HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

15 April 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Koreksi atas tanggapan/jawaban Drs Joutje Sendoh
Babak III Pelurusan Sejarah Manado dan Minahasa

 IKUTI BERITA LAIN

Pembentukan Daerah Otonom Baru, Perlukah?

 SURAT PEMBACA

Daerah SaTal Penting bagi Kelompok Teroris

 COMMENTAREN

Krisis Tenaga Kesehatan Jangan Didiamkan


Debat artikel tentang pelurusan sejarah Manado dan Minahasa menurut penulis sudah semakin enjoy dan semakin terlihat kekurangan, manfaat, dan validitasnya. Karena setelah kita saling berargumentasi sejak Nopember 2005 s/d Maret 2006, tidak dapat dipung-kiri sudah nampak hal-hal yang menyimpang dalam bentuk: Pemutar-balikkan fakta/pelintiran, tidak konsisten, tidak logis, membingungkan, tidak singkron menurut tata-urutan waktu peristiwa, dan kontradiktif dari tanggapan/jawaban Pak Sendoh sendiri.

Misalnya (pelintiran/pemu-tar-balikkan fakta): Pak Sen-doh katakan dalam tulisannya yang terbit 8 Desember 2005 melalui kolom harian ini me-ngatakan bahwa Kariso dari Tompaso, Umboh dari Pulisan, dan Sarapung dari Tondano adalah pahlawan Tou Mina-hasa yang memimpin mengu-sir Perompak Laut Mangin-danouw dari Kepulauan Sulu. Sedangkan tulisan Pak Sen-doh yang terbit pada tanggal 18 Maret 2006, ternyata dia te-lah menyangkal atau mem-bantah bahwa tiga sekawan tersebut pergi berperang me-ngusir perompak Laut Ma-ngindanauw di Kepulawan Sulu. Hal ini terjadi setelah bantahan penulis melalui ar-tikel 3 Februari 2006, mem-pertanyakan aspek logikanya tiga sekawan tersebut (Umboh, Kariso, dan Sarapung) pergi (dengan perahu mengarungi laut lepas) berperang di Kepu-lauan Sulu yang merupakan wilayah/daerah kekuasaan Negeri Filipina. Rupanya dia tidak memahami geografi dan tidak jujur. Jadi Pak Sendoh jangan berdalih dan memutar-balikan fakta, sebab penulis ada klipping dan arsip semua tulisan Anda. Misalnya (tidak konsisten): Pak Sendoh kata-kan pada artikel 23 Januari 2006 bahwa Mayor Supit dan Frans S Watuseke (almarhum) merupakan “narasumber yang putar-bale dan makalahnya yang omong-kosong”. Tetapi anehnya, Pak Sendoh sendiri terus menggunakan makalah 1982 dari almarhum Frans S Watuseke dalam tulisannya yang terbit pada harian Ko-mentar sampai dengan 21 Ma-ret 2006. Misalnya (tidak lo-gis): Pak Sendoh katakan bah-wa etnis Babontehu atau Wa-wontehu telah eksis pada pe-laksanaan Musyawarah Watu Pinawetengan II (yaitu tahun 1428), sedangkan pada nyata-nya semua literatur yang ada menyatakan (termasuk ulasan pak Sendoh sendiri via arti-kelnya pada 18 dan 20 Maret 2006) bahwa kerajaaan Mari-tim Wawontehu nanti eksis pada tahun 1550, kemudian mengalami masa gemilang dan akhirnya mengalami kepunah-an pada tahun 1665. 
Di sini jelas terdapat perbe-daan 100 (seratus) tahun lebih yang rupanya tidak dapat diperhitungkan dan dipahami oleh penanggap Sendoh. Aspek tidak logis yang lain dari pan-dangan Pak Sendoh adalah de-ngan mengklaim (tanpa dasar) bahwa etnis-etnis: Tonsea, Tombulu, Tontemboan, dan Toutumaratas merupakan ke-lompok etnis asli Minahasa ya-ng pertama-tama eksis di tanah Malesung sejak pelaksanaan Musyawarah Watu Pina-wete-ngan I, yaitu abad kelima. Bahkan terbukti dia tidak da-pat menuturkan silsilah kelu-arga keturunan keempat etnis tersebut, yang nyambung ke atas sampai dengan keluarga Toar dan Lumimuut. Lagi pula sayangnya Pak Sendoh sendiri tidak dapat menjelaskan se-cara ilmiah sumber referen-sinya bahkan dia tidak sanggup membuktikan aspek primus interparresnya di lapangan. Misalnya (membingungkan): Pak Sendoh katakan pada artikel 21 Maret 2006 (dengan mengutip pendapat Dr Willy Smith) bahwa burung Manguni dinyatakan “lebih tua dan lebih berhikmat dari pada manu-sia!” Penulis pikir pernya-taan demikian adalah omong-koso-ng dan putar-bale sebab tanpa memiliki dasar argumentasi dan aspek logika yang valid. Se-bab yang namanya hewan (ter-masuk unggas/burung Ma-nguni) adalah tetap binatang (makhluk yang tidak berakal budi atau tidak berhikmat). Se-dangkan Manusia diberi Otoritas dan Hikmat Ilahi dari Yang Maha Tinggi (Allah Khalik Pencipta langit dan bumi) untuk menguasai dan meman-faatkannya. Pemikiran demi-kian merupakan kelompok masyarakat penganut faham pergerakan era baru (New Age Movement). Misalnya (tidak singkron menurut tataurutan perputaran waktu terjadinya peristiwa): Pak Sendoh katakan dalam artikel yang terbit 21 Maret 2006 bahwa Loloda ter-kait dengan istilah raja-raja Bo-laang Mongondow (yang di-maksud penanggap menurut penulis adalah raja Loloda Mokoagouw yang memerintah Kerajaan Bolmong pada tahun 1650-1694). Sedangkan keraja-an Loloda Maadon merupakan kekuasaan seorang pangeran asal Maluku Utara yang sempat berpusat di Miagon/Kema dan berkuasa dikawasan pantai Timur-Utara tanah Malesung pada tahun 1380-an. Jadi pak Sendoh semestinya terlebih dulu membaca dan memahami sejarah dan silsilah raja-raja Maluku Utara dan dinasti raja-raja Bolaang Mongondow, agar tidak salah merepresentasikan suatu peristiwa atau kejadian yang singkron (nyambung) dengan tata-urutan waktu di mana peristiwa/kejadian itu terjadi. Yang lebih ironis lagi (terkait dengan penamaan Ma-nado dari kata Maadon yang merupakan hypotesa narasum-ber Mayor Bert Supit), yaitu pak Sendoh ternyata tidak dapat memilah (membedahkan) ma-na pendapat pribadi penulis dan mana yang hanya berupa kutip-an/saduran penulis dari na-rasumber. Akibatnya, hal ini sangat meragukan kalayak pembaca/pengamat, terutama kalangan akademisi dan pak Ben Wowor serta Drs Alex Ulaan yang disampaikan pada penulis. Misalnya (kontradiktif): Pak Sendoh mengakui (walaupun hanya mengetahui pada bagian kulitnya saja) bahwa suku Bantik telah eksis menjelang Musyawarah Watu Pinawe-tengan II (yaitu tahun 1428) tetapi anehnya dia mengklaim dalam ulasannya bahwa suku Bantik baru eksis di tanah Malesung pada akhir abad ke-16 atau awal abad 17 dengan menggunakan buku EV Adam yang hanya mencantumkan sekilas perjalanan Puak Bantik dari wilayah Selatan Tanah Ma-lesung, kemudian menyusuri pantai Utara dan tibah di Tonsea dan wilayah Utara yang dipimpin oleh Angkol (Angkow), Mailangkay, Dotu Katang, dan Mandagie. Pula Pak Sendoh sendiri katakan via tulisannya tanggal 18 Maret 2006 bahwa Mailangkay atau Maidangkay adalah salah seorang pemimpin leluhur Suku Bantik, tetapi anehnya dia katakan (secara kontradiktif) via tulisannya tertanggal 21 Maret 2006, bah-wa pencantuman nama-nama fam (marga) orang Minahasa asli tersebut terjadi atas dasar asumsi (tebak-tebakan) percam-puran kawin dan merupakan dramatisir penulis dengan cara “mem-banti-kan” marga ter-sebut.(bersambung)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin