|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Memaknai Paskah Yesus Kristus
(Oleh : Ventje O Jacob)
|
Memaknai Paskah Yesus Kristus SETIAP tahun, umat Kristiani merayakan PASKAH yang mencerminkan suatu perayaan Pesta Iman dan digambarkan dengan bermacam-macam kegiatan, namun tak banyak umat Kristiani memahami betul apa arti Paskah itu sendiri.
Penulis ingin memberikan suatu gambaran tentang Pas-kah yang sebenarnya dan yang pantas untuk dilakukan dan dirayakan oleh kita umat Kris-ten yang percaya bahwa man-ivestasi Yesus Kristus sebagai Juru Selamat melalui rasa so-lidaritasnya yang tinggi se-hingga Yesus Kristus bukan saja rela fisiknya disiksa, disa-libkan, malah mati dan diku-burkan walau Diapun bangkit dan naik ke sorga hanya untuk menebus segala dosa dan per-buatan kita, serta akan datang kembali ke dunia ini untuk menjemput dan meyelamatkan kita.
AWALNYA PASKAH
Istilah dan peristiwa Paskah bukan saja dikenal dalam Perjanjian Baru atau saat setelah Kristus wafat, bangkit dan naik ke sorga, tapi Paskah sudah ada sejak jaman Perjan-jian Lama. Sebagai misal bah-wa Kitab Keluaran & Ulangan justru mengkhususkan serta memberitakan bagaimana umat Israel merayakan Paskah. Perayaan Paskah adalah dua upacara yang pada mulanya ter-pisah, yakni Paskah dan Hari Raya Roti tak beragi.
Paskah adalah perayaan yang diperiingati setelah kematian. Paskah dalam bahasa latin disebut Pasca yang artinya telah lewat atau yang sudah berlalu. Sedangkan hari raya roti tak beragi adalah perayaan untuk memperingati tujuh hari yang pertama dari peristiwa keluarnya umat Israel dari tanah perhambaan Mesir.
Kedua perayaan ini saling kait mengait satu sama lain. Suatu contoh bahwa ragi harus disingkirkan dari rumah sebelum penyembelihan anak domba Paskah (Ulangan 16 : 3 - 5), sehingga jamuan Paskah itu sendiri diadakan dengan makan roti yang tak beragi (Ke-luaran 12 : 8). Orang Israel ak-hirnya menggabungkan kedua perayaan ini menjadi satu pe-rayaan.
Bagi orang Israel merayakan Paskah sebagai momentum atau memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir selama 400 ta-hun lamanya. Musa yang di-utus Tuhan untuk menyela-matkan bangsa Israel ketika itu, dan sembilan tulah yang dibe-rikan Tuhan kepada bangsa Mesir tidak cukup untuk melunakkan hati Raja Firaun untuk melepaskan umat Israel. Nanti tulah ke sepuluh yakni kematian anak sulung barulah Firaun memberikan kebebasan kepada bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Tulah ke sepuluh ini tidak akan me-nimpah orang Israel apabila mereka menyembelih domba dan mengoleskan darah dom-ba Paskah pada ambang atas dan kedua tiang pintu rumah mereka dengan maksud bah-wa ketika Tuhan berjalan mem-berikan tulah kepada orang Mesir, maka Tuhan akan me-lewatkan setiap rumah milik orang Israel yang pintunya telah dioleskan darah domba Paskah. Paskah dalam bahasa asing disebut Passover yang artinya lewat, atau lewat dari kematian anak sulung.
PASKAH YESUS KRISTUS
Rasul Paulus dalam Kitab Korintus 15 : 14 mengatakan; “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”. Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari antara orang mati membuat kepercayaan kita kepadaNya tidaklah sia-sia. Sebagaimana Kristus mati dan di bangkitkan pada hari yang ketiga, maka kita harus me-maknai Paskah berdasarkan Iman percaya kita.
PESAN PASKAH
Merayakan Paskah tidak mesti harus dengan mengor-bankan banyak materi yang sifatnya evoria Paskah, seper-ti halnya bukit-bukit disulap bagaikan bukit Golgota tempat Yesus Kristus disalibkan. Hal ini bukanlah suatu jaminan bagi kita memaknai Paskah Yesus Kristus yang sesung-guhnya. Kegiatan perlombaan kesenian, olah raga dan lain sebagainya menjelang dan sesudah Paskah justru tidak mencerminkan nilai-nilai ke-imanan karena sering di-bumbui dengan perselisihan dan perbedaan pendapat dian-tara sesama jemaat saat melak-sanakan perlombaan. Paskah sebaiknya lebih diarahkan pada bagaimana kita mengenang kisah perjalanan Tuhan Yesus Kristus mulai dari Yesus Kris-tus dibaptis oleh Yohanes Pem-baptis sampai Kristus disalib-kan, mati, bangkit dan naik ke sorga dalam bentuk Ibadah (Ibadah Puasa, KKR, Berdoa syafaat dsb). Firman Tuhan melalui Matius 5 : 16 berkata; “Demikianlah hendaknya te-rangmu bercahaya didepan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Statemen ini bukan saja ditujukan kepada mereka yang menyandang predikat se-bagai Pelayan Tuhan seperti hal-nya (Pendeta, Gembala, Eva-gelis, Penatua, Syamas), akan tetapi pernyataan ini ditujukan kepada kita semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Sadarkah kita bahwa Kematian Yesus Kritus di bukit Golgota adalah wujud nyata pe-ngorbananNya untuk menye-lamatkan kita dari perbuatan dosa kita sendiri. Mestinya kita menyadari bahwa lewat pengor-bananNya di kayu salib, kita sudah dikeluarkan dari kegela-pan menuju terang ajaib. Yoha-nes 8 : 12 berkata; “Maka Yesus berkata kepada orang banyak, katanya; “Akulah terang dunia, barang siapa mengikut aku ia tidak akan berjalan dalam kege-lapan, melainkan ia akan mempu-nyai terang hidup”. (bersambung)
Penulis adalah anggota jemaat GMIM Golgota Malendeng
|
|