|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
BKSDA Sulut tinjau Gunung Ambang
Sualang: Tidak Ada Ampun Bagi Pelaku Illegal Logging
|
Penyebab banjir bandang di Kecamatan Modayag yang selama ini masih sebatas dugaan mulai menemui titik terang, ketika Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut turun ke Bolmong. Di mana banjir itu diakibatkan oleh penggundulan hutan Gunung Ambang yang masuk kategori kawasan konservasi. Olehnya, JM Sualang selaku Kepala Seksi Konservasi Wilayah I dengan wilayah pengawasan meliputi Minahasa, Bitung dan Bolmong, me-warning tak akan pernah ada ampun bagi para oknum pelaku illegal logging yang turut berkontribusi atas terjadinya banding bandang.
“Ada juga pengusaha yang turut membabat cagar alam Gunung Ambang. Bila tertangkap, pasti tak ada ampun bagi mereka. Siapapun dia atau siapapun oknum pejabat yang melindunginya,” tandas Sualang saat ditemui di kantor Dishutbun kemarin siang.
Tanpa bermaksud mempersalahkan pihak ketiga, Sualang pun menjelaskan bahwa kawasan konservasi atau cagar alam Gunung Ambang yang kini telah gundul, sebenarnya penagwasannya sudash diserahkan ke Balai Taman Nasional Dumoga Nani Wartabone (DNW) sejak tahun 1984. Tapi kemudian tanggung jawab dialihkan lagi kepada BKSDA dua tahun silam, 2004. Dan saat itu, kata dia, sebagian kawasan ini sudah dijadikan wilayah perkebunan warga sekitar.
“Mereka yang membuka lahan perkebunan di sini di antaranya beberapa warga Desa Liberia, Moyongkota dan Bangunan Wuwuk. Mereka membuka lahan perkebunan seperti cengkih, kelapa dan kopi, di sekitar kali yang baru saja banjir,” kata Sualang.
Diakui juga, pihaknay memang cukup kelabakan melakukan pengawasan di kawasan konservasi Gunung Ambang seluas sektiar 21 ribu hektar, karena di Bolmong ini hanya ada tiga personel saja. “Namun kami tetap b erupaya semaksimal mungkin. Dan untuk saat ini, langkah yanga kan dilakukan adalah meningkadkan penyuluhan, terutama kepada masyarakt tentang bahaya membuka lahan perkebunan di kawasan konservasi. Sebab mungkin saja mereka belum tahu soal ini,” kunci dia memberikan solusi.
Di sisi lain, Ketua LSM Surya Madani, Salim Landjar mencoba memberikan solusi, bahwasanya kegiatan Gerakan Reboisasi Hutan (Gerhan) berupa penanaman bibit pohon yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat ini, bisa saja dialihkan ke kawasan Konservasi Gubung Ambang yang telah Gundul. “Ini adalah keadaan darurat, jadi tidak ada salahnya kalau sebagian lokasi proyek Gerhan di Dishutbun dialihkan ke Gunung Ambang. Jika tidak sekarang, bolej jadi musim penmghujang akhir tahun ini akan terjadi banjir bandang yang lebih dahsyat lagi,” saran Landjar, sembariu menekankan tidak ada maksudnya untuk menakut-nakuti masyarakt.(tus)
|
|