HOME : FOOTBALL

Headlines News  

17 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Kisah anggota US Navy berdarah Kawanua 
Edwin tak Pernah Lupakan Manado


Dari penampilan fisiknya bisa diduga anak muda yang satu ini punya darah kawanua. Tak salah memang. Nama lengkapnya Edwin Ludwig Daniel Sondakh, putra tunggal pasangan almarhum DIM Sondakh (mantan Kepala PU Minahasa) asal Minahasa dan Rosye Sondakh-Basar (sekarang Rosye Salz) asal Dayak. Lahir di Tondano, 28 Juni 1988, nyong yang dibesarkan di Brisbane, Australia sebelum pindah ke California, Amerika Serikat sekitar 4 tahun lalu ini, tidak melupakan tanah kelahirannya. Berikut penuturannya kepada Wartawan Komentar di AS, Anita Bangalino.
Siswa SMA C.K. McClatchy yang bulan September nanti akan memulai training-nya de-ngan US Navy di San Diego, Ca-lifornia (Edwin terpilih sebagai medical corpsman), masih me-nyimpan banyak kenangan manis tentang Manado, meski-pun ia meninggalkan Bumi Nyiur Melambai saat masih kecil. 
“Saya ingat waktu kecil saya tinggal di Kleak (Manado), di atas bukit. Dari rumah saya bisa lihat stadion sepakbola (Stadion Klabat). Saya ingat Bunaken sama pantai-pantai. Cuma tempat yang saya ingat sekali itu tempat bapak saya dikubur di Tinoor. Saya ingat rumah-rumah di Manado, itu dekat sama-sama,” kenangnya dalam bahasa Indonesia yang cukup bagus (sedangkan menulis menurutnya agak sulit karena jarang dipakai).
Tak cuma kenangan tentang Bunaken yang lekat dengan fans klub basket LA Lakers ini. Menurut ibunya, Rosye Salz, Edwin jago masak makanan khas Indonesia. “Dia pintar masak. Nasi goreng sama sam-bal goreng dagingnya (babi, pe-te, tahu, tempe) enak. Edwin juga pintar bikin BBQ,” ujar Rosye seraya menambahkan, pekan lalu saat mereka seke-luarga baru kembali dari ber-akhir pekan di Las Vegas dan mengundang sekitar 90 orang keluarga dan teman datang ke rumah mereka di Sacramento, Edwin lah yang berperan seba-gai juru masak. 
Rumah mereka di kawasan down town Sacramento tepat berseberangan dengan Tower Theatre, land mark ibukota ne-gara bagian California tersebut. “Setiap Tower Theatre difoto, apakah untuk postcard, atau di TV, rumah kami selalu keli-hatan.” Sudah cukup lama me-reka tidak pulang ke Indonesia, sejak pindah ke Amerika dari Australia. “Saya sudah lama tidak pergi ke Manado mung-kin di masa depan saya bisa pergi..” Menurut Edwin, mere-ka sekeluarga berencana untuk jalan-jalan ke Manado manakala ia menyelesaikan training-nya di US Navy. 
Memilih medical corpsman di US Navy bukan tanpa alasan. Anak muda yang sempat ga-bung dengan Westminster Chorus (kelompok dari Los Angeles, CA yang berpredikat juara Far Western District) di International Mid-Winter Bar-bershop Convention bulan Ja-nuari lalu ini, sangat dekat de-ngan dunia kesehatan. 
Keluarganya (dari pihak ibu) di Surabaya hampir semua berkarir di dunia kedokteran. Opanya seorang professor dan ahli bedah orthopedic, dan oma di medical rehabilitation. Om-om dan tante-tantenya ada yang dokter mata, podiatrist, dan orthopedist. Sementara ayah tirinya, Don Salz, adalah seorang doktor psikologis. 
“Saya mau jadi dokter atau pyschologist habis saya sudah selesai dari U.S Navy, cuma sa-ya masih mungkin tinggal di U.S Navy, “ ujarnya seraya men-jelaskan di Amerika untuk men-jadi psikolog harus sekolah sampai S3, namun pekerjaan seorang psikolog lebih ringan daripada seorang dokter. 
Ditambahkannya, “Saya bergabung dengan U.S Navy karena saya mau masa depan yang baik untuk saya, dan saya bisa mandiri sendiri supaya saya tidak bikin susah ibu saya.” Ada pun ibunya setuju dia bergabung dengan US Na-vy, “karena aman dan tenang karena ada jaminan dalam kontrak bahwa dia diseko-lahkan, jaminan hidup (peker-jaan, kesehatan dan uang), da-lam pengawasan dan pendi-dikan militer. Kalau dia seko-lah sendiri, dia tidak ada jami-nan pekerjaan dan kesehatan dan pengawasan. Saya tidak ingin anak saya stress selama sekolahnya karena mikir soal memenuhi keperluan sekolah dan hidupnya sendiri. Saya tahu dia tidak akan minta seenaknya sama saya. Anak saya bukan anak yang ma-terially manja, dia anak yang mandiri.”(***) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin