah, Tangisan Hamba yang Berharap
Oleh: Stenem Ricard D. (Bagia i)
|
Judul di atas saya kutip dari judul buku peringatan 40 tahun Fakultas Teologi UKIT “Berjalan dengan Allah” yang merupakan sedikit gubahan dari tema Dies Fakultas Teologi pada waktu itu “Hidup Bersama Di dalam Allah” yang terinspirasi dari tulisan Pdt Prof Dr Keith D Stephenson dalam sumbangan tulisannya pada buku peringatan 40 tahun Fakultas Teologi UKIT 1962-2002 tersebut.
Sedikit latar belakang di atasnya bukan berarti saya mau kembali lagi pada masa itu, namun melihat situasi dan kondisi UKIT sekarang ini pascaDies Natalis ke-41 sepertinya tema tersebut perlu diangkat kembali untuk mengingatkan setiap civitas akademi bahkan seluruh komponen yang terlibat dengan UKIT secara langsung maupun yang melibatkan diri dengan UKIT demi ke-pentingan bahwa untuk memajukan UKIT kita perlu Berjalan dengan Allah.
Euforia Dies Natalis seakan belum berakhir dengan hara-pan diusia yang semakin de-wasa UKIT dapat menjadi Pen-didikan Tinggi Swasta yang menghasilkan pemikir-pemikir handal di masa depan yang siap bersaing, seiring berkem-bangnya dunia pendidikan khususnya yang ada di Sulut. Namun Euforia itu kini mulai tenggelam dengan fenomena baru yang terjadi di UKIT.
Harapan itu kini seakan tak lagi menjadi perbincangan dalam lembaga pendidikan ini, namun yang terjadi adalah perselisihan yang terjadi dalam tubuh UKIT itu sendiri. UKIT sekarang sedang berada pada minggu-minggu sengsa-ra (mungkin seiring kalender gereja sekarang) yang belum me-nemukan sebuah hasil yang positif bagi perkem-bangan UKIT ke depan.
Kini berbagai kalangan khususnya para civitas UKIT, berharap UKIT bisa menuju kepada sebuah pencerahan yang nantinya menjadi UKIT yang siap bersaing dalam penguasaan intelektual dan bukan bersaing demi jaba-tan, kekuasaan dan kehor-matan. Yang menjadi perta-nyaan sekarang apa yang harus dilakukan agar UKIT menuju pada pencerahan itu? Jawabannya menurut saya marilah kita mulai Berjalan dengan Allah.
Saya teringat ketika pada hari Jumat tanggal 24 Maret civitas academik UKIT me-laksanakan Aksi Doa Bersama yang difasilitasi oleh DEM UKIT. Saya melihat untuk membawa UKIT keluar dari “minggu-minggu sengsara”nya bukan dengan berbagai kri-tikan, aksi pengerahan masa mendukung si A atau si B namun langkah untuk ber-jalan dengan Allah adalah ketika mulai dengan D O A. Dalam kegiatan tersebut melalui doa yang dibawakan oleh Ketua Harian MPS GMIM Bpk Pdt Dr A F Parengkuan dan Bpk Pdt D M Lintong STh beserta seluruh civitas yang ada saat itu meneteskan air mata untuk UKIT tercinta, apakah ini menjadi tanda Ta-ngisan Hamba yang berha-rap? UKIT akan menjadi baik ketika kita awali perjuangan perkem-bangan UKIT dengan doa namun dibalik itu masing-masing kita yang terlibat di dalamnya terlebih dahulu mulai merendahkan diri, sehingga tepatlah kutipan bacaan Alkitab yang dibaca oleh Pdt D M Lintong STh pada waktu itu yang diambil dari kitab Yoel 2 :12-17 sedikit dari yang bisa kita renungkan adalah “Tetapi sekarang juga, “ demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.(bersambung)
|
|