|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Tanggapi naskah kuno ‘Gospel of Judas’
Paus: Yudas (Tetap) Pengkhianat Yesus
|
Baru-baru ini sebuah naskah kuno yang disebut-sebut sebagai ‘Injil Yudas’ (Gospel of Judas) ditemukan dan telah diterjemahkan. Hasilnya sungguh kontroversi. Dalam naskah kuno itu, menurut Rudolf Kesser (Pakar Koptik), berisi kesaksian Yudas dari masa lalu dalam bentuk percakapan antara Yudas dan Yesus.
Yesus menjelaskan pada Yu-das bahwa dirinya harus me-ninggalkan ke-12 muridnya. Yesus berkata, sangat penting seseorang membebaskan dia dari tubuh manusianya. Dan dia lebih memilih dibebaskan seorang teman daripada oleh seorang musuh.
Sehingga, tambah Rudolf Kes-ser, Yesus meminta Yudas, te-mannya, untuk mengadukan-nya, mengkhianatinya. “Di mata awam, hal itu adalah peng-khianatan. Tapi, di antara Ye-sus dan Yudas, hal itu sama sekali bukan pengkhianatan,” ujarnya. Walau para ilmuwan theologi telah memiliki hipotesis tentang hal itu, untuk pertama kalinya sebuah naskah kuno membela ide tersebut.
Menanggapi hal ini, Paus Be-nediktus XVI, Kamis (13/04) lalu, mengingatkan kembali Yudas sebagai murid Yesus yang berkhianat. Disebutkan, Yudas menganggap uang lebih penting daripada kasih Yesus. Hal ini diungkapkan sang Paus saat memimpin Misa Kamis Putih di Basilika Lateran Santo Yohanes, Roma, Italia.
Pernyataan Paus ini muncul hanya beberapa hari setelah di-perkenalkannya ‘Injil’ Yudas (Gos-pel of Judas) berbahasa Mesir Koptik. Seperti diketahui, dalam ‘injil’ ini, Yudas digambarkan bu-kan sebagai pengkhianat Yesus. Justru sebagai murid kesaya-ngan yang mau melakukan ke-hendak Yesus, dengan menye-rahkan sang Juruselamat pada penjajah Romawi dan sebagian orang Yahudi untuk disalibkan.
Sementara itu, dalam Misa Putih tersebut, Paus Be-nediktus XVI membasuh kaki 12 orang. Ini sebagai gambaran Ye-sus yang membasuh kaki ke-duabelas muridnya saat Per-jamuan Makan Terakhir sebe-lum disalibkan. Dan juga seba-gai simbol pembersihan umat manusia dari dosa.
“Tuhan merendahkan diri layaknya seorang hamba. Ia membersihkan kaki kita supaya kita layak duduk semeja de-ngan-Nya. Pembasuhan itu me-rupakan tanda kasih-Nya dan kesiapan-Nya menghadapi ma-ut. Hanya kasih yang punya kekuatan dahsyat untuk meng-hapus kecemaran kita dan men-dekatkan kita pada Allah,” kata Paus. Homili yang dipimpin Be-nedict ini diarahkan kepada gam-baran Yudas sebagai pengkhia-nat Yesus.(ap/win)
|
|