|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Fenomena Ukit Pasca Perayaan Hut Ke-41
Berjalan Dengan Allah, Tangisan Hamba Yang Berharap
|
UKIT akan menjadi baik ke-tika kita awali perjuangan per-kembangan UKIT dengan doa namun dibalik itu masing-ma-sing kita yang terlibat di dalamnya terlebih dahulu mulai merendahkan diri, sehingga tepatlah kutipan bacaan Al-kitab yang dibaca oleh Pdt. D.M.Lintong ,S.Th pada waktu itu yang diambil dari kitab Yoel 2 :12-17 sedikit dari yang bisa kita renungkan adalah “Tetapi sekarang juga, “ demikianlah fir-man Tuhan, “berbaliklah ke-pada-Ku dengan segenap ha-timu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan menga-duh.”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu sebab Ia pengasih dan penyayang , panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-nya.” (ayat 1&2). Berrefleksi dari kutipan pembacaan ini maka kita dapat Berjalan Dengan Allah menuju UKIT yang lebih baik.
Dengan demikian sebuah harapan dari seorang hamba yang tengah berharap, kiranya UKIT bisa keluar dari minggu-minggu sengsara ini menuju kepada sebuah kebahagiaan ditengah kebersamaan sebagai satu civitas. Harapan dalam be-nak saya pula kiranya semua pihak yang mau membangun UKIT kedepan janganlah de-ngan berbagai aksi-aksi aro-gansi, saling tuduh, saling mengkritik apalagi dengan berbagai kepentingan pribadi yang melibatkan UKIT (bagi mereka ini saya coba meng-gunakan bahasa Pdt Dr AF Parengkuan dalam doanya “Ki-ranya dijauhkannyalah mereka dari yang jahat ). Marilah kita bangun UKIT dengan DOA, kerendahan hati dan Berjalan Bersama Dengan Allah se-hingga pengambilan keputusan yang positif dapat terjadi. Akhirnya saya menutup hara-pan saya ini dengan sebuah cerita dari Psikolog Scoot Peck dalam buku The Different Drum yang dapat kita reflaksikan dan untuk kita renungkan bersama:
Ada sebuah biara yang hampir bubar. Penghuninya tinggal 6 orang yang sudah lanjut usia. Untuk menyelamatkan keada-an, pergilah pemimpin biara itu kepada seorang rabi yang ter-kenal bijak.”rabi tolonglah, be-rilah nasihat yang dapat me-nolong kami”kata kepala biara sambil terisak. Sang rabi pun ikut meneteskan air mata. “ maaf saya pun tidak tahu jalan keluarnya. Yang dapat saya katakan hanyalah : salah seorang diantara anda adalah Mesias”
Setibanya kembali di biara para biarawan lain sudah me-nunggu “ apa nasehat rabi ? Tanya mereka. Sambil ter-menung kepala biara menjawab “rabipun tidak bisa menolong. Hanya satu hal yang dikatakan rabi itu, tetapi aku tidak me-ngerti maksudnya, Ia mengata-kan satu diantara kita adalah mesias atau kristus”
Pada hari berikutnya para bia-rawan itu memikirkan apa ge-rangan arti ucapan sang ra-bi,”apakah rabi itu bermaksud bahwa salah seorang diantara kita adalah penjelmaan kris-tus?Tetapi seandainya betul biarawan yang mana?”
Karena mereka tidak menge-tahui siapa yang adalah mesias itu maka mereka saling ber-sikap hati-hati dan penuh hor-mat satu dengan yang lain. Bah-kan lama-lama tiap biarawan itu mulai berpikir “jangan-jangan mesias menjelma dalam diri saya ?”karena itu mereka menjadi sangat hati-hati dalam perkataan dan perbuatan mereka. Suasana dalam biara itu langsung menjadi ramah, penuh respek dan menyenang-kan. Orang yang singgah di biara itu melihat dan merasa-kan suasana yang indah itu me-reka tertarik pada para biara-wan itu yang saling bersikap. Sehingga lama kelamaan biara yang hampir bubar itu, kini hidup lagi dengan baik.
Semoga di UKIT pun ada yang mempunyai hati seperti kristus sehingga membawa perubahan yang berarti dalam tubuh UKIT. Perjuangan yang diawali dengan DOA dan Kerendahan Hati membawa kita Berjalan Dengan Allah. Akhir kata VIVA UKIT.
Penulis adalah Alumni UKIT
|
|