|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Ketika Kaum Buruh Bersuara Di Tengah Ancaman
HIV-AIDS
|
KAUM buruh Sulut selalu diidentikan dengan dunia ketenagakerjaan. Kesejahteraan, PHK, Upah, UU Ketenagakerjaan, adalah bagian penting dari perjuangan kaum buruh yang tak kelan lelah. Tapi bagaimana kalau kaum buruh dikaitkan dengan masalah HIV-ADS?
Itulah yang terjadi di Ritzy Hotel, Kamis (20/04) kemarin. Sejumlah pengurus dan anggota organisasi buruh berkumpul untuk mengikuti seminar membahas permasalahan seputar HIV-AIDS. Bahkan, sejumlah organisasi pengusaha dan LSM-LSM turut dilibatkan dalam kegiatan yang berlangsung dua hari ini.
Antusiasme pun terpancar dari wajah para kaum buruh Sulut dan sejumlah stakholders ketenagakerjaan lainnya, tatkala kegiatan yang diprakarsai organisasi buruh Indonesia yang berpusat di Jakarta ini.
“Tak bisa kita menjamin tak akan ada HIV-AIDS di dunia ketenagakerjaan. Bisa saja suatu saat satu dari ribuan kaum buruh Sulut teridentifikasi penyakit yang mematikan ini. Di sinilah kami meminta sikap profesionalisme dan nurani kemanusiaan dari pihak pengusaha dan pemerintah. Yang pasti jangan kucilkan kami,” ungkap Ketua KSBSI Sulut Tommy Sampelan SH.
Harapan kaum buruh sebagaimana yang dituturkan Sampelan bukannya tanpa dasar. Karena ada aturan yang menjamin pengharapan tersebut. Setidaknya, Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 68 tahun 2004 tentang “Pencegahan HIV-AIDS di Tempat Kerja” menjamin bahwa kalau ada buruh teridentifikasi HIV-AIDS jangan sampai yang bersangkutan didiskriminasikan apalagi di PHK-kan dari perusahannya.
Sampelan pun berharap, melalui pelaksanaan kegiatan ini dapat dibangun sinergitas pemahaman dan tindakan tentang masalah ini sekaligus pembuatan rencana aksi bersama yang melibatkan semua komponen yang terlibat dalam dunia ketenagakerjaan.
Kegiatan ini dibuka Kepala Dinas Tenaga Kerja Sulut Robby Mondigir SE mewakili Wakil Gubernur Sulut Freddy Sualang. Sualang yang juga adalah Ketua Penanggulangan AIDS Propinsi Sulut dalam sambutannya yang dibacakan Mondigir mengungkapkan, tak bisa dipungkiri kalau penyakit HIV-AIDS juga berpotensi di dunia kerja. Dan kaum buruh sebagi subyek dalam dunia kerja patut mewaspadai potensi ini.
“Karena itu dengan mengetahui dan memahami masalah ini sedini mungkin kita bisa menghindari ancaman penyakit ini. Jangan sampai ada korban AIDS di dunia kerja kita masing-masing,” pinta Sualang.(imo)
|
|