|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Prosesi
Penyaliban Warnai Peringatan Jumat Agung
|
Puluhan juta warga Kristen se-dunia, kemarin (14/04), me-rayakan ibadah Jumat Agung di awal Paskah yang diyakini sebagai waktu Yesus Kristus me-ninggal untuk kemudian di-bangkitkan. Menariknya, tradisi prosesi penyaliban tetap ter-pelihara, termasuk di Sulawesi Utara.
Di daerah ini, sejumlah gereja menggelar apa yang dinamakan ‘Jalan Salib’ atau ‘Jalan Seng-sara Yesus’. Bagi umat Katolik di Manado dan sekitarnya, pe-rayaan Jumat Agung kemarin dibagi dalam empat bagian pen-ting, yakni prosesi jalan salib, ibadat sabda, penghormatan salib, dan komuni kudus.
Perayaan yang digelar dalam prosesi jalan salib di masing-masing paroki digelar berva-rian, namun dengan satu tu-juan mengenangkan sengsara Tuhan Yesus sampai wafat-Nya. Di sejumlah paroki, seperti Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius Pineleng, Gereja Ka-tolik Hati Kudus Karombasan, Gereja Katolik Hati Tersuci Ma-ria Katedral, Gereja Katolik Sta Theresia Malalayang, Gereja Katolik St Ignatius Manado, Ge-reja Katolik St Josep Pekerja Kleak dan sebagainya, ratusan umat Katolik dari masing-ma-sing paroki terlihat khusuk me-lakukan jalan sengsara di jalan maupun di halaman gereja un-tuk mengenang jalan sengsara Tuhan dalam 14 perhentian, mulai dari pengadilan Pilatus hingga penguburan Yesus.
Khusus di Gereja Katolik St Yosep Pekerja Kleak, ratusan umat terlihat khusuk melintasi jalan sengsara mulai dari halaman gereja, melintasi jalan Bethesda, Jalan Monginsidi, sebagian Jalan Piere Tendean Boulevard, Jalan A Yanni, kem-bali melintasi jalan Bethesda dan kembali ke halaman gereja. Bahkan, guyuran hujan tidak menyulutkan komitmen umat untuk tetap setia menjalani ja-lan sengsara Tuhan yang di-pimpin langsung Pastor Paroki St Joseph Kleak Pastor Joseph Ansow Pr. Apalagi, dalam prosesi Jalan Salib ini mudika paroki menghidupkan kembali kisah sengsara Yesus. Tak pelak, tidak hanya umat Katolik Kleak yang larut dalam kepedihan menyak-sikan beratnya penderitaan Yesus, tetapi juga pemandangan yang memiriskan ini juga turut disaksikan warga yang berada di seputaran jalan yang dilalui arakan-arakan duka ini.
“Berkumpulnya umat Katolik di sini untuk memperingati Yesus dari Nazaret yang sedemikian dekatnya dengan manusia tetapi berbeda jauh dengan manusia, karena ia adalah Allah manusia. Ia dihina, disiksa, dihukum mati serta takut seperti kita. Namun segala penderitaan itu diterima-Nya dengan sukarela. Maka Hamba Yahwe yang menderita tanpa dosa ini diangkat oleh Allah. Jelaslah maut bukanlah titik punah, melainkan suatu kemenangan. Maka perayaan ini dirayakan dengan syukur dan gembira,” ungkap Ansow.
Sedangkan perayaan di GMIM, ditandai ibadah perjamuan kudus di setiap gereja. Dalam pemantauan koran ini, di sejumlah gereja dijaga ketat baik dari aparat kepolisian maupun dari pengamanan jemaat se-tempat. Pagi sejak siang, jemaat terkonsentrasi di gereja-gereja. Tak heran, jalanan di Manado sejak pagi hingga siang lengang. Nanti sore menjelang malam, mulai terlihat aktivitas di sejum-lah tempat keramaian.(tim/*)
|
|