HOME : FOOTBALL

Berita Bolaang Mongondow  

18 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Pilkada, Demo PNS dan Banjir Bandang 


PILKADA sudah selesai, yang belum selesai adalah pembangunan. Mungkin juga yang belum selesai itu termasuk rencana mutasi, begitu pun dengan bajir bandang mungkin akan kerap terjadi bila tidak ada tindakan pencegahan serius dari pemerintah.

Itu memang menarik, tapi yang lebih menarik lagi adalah adanya persamaan di mana pilkada, demo PNS pascaisu mutasi dan banjir bandang ternyata baru per-tama kali terjadi sepanjang se-jarah Bumi Totabuan. Pilkada dilaksanakan 20 Maret, sedang-kan demo PNS dan banjir ban-dang di Desa Moyongkota dan Bangunan Wuwuk terjadi hampir bersamaan, 11 dan 12 April.
Sebuah pemandangan yang cukup kontroversial sempat disak-sikan langsung harian ini, pada hari Rabu (12/04) terkait demo PNS dan banjir bandang. Ketika itu, di depan kantor bupati, ada se-jumlah PNS termasuk beberapa pejabat Pemkab Bolmong, se-dang menggelar unjuk rasa guna menyampaikan berbagai tuntutan, termasuk persoalan mutasi. Na-mun pada saat yang bersamaan, warga Moyongkota dan Bangun-an Wuwuk yang telah menangis sejak tanggal 11 April petang, saat banjir bandang baru saja me-renggut satu nyawa dan mempo-rak-porandakan tiga rumah serta merusaki puluhan rumah lainnya, masih diliputi kekalutan. Kese-dihan dan duka pun masih mewar-nai wajah-wajah mereka mana-kala menyaksikan rumah-rumah sudah hancur tak berbentuk. 
Sorot mata yang lesu dari se-orang kakek bernama Y Ma-monto (60-an), warga Desa Ba-ngunan Wuwuk, ketika ditemui harian ini di samping bangkai ru-mahnya, menandakan betapa berat beban hidup yang dialami-nya. “Nyanda satu barang pun yang dapa bawa. Soalnya itu banjir so sama dengn tsunami, datang tiba-tiba. Jadi kita langsung pangge istri dan anak-anak kong langsung kaluar dari rumah,” ucap Mamonto nyaris tak terdengar.
Istri dari A Kembuan ini yang pagi itu hanya mengenakan kaos butut warna hijau dengan celana biru yang sudah basah dengan air bercampur lumpur, sepertinya ingin menumpahkan kesedihan-nya dalam tangisan, tapi mungkin air mata orang tua dengan wajah yang mulai keriput ini sudah dihabiskan sejak malam, ketika baru saja tertimpah musibah. Sampai-sampai dia tidak bisa tidur malam itu, karena memikir-kan rumah satu-satunya yang dibangun bertahun-tahun, telah hancur dalam sekedip mata.
Yang pasti, pagi itu Mamonto yang baru saja ‘dimutasi’ dari rumahnya yang sudah rusak ke rumah keluarga terdekat, tidak pernah peduli dengan apapun yang sedang dan akan terjadi di Kotamobagu, tepatnya di depan kantor bupati saat aksi demo sejumlah PNS yang notabene dipimpin beberapa pejabat eselon II. Soalnya Mamonto ha-nya petani, jadi tidak perlu memi-kirkan mutasi jabatan, karena memang dia tidak pernah meme-gang jabatan di pemerintahan. 
Tetapi saat itu dia hanya ber-doa, mudah-mudahan diberikan Tuhan kesabaran dan kekuatan, serta semoga ada pihak yang ikhkas mengulurkan bantuan sekadar meringankan beban hidup berat yang baru saja di alami dia dan keluarganya. Belakangan, Jumat malam lalu, setelah menerima bantuan Rp 5 juta dari Pemkab Bolmong yang diserahkan langsung oleh sekkab, harian ini sempat melihat wajah Mamonto sudah berangsur ceria. Bahkan dia sempat terse-nyum sembari mengucap syukur ke hadirat Tuhan. 
Betapa agung warga Totabuan yang satu ini. Dia hidup dengan penghasilan apa adanya tetapi mampu menghadapi cobaan dari Yang Mahakuasa. Dia juga tidak mau membiarkan dirinya disiksa oleh impian, juga tidak pernah merasa takut meskipun harus ‘dimutasi’ dari tempat tinggalnya.
Ironinya, di sela-sela acara pe-nyerahan bantuan oleh Pemkab Bolmong Jumat malam lalu, ada beberapa warga yang bercerita soal mengapa bencana alam itu tidak terjadi pada saat musim kampanye awal Maret lalu. Kalau saja Tuhan bisa diajak kompromi, seperti memperlambat pelaksa-naan pilkada atau mempercepat datangnya banjir bandang tadi misalnya terjadi saja pada hari terakhir kampanye, 15 Maret. Maka warga yang sudah terkena banjir bandang, dipastikan juga akan banjir bantuan. Tapi seka-rang tidak seperti itu lagi. Bukti-nya, belum ada satu kandidat pun yang datang langsung ke lokasi bencana, meski hanya menyampaikan rasa prihatin. Dan selain bantuan dari DPD II PG Bolmong, sampai hari ke-dua banjir bandang, belum ada parpol lain yang memberikan bantuan.(sugianto babay) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin