HOME : FOOTBALL

Berita Mimbar dan Keagamaan 

18 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Perayaan Trihari Suci dan Paskah umat Katolik Kleak Manado
“Dari Memberi Diri Hingga Menuai Hidup Baru”

 
PERAYAAN Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah atau dikenal dengan sebutan Tri Hari Suci di Gereja Katolik Paroki St Yosep Pekerja Kleak Manado berlangsung khusuk, namun syarat dengan makna yang menghidupkan. Setidaknya dari rangkaian perayaan Yesus Kristus ini, ribuan umat Katolik St Yosep Pekerja Kleak bersama umat Katolik lainnya di Keuskupan Manado menyelami makna dari memberi diri hingga menuai hidup baru.
Pastor Paroki St Yosep Pekerja Kleak Pastor Joseph Ansow Pr dalam khotbahnya pada perayaan Kamis Putih mengajak umat yang dipimpinnya untuk menyelami aspek kepekaan sebagai manusia lewat gambaran pembasuhan kaki ke-12 murid oleh Yesus. “Dengan membasuh kaki para murid-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita pentingnya membangun sikap kepekaan terhadap orang lain. Di sini kita ditantang untuk selalu memberi diri dan melayani Tuhan dan sesama,” ungkapnya.
Lebih jauh, Pastor Ansow menjelaskan, untuk mewujudkan ungkapan cinta kasih ini umat hendaknya senantiasa mencintai Ekaristi. Karena di dalam perayaan inilah umat diajak untuk menyelami model sejati pemberian diri Yesus kepada umat manusia.
“Singkat kata, perayaan Kamis putih mengajak kita untuk menghayati hidup dalam ekaristi dan ekaristi dalam kehidupan. Dari sanalah kita memiliki kepekaan sejati seperti Yesus sendiri,” ujarnya.
Ajakan membangun sikap yang altruistik ini, dikonkretkan Yesus secara nyata menyedihkan dalam perayaan Jumat Agung, meski teramat menyedihkan di mata umat. Namun demikian umat Katolik Paroki St Yosep Pekerja Kleak merasa bersyukur karena boleh merasakan dan menyelami secara dekat penderitaan Yesus yang adalah Allah dan manusia menderita di siksa dan wafat disalib, lewat prosesi jalan salib dan atraksi penyaliban Yesus. 
Bagi Pastor Ansow yang juga adalah dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ini, salib dan kematian Yesus menghadirkan cinta kasih Allah yang tak terhingga. “Tuhan sungguh mencintai manusia. Ini dibuktikanNya dengan rela disiksa, di salib dan akhirnya wafat di palang penghinaan itu. Bahwa cinta kasih Allah itu mengalahkan keberdosaan dan kesalahan kita. Ia tidak berdosa tapi dijadikan pendosa agar kita diselamatkan,” tegasnya.
Namun cinta kasih yang harus berakhir tragis ini ternyata membuka gerbang kegembiraan dan pengharapan yang besar, di mana umat manusia khususnya umat Katolik di Paroki St Yosep Pekerja Kleak bisa menuai hidup baru. Karenanya tak heran bila menurut pastor asal Tanawangko ini, perayaan Malam Paskah dan Paskah adalah perayaan yang sungguh sangat mengagumkan dan menggembirakan. 
“Mengapa? Karena inti iman dan dasar pengharapan kita ada di sana, yakni Yesus Bangkit dari alam maut. Dengan kebangkitanNya, martabat kita ditinggikanNya dari lumpur dosa dan kita diselamatkan. Dan keselamatan inilah yang membuka lebar-lebar gerbang iman dan pengharapan kita akan sebuah hidup baru. Di sanalah kemuliaan Allah akan nyata dan kepekaan akan kemanusiaan menjadi lebih konkret dan sempurna. Kristus bangkit supaya kita hidup tapi hidup dalam kepenuhanNya,” paparnya.
Di akhir percakapannya, Pastor Ansow menyatakan rasa syukurnya karena rangkaian perayaan Trihari Suci dan perayaan Paskah berlangsung khusuk dan damai. “Mudah-mudahan lewat rangkaian perayaan ini umat Kristiani di Sulut bisa menjadi pelopor untuk membangun rasa kepekaan dan solidaritas yang tinggi dan mendalam bagi bangsa ini, sekurang-kurangnya bagi sesama manusia yang berada di sekitar kita. Agar kita boleh berlangkah pasti menuju sebuah habitus baru,” pesannya. (simon)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin