HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

19 April 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Koreksi atas tanggapan/jawaban Drs Joutje Sendoh
Babak III Pelurusan Sejarah Manado dan Minahasa (4)

(Oleh Ir. Joutje A. Koapaha PhD)

 IKUTI BERITA LAIN

Pembentukan Daerah Otonom Baru, Perlukah?

 SURAT PEMBACA

Pelayanan Kesehatan Masyarakat SITARO masih Kurang

 COMMENTAREN

Pendidikan Sulut Hadapi ‘Cobaan’


4). Salah satu data/informasi pendukung dan pembanding yang lain adalah keberadaan situs purbakala peninggalan leluhur Toubantik yang dikenal dengan Batu Kuangang dan Perigi Tujuh (Lrimbuong pitu). Yang terkait dengan legenda/mitos ceritra seorang pemuda Toupondaigi bernama Kasimbaha yang berhasil memperistri Utahagi yang merupakan putri bungsu dari 7 (tujuh) putri kakak-beradik yang berasal dari Kayangan (luar angkasa). Tujuh (7) buah perigi tersebut merupakan tempat mandi ke-7 putri/peri asal luar angkasa dimaksud. Peninggalan situs purbakala ini terdapat sekitar perumahan Dolog Kelurahan Malalayang I sekarang, yang pada jaman dahulu merupakan wilayah kepemimpinan Bantik Mandolrang. Pada tahun 1988, tim ahli purbakala yang disponsori oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan R.I sempat datang melakukan penelitian atas situs tersebut. Dari hasil kajian lapangan dan rekomendasi penelitian, Drs. Uka Tjandrasasmita, Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Ditjen Kebudayaan R.I menyimpulkan bahwa peristiwa Batu Kuangang (yang dikenal sebagai batu-purba dengan ornamen 17 lobang) terjadi sekitar 2500 (dua ribu lima ratus) tahun lalu atau 500 tahun Before Christ (BC). Jika klaim Drs. Tjandrasasmita melalui suratnya nomor: 09/C1/F5.1/1989 tertanggal 3 Januari 1989 yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Sulawesi Utara Up. Kepala Bidang Muskala di Manado adalah benar, ini berarti cikal bakal leluhur Toubantik telah mendiami daratan Malesung sejak era Megalitikum (pra-sejarah). Dengan kata lain, aspek primus interparres lapangan membuktikan bahwa eksistensi leluhur masyarakat Bantik di tanah Malesung jauh melebihi timing eksistensi etnis Tonsea, Etnis Tombulu, Etnis Tousawang, Etnis Toutumaratas, dan Etnis Tolour. Namun disisi lain hal ini membuktikan kebenaran klaim penulis sebelumnya bahwa mitologi Bantik melalui slag-bom keluarga para lehuhur Toupondaigi yang mencatat eksistensi 17 (tujuh belas) generasi/keturunan keluarga, termasuk keluarga Toar dan Lumimuut. Atau penulis dapat katakan bahwa mereka sebagai generasi Minahasa sampai dengan kehadiran Bahterah Nuh dan Air Bah. Yang akan dibahas pada bagian berikutnya. Jadi bila pak Sendoh ingin tahu lebih jauh, maka boleh saja kontak penulis untuk membaca surat dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala DEPDIKBUD tersebut. 
5). Sebagai salah satu pembanding yang lain adalah fakta keberadaan nama keluarga (fam) atau marga yang terbawah-bawah (diwariskan) dalam masyarakat Bantik sekarang, dimana sejak dahulu sampai sekarang mereka adalah keturunan Touminahasa asli (bukan karena campur baur perkawinan sebagaimana tebak-tebakan pak Sendoh). Sebab marga asli Minahasa tercatat sebagai pemimpin leluhur Bantik pada jaman dahulu yang didokumentasi oleh Pdt. M. Kiroh (1968), Pdt. Frederik Abuthan STh (1977), Nelis Mopay dan Arnold Bobanto (1999) dan P.A Mendagel (1914) bukan hanya Mailangkai (Maidangkai), Lombogia, Roring atau Roringkon atau Roringpandey, Tompunu, Moniaga, Mandagie, Samola, Suawa, Gerung, Sibu atau Siwu, Sualrang atau Sualang, Mbolrang atau Bolang, Poluan, Asa atau Assa atau Assah. Tetapi fakta lapangan membuktikan keberadaan marga asli Minahasa tersebut dalam masyarakat asli Bantik sekarang disamping juga marga-marga atau fam seperti antara lain: Ratulangi atau Datulangi, Supit, Wenas, Lrontoh atau Lontoh, Dotulong, Pontoh, Punuh, Sengkey, Mamengko, Umboh, Rumondor atau Lrumondoho, Pangemanan, Pinontoan, Rumambi, Huntu atau Runtu, Kopitoy, Rompas atau Dompas, Tangkawarouw atau Tangkabahouw, Sundalrangi atau Sundalangi, dst. Bahkan kebanyakan dari mereka masih terarsip dalam silsilah keluarga (slag-bom) keturunan para leluhur Toubantik Sulawesi Utara. Marga-marga ini adalah paten asli Bantik dan sama sekali sangat keliru kalau pak Sendoh beranggapan bahwa hal ini adalah suatu dramatisir penulis dengan cara “mem-banti-kan” mereka atau karena percampuran kawin. Dengan penerapan persyaratan adat yang sangat keras dan ketat oleh para leluhur Bantik, maka nona/cewek Bantik pada jaman dahulu tidak mudah atau sangat sulit untuk dipinang atau dikawini oleh pemuda yang bukan orang Bantik. Apalagi lelaki non-Bantik tersebut mau jadi pimpinan masyarakat suku Bantik, hal ini tidak mungkin. Terkecuali pemuda non-Bantik tersebut memiliki status atau kedudukan sebagai: raja/pangeran, kepala suku, atau dia sebagai seorang pemuda yang luar biasa kehebatannya seperti yang terjadi pada kasus-kasus perkawinan nona-Bantik dengan: Dotu Ruruares, Dotu Lengkong yang menculik nona-Bantik bernama Boki (kisah Lengkong Buaya), Dotu Lolong Lasut, raja Bolmong Busisi, raja Bolmong Makalalo, raja Bolmong Mokodompit, raja Bolmong Loloda Mokoagouw, dan pangeran Buol Toli-Toli (pangeran Torindatu yang mengawini Boki toubantik). Mereka dapat saja mengawini nona atau cewek suku Bantik, tetapi pada nyatanya mereka tidak pernah menjadi pemimpin dalam masyarakat suku Bantik karena berpantangan dengan hukum adat. Buku P.A. Mendagel (tahun 1914) mencatat kisah seorang pemimpin leluhur Bantik Mandolang yang bernama Asa, dengan mendapat julukan (gelar) Asa “Mandolrang Si Dohoma’nutu” karena ketegasan dan kelurusannya dalam melaksanakan tugas dan memutus suatu perkara. Jadi pengetahuan anda tentang Minahasa tua ternyata sangat ketinggalan atau hanya pada bagian kulitnya saja. Sebab sudah sejak lama penulis turut mempertanyakan: mengapa ada persamaan marga/fam antara masyarakat asli Bantik sekarang dan masyarakat asli Minahasa lainnya ?. Atau dengan kata lain: mengapa terdapat marga Moniaga, Supit, Kopitoy, Wenas, Sengkey, dan Mandagie yang merupakan warga asli Bantik di Kelurahan Bengkol, Kelurahan Buha, Kelurahan Singkil, dan Kelurahan Malalayang I (merupakan contoh basis masyarakat Bantik sekarang), sedangkan disisi lain marga-marga tersebut juga banyak dijumpai di Daerah Minut, Tomohon, dan sekitarnya. Pertanyaan ini akhirnya terjawab (sebagian) setelah penulis bersama anggota Tim Proyek Bantik Rediscovery 2006-2007 mengunjungi Desa Batu Likupang Timur (Minut) pada Sabtu 16 Februari 2006, dengan maksud melakukan pengujian lapangan tentang keberadaan Waruga/Kuburan dari Dotu Ruruares yang ditulis oleh Room Palenewen pada kolom surat pembaca harian Komentar yang terbit Jumat, 6 Januaari 2006. Bahkan para tetua Desa Wioi (Ratahan) diatas menuturkan pada penulis bahwa pendiri Desa Minanga di Ratahan dan Desa Minanga di Manado (sebelum dirubah menjadi kelurahan Malalayang sekarang) serta juga Desa Minanga di Talaud (sebelum dirubah menjadi Lirung sekarang) adalah dotu Bantik yang bernama Supit dan kawan-kawan. Dari kujungan lapangan dan berdiskusi dengan salah seorang tetua Tonsea bernama Yohan Makarau (mantan lurah Desa Batu), ternyata banyak didapatkan kisah-kisah menarik dan menajubkan tentang kedatangan leluhur Bantik yang tumani dan tertinggal di wilayah Desa Batu pada jaman dahulu. Kemudian marga-marga tersebut tertinggal dan berkembang turun temurun sampai sekarang di wilayah Batu dan Minahasa Utara. Simak penjelasan penulis berikutnya. Juga berdasarkan ceritra legenda Bantik yang ditulis oleh Nelis Mopay dan Arnold Bobanto (1999) tentang kisah bagaimana mereka mula-mula menemukan tanaman padi (rice) yang berasal dari Kayangan (Kalrutuan), dimana nama MANGINDAAN tercatat sebagai perwalian Kayangan yang hadir dalam musyawarah leluhur Bantik yang dipimpin oleh MUNTU’NTU. Jadi disarankan buat pak Sendoh, yaitu jangan hanya sekedar mengutip para narasumber/literatur tersebut (apalagi membawa-bawa MKM dan nama-nama orang tertentu yang kebetulan saja hadir pada seminar MKM), tetapi lakukanlah pendalaman (crossed-check) literatur dan pengujian lapangan atas substansi literatur terkait agar pemaparannya komprehensif dan berbobot secara ilmiah !!.

GENERASI MINAHASA SAMPAI DENGAN BAHTERAH NUH DAN AIR BAH

Berdasarkan ceritra legenda Bantik yang ditulis oleh Pdt. Frederik Abuthan STh dan Pdt. E.A. Koapaha, tanah Malesung nanti eksis setelah timing Bahterah Nuh dan Air Bah. Kita semua tahu berdasarkan KITAB SUCI umat Nasrani (Alkitab), bahwa banjir yang mendunia tersebut telah memusnahkan seluruh permukaan bumi. Jadi sebelum tanah Malesung eksis, geografy tanah Minahasa pada jaman dahulu dikenal dengan Pamaedan. Pamaedan (kata dan maknah Bantik) artinya tempat seka-kaki (keset) para dewa-dewa Kayangan. Dalam kurun waktu tertentu, tanah Pamaedan (cikal bakal dari Malesung) akhirnya dihuni oleh manusia yang berdasarkan slag-bom (silsilah keluarga) dan dokumen mitologi Bantik, geneologi para manusia yang mendiami tanah Pamaedan dapat diurut secara harfiah atau terwakili oleh 17 (tujuh belas) generasi keluarga pasangan suami-istri yang terdiri dari: 1) Buingbuing-Roringpandey, 2) Pakuwaan-Kakuwaan), 3) Rumamban-Katuran, 4) Bakeso-Balrianbangko, 5) Souben-Farusa, 6) Duyduy-Kyokyoko, 7) Sambeduata-Habentalrimboken, 8) Kadoza-Palrengko, 9) Dodobuon-Ginandan, 10) Daimin-Hokaiduata, 11) Komang-Yuhapo’ndo, 12) Runanben-Komang, 13) Sahosunaho-Sahenajan, 14) Bagata-Bakolro, 15) Batutuhe-Tolraming, 16) Lruminggolrong-Kadema, dan 17 Toada-Lrumimuutu. Setelah dilanda oleh Air Bah dan kemudian surut, katanya hanya seorang ibu bernama Tolraming dan putrinya Lruminggolrong yang tertinggal tidak binasa di tanah Pamaedan. Alkisah kehadiran seorang titisan dewa super sakti bernama Kadema atau Karema turun dari Kayangan dan mendarat disebuah atol tanah Pamaedan yang berbentuk Tandusang (beting) karena masih terdapat genangan sisa-sisa Air Bah. Dari atas atol tersebut, Empung Karema bersabda agar tanah Pamaedan yang baru saja dilanda Air Bah tersebut ditumbuhi oleh segala jenis rumput-rumputan dan pepohonan termasuk tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia. Kemudian Karema mendengar sebuah teriakan orang yang berasal dari bawah sebuah batuh besar pada tandusang (bahasa Bantik disebut “Moada”) tersebut. Setelah batu digolekkan, muncullah seorang pemuda yang oleh Karema dinamainya sebagai Toada (Toar) karena ditemukannya di sebuah Moada atau Tandusang. Setelah Air Bah surut total dan pada suatu kurun waktu tertentu, Kadema bersama Tolraming, Lruminggolrong, dan Toar ketika sedang menelusuri dan menikmati keindahan alam pesisir pantai tanah Malesung, mereka menemukan sebuah batu berbentuk aneh yang dinamai mereka sebagai “Batutuhe” atau batu nahi’sasuhe yang terdapat diatas gundukan pasir. Bentuk batu dikatakan aneh karena layaknya sepasang pria dan wanita yang sedang melakukan hubungan badan/seks. Dengan cambuk ditangan Kadema kemudian menggaris batu tersebut dengan batang cambuk yang akhirnya batu terbelah/terpisah. Setelah Batutuhe terbelah, ternyata didalamnya terdapat tubuh seorang wanita yang masih hidup terbungkus dengan lumut (Lrumu). Kadema menamai temuan mereka tersebut sebagai Lrumimuutu, karena didapati dalam keadaan terbungkus lumut. Pendek ceritra, Kadema yang merupakan titisan seorang dewa tersebut menjelma (merubah wujud) menjadi manusia dan akhirnya mengawini Lruminggolrong, dimana sepasang suami-istri ini memelihara dan mengawinkan pemuda Toar dan Lumimuut. Dimana mereka dikatakan mendiami dan berbiak turun-temurun di tanah Malesung setelah paska banjir besar Air Bah melanda dunia, termasuk tanah Pamaedan. Ceritra legenda eksistensi generasi manusia sampai dengan dan sesudah timing Air Bah di tanah Malesung, mungkin hanya satu-satunya terdapat dalam masyarakat suku Bantik sekarang.
Kita tahu bersama, bahwa jumlah keragaman versi tuturan peristiwa pertemuan dan perkawinan antara Toar dan Lumimuut ada puluhan. Bahkan sampai sekarang masih sangat kontradiktif, bahkan timbul kerancuan, dan simpang siur penerimaan diantara sesama etnis dan adat Minahasa terutama menyangkut format “anak kawin mama”. Namun berdasarkan versi tuturan Bantik yang valid, ternyata tidak dijumpai atau dikenal istilah “anak kawin mama” (the son fucks the mom) dalam hubungan Toar dan Lumimuut sebagaimana yang sering dijumpai dalam tulisan/tuturan yang lain. Dari buku M. Kiroh dan Pdt. F. Abuthan STh, turut dinyatakan kehadiran seorang panglima perang asal Negeri Cina/Tiongkok yang bernama Bantek, dimana kemudian berasimilasi dengan puak Pondaigi (cikal bakal etnik Bantik) yang bermukim di wilayah Mandolrang termasuk Tanahlramo (Tanah Wangko) pada jaman dahulu. Bila Lumimuut adalah putri Lu Mie Nio yang terdampar di tanah Malesung pada jaman dahulu (sebagaimana klaim Remi Sylado dan almarhum Kale Pinontoan) dan kemudian terkait dengan kehadiran seorang panglima asal kerajaan Tiongkok “Bantek” di tanah Malesung, maka hal ini singkron/sejalan dengan versi tuturan sebagian tetua masyarakat Bantik Manado sekarang. Bahkan turut dijelaskan oleh Kiroh dan Abuthan bahwa panglima Bantek setelah berasimilasi dengan Pondaigi, selanjutnya mengajak sebagian masyarakatnya untuk berlayar mengarungi lautan dan kemudian menemukan beberapa pulau di kepulauan Talaud (Talraodo) sekarang, seperti antara lain pulau Kadakelran (Karakelang), pulau Salribabu (Salibabu), pulau Kabalruan (Kabaruan) dan pulau Panimbulran. Setelah bersosialisasi dan kawin dengan wanita Pondaigi, panglima Bantek sempat mengajarkan leluhur Pondaigi tentang ilmu perbintangan dan navigasi kelautan. Pada publikasi koran sebelumnya, penulis katakan bahwa sebelum bapak Mayor (Purn) TNI John Rahasia meninggal, beliau sempat sampaikan pada penulis bahwa Pak John mengetahui ceritra tentang leluhur Minahasa Toar dan Lumimuut untuk pertama kalinya setelah mendengar tuturan dari opanya (grandfather) yang pada jaman dahulu, leluhurnya bergaul dekat dengan para leluhur Bantik yang terdapat di kepulauan TALAUD. Klaim ini dapat penulis buktikan di lapangan dengan keberadaan keturunan leluhur masyarakat Bantik dan gunung Bantik yang terdapat di kepulauan Talaud sekarang. Ikuti tulisan penulis yang berjudul Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa yang akan mengetengahkan lebih lengkap mitologi dan eksistensi suku Bantik Talraodo (TALAUD) pada publikasi berikutnya. 
Pada hari Sabtu 18 Februari 2006, penulis bersama Bapak Drs. Pinudu Ronoko dan ke-2 (dua) putra-putrinya, Bapak Letkol (Purn) TNI Robby Mongisidi, dan Bapak Hans Damo mengunjungi Desa Batu Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahsa Utara. Maksud kunjungan ke Desa Batu adalah untuk melakukan observasi dan pengujian lapangan atas tulisan sdr. Room Palenewen perihal eksistensi Dotu Ruruares yang termuat pada kolom Surat Pembaca harian Komentar yang terbit pada Jumat, 6 Januari 2006. Dari hasil observasi lapangan, ternyata Waruga/Kuburan Dotu Ruruares terdapat dihalaman samping belakang dari rumah keluarga Moniaga-Wongkar, sebagai waris dari Ruruares. Dengan Bapak Yohan Makarau sebagai pemandu lapangan, penulis dan tim mendapatkan banyak informasi/data tentang sejarah asli Minahasa khususnya Minahasa Utara yang terkait dengan kehadiran Ruruares dan keluarganya seperti: Pingkan, Moniaga, Assa, dan Kopitoy yang ternyata merupakan Toubantik asli asal Wenang. Bapak Yohan Makarau selaku mantan Kepala Desa Batu dan juga sebagai pensiunan TNI A.D, mengetahui kisah Dotu Ruruares dan keluarganya (termasuk pemekaran desa-desa sekitarnya) bersumber dari berbagai tuturan para leluhur Desa Batu yang hidup sebelum tahun 1980-an. Seperti diantaranya: almarhum Rumambi Reiner Makarau (ayah kandung pak Yohan), almarhum Karel Gerard Pantouw-Roli, dan buku sejarah tentang kelahiran Desa Batu dan pemekaran desa-desa sekitarnya yang ditulis (tulisan tangan) oleh almarhum Daniel Rotie dan Manuel Moniaga. Dimana keduanya merupakan orang pertama terpelajar di Desa Batu. Buku tulisan tangan oleh almarhum Daniel Rotie dan Manuel Moniaga menurut pak Makarau sekarang ada pada dr. Rudy Rotie di Kalawat Bawah. Dalam diskusi kelompok kecil tersebut pak Yohan menuturkan bahwa pada tahun 1378, Dotu Ruruares dengan istrinya bernama Pingkan yang sangat muda nan cantik merupakan sepasang suami-istri yang pertama-tama datang tumani dan menemukan Desa Batu sekarang. Bahkan di Kabupaten Minut khususnya wilayah Likupang Timur, kelahiran Desa Batu tergolong sebagai desa yang paling tua bila dibanding dengan desa-desa yang lain. Pingkan dikatakan sebagai wanita Bantik asal Wenang (Pogidon), yang adalah perkampungan leluhur Bantik pada jaman dahulu. Dotu Ruruares dikatakan memasuki wilayah Batu dalam usia lanjut (50-an) dan berprofesi sebagai seorang tukang obat (Balrian=Walian). Sebelum Ruruares datang ke Batu, dia terlebih dulu pergi ke Ares/Wenang dan bertemu serta mengawini seorang nona Bantik bernama Pingkan disana. Yang menjadi sangat interes dari tuturan pak Yohan adalah kisah Pingkan (istri Ruruares) yang masih sangat muda dan publik atraktif. Karena kelincahan dan kecantikannya, Pingkan sempat diperebutkan oleh 2 (dua) Dotu lainnya yang jauh lebih muda (dari suaminya Ruruares), yaitu Dotu Rotie dan Dotu Kopitoy. Namun kisah perebutan/tanding untuk mendapatkan Pingkan dan bagaimana kehebatan Dotu Rotie (asal Langowan) yang berperang mengalahkan pasukan bajak laut Mangindanouw di Pantai Pulisan-Likupang yang pimpinannya adalah seorang wanita sakti (bernama Sara = panglima pasukan bajak laut Mindanau) dapat diikuti pada Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa. Jadi sekali lagi penulis himbau pak Sendoh untuk lakukan pengujian dan elaborasi lapangan atas substansi yang disadur/dikutip dari buku-buku/makalah yang digunakan tersebut, agar pemaparan dan klaimnya benar-benar holistik-komprehensif, dalam arti dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Perihal Pulisan, penulis telah jelaskan secara etimologi terkait dengan arti dan bahasa Bantik, jadi tidak perlu dipertentangkan lagi. Begitu pula dengan kata Lian atau Lriang yang ternyata adalah juga kata dan maknah Bantik, yang artinya sebuah gua yang pada bagian bawahnya terdapat air laut/pasut. Jadi kalau orang Tondano dikemudian hari mengunjungi Lriang (tempat yang awalnya telah ditemukan dan dinamai oleh leluhur Bantik) di wilayah Pulisan dan akhirnya terbawah/terkait dengan pemekaran berdirinya sebuah distrik Touliang di Tondano (sekarang), maka hal itu sah-sah saja dan tidak perlu dipertentangkan. Sebab logisnya, kehadiran dan penggunaan sebuah kata atas sebuah tempat tertentu tidak dapat dipisahkan dari aspek etimologi kata tersebut dan anthropologi dari penemu/pemakai pertama (the first founder) dari tempat tersebut.
Oleh karena Ruruares dan Pingkan tidak memperoleh anak/keturunan, maka mereka meng-adopsi 2 (dua) anak remaja lelaki bernama Moniaga dan Assa. Kedua remaja tersebut merupakan anggota keluarga dari Pingkan sendiri yang dibawah dari Wenang yang pada waktu itu masuk dalam wilayah kepemimpinan leluhur Bantik Pineleng-Mandolrang. Jadi dapat ditelisik dan diketahui disini perihal asal-usul fam/marga Moiaga dan Assa (yang awalnya merupakan anak angkat dari dotu Ruruares dan Pingkan yang kemudian keturunan mereka tertinggal dan berkembang di Desa Batu dan wilayah MINUT sekarang) yang ternyata merupakan keturunan asli leluhur masyarakat Bantik Wenang pada jaman dahulu. Dotu Ruruares bergelar Wadlyitang karena batu besar yang teralas kena api (kinapian dari udara) disekitar sungai (sekarang disebut Sungai Batu) menjadi hangus/hitam dan dikatakan meninggal pada tahun 1430. Dotu Ruruares dan para leluhur Tonsea menamakan Manado (sekarang) sebagai Wenang, karena keberadaan hutan kayu yang didominasi oleh sejenis pohon berdaun lebar yang tumbuh lebat disekitar perbukitan sebelum dibangun eks Rumah Sakit Gunung Wenang, demikian ungkap pak Makarau. Beliau juga menuturkan kepada kami bahwa tidak ada kait-mengkait antara Dotu Ruruares dan eksistensi Lolong Lasut yang nanti berada di Wenang 1 (satu) abad setelah kehadiran kolonial Belanda. Jadi kebenaran pernyataan pak Ben Wowor pada tahun 1970-an dan kemudian klaim penulis tentang rekayasa dan manipulasi sejarah Manado serta pembohongan publik tentang keberadaan tugu/patung Lolong Lasut yang dinyatakan sebagai penemu dan pendiri negeri Wenang semakin terbukti. Pemerintah kota Manado sekarang (pihak eksekutif dan legislatif) harus menjelaskan kepada publik siapa sebetulnya Dotu Lolong Lasut ?? dimana tugu dan patungnya telah direkayasa (dimanipulasi) oleh pejabat pemerintah kota Manado terdahulu sebagai monumen historis berdirinya kota Manado sekarang. Bila PEMKOT Manado tidak akan menanggapinya secara serius (dengan kata lain tidak melakukan pembetulan/koreksi), maka berdasarkan data dan saksi hidup yang ada (sedang terkumpul) kami akan lakukan class action (gugatan) terhadap pemerintah setempat.
Forum kalayak pembaca yang budiman, mengakhiri tulisan ini penulis secara tulus sekali lagi katakan bahwa walaupun kami yang senama ini sudah saling kritik, saling cecar/tuding satu sama lain, saling menyalahkan, saling cemoh satu sama lain, itu hanya sebatas kata-kata/tulisan belaka. Bagi penulis, itu tidak pernah tersimpan dalam lubuk hati dimana hal ini tercermin dalam hubungan antara kami berdua yang saling tegur-sapa dan ngobrol secara santun/baik-baik bila ketemu dalam forum-forum tertentu. Lagi pula karena memperhatikan saran teman-teman akademisi agar penulis terus menulis dengan melakukan library research dan pengujian lapangan sebagaimana yang sudah-sudah dan sedang jalan selama ini. Penulis yang adalah bukan seorang pakar sejarah (tapi karna nyanda ada orang yang peduli dan melakukannya terutama diantara para ahli/pakar sejarah) memaklumi berbagai keterbatasan/kendalah terutama menyangkut aspek pendanaan. Namun sebagai seorang profesional dan ilmuwan penulis akan berupaya seoptimal mungkin untuk menyajikan artikel-artikel yang memenuhi persyaratan suatu karya tulis ilmiah tentang sejarah dan budaya Minahasa masa kini dan tentunya nanti masyarakat/kalayak pembaca yang tentu akan menilainya secara objektif. Juga penulis diminta untuk tidak lagi berdebat “secara tidak berimbang” (karena ternyata keluar dari contex substansi dan argumentasi pokok persoalan) dengan pihak penanggap. Ulasan penanggap tentang Manado penulis tidak perlu lagi mengomentarinya, sebab sebelumnya penulis telah jelaskan secara rinci (dan bahkan lebih lengkap) perihal aspek-aspek: etimologis, geneologis, antropologis, historis, dan bahkan yuridis dari substansi tersebut. Hanya saja penulis perlu garis bawahi bahwa burung Manguni biasanya memberi petunjuk pada malam hari, dan adalah sangat-sangat-sangat jarang …. , bahkan jarang sekali Manguni bersuara pada siang hari. Bila Manguni bersuara pada siang hari, maka alamatnya hanya satu yaitu peringatan tentang sesuatu yang buruk/jahat akan terjadi. Namun sebagai seorang kristiani sejati, Tuhan Jesus dapat merubah sesuatu yang buruk atau yang jahat sekalipun, apabila dia beriman dan berserah sungguh pada-NYA. Jadi suara Manguni bagi penulis, hanya merupakan salah satu pengetahuan (bukan yang terutama dan yang di-imani) yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Juga paparan penanggap perihal keberadaan masyarakat Buol (Toli-Toli) dan Pasan (Ratahan), adalah kurang lengkap sebab hanya menyentu bagian-bagian tertentunya saja. Sebab pak Sendoh tidak dapat menjelaskan mengapa ada Gunung Bantik dan masyarakat asli Bantik di daerah Toli-Toli (Sulteng) dan bahkan penanggap pasti tidak tahu bagaimana sampai terjadi penamaan Toli-Toli yang berasal dari bahasa dan arti asli Bantik “Tontolri”. Silahkan ikuti hasil observasi dan kajian lapangan penulis dan tim di Daerah Buol Toli-Toli dan Talaud pada Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa. Penulis sarankan agar pak Sendoh juga perlu membaca tulisan J.N Wiersma yang merupakan misioner asing yang sempat tinggal/berada di tengah-tengah masyarakat Ratahan pada waktu lalu. Penulis bersama anggota tim Proyek Bantik Rediscovery 2006-2007 juga sedang mempersiapkan kunjungan lapangan ke Seram/Halmahera Utara dan Filipina dimana pada kenyataannya, di daerah-daerah tersebut terdapat masyarakat keturunan suku Bantik Malesung sampai sekarang. 
Penulis tidak dapat menampik tanggapan dan sanggahan dari kalayak pembaca koran ini seperti antara lain oleh: Room Palenewen dan Boy Kusoy. Bahkan kritik dan saran Boy Kusoy dalam ulasan “Surat Pembaca” yang berjudul Akademisi Dan Kesejarawan Drs. Joutje Sendoh Dipertanyakan, terbit di harian Komentar pada hari Rabu (15/2) 2006, penulis anggap merupakan suatu dinamika ilmiah dan diskusi dalam upaya menemukan suatu kebenaran yang hakiki tentang sejarah Minahasa. Sebab pernyataan pak Sendoh (menurut Boy Kusoy) dengan mengatakan bahwa ke-2 sejarawan Minahasa “Mayor Bert Supit dan almarhum Frans S. Watuseke adalah putar-bale dalam makalahnya yang omong kosong itu” adalah sangat konyol, menghakimi, dan tidak akademisi. Akhir kata, insyah Allah kita akan ketemu lagi pada kesempatan mendatang dengan judul “Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa”.

Pandu 29 Maret 2006.

Ir. Joutje A. Koapaha PhD, 
Direktur Eksekutif Lembaga Persatuan dan 
Musyawarah Suku Bantik Indonesia.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin