|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Pertemuan AWC Serius Bahas Kekerasan Terhadap Perempuan
|
KEGIATAN bernuansa religi yang dilaksanakan oleh Asia Woman Conference (AWC) di Pantai Indah Kalasey Cottage, Rabu (19/04) kemarin mening-galkan kesan tersendiri bagi peserta yang hadir.
Pasalnya dalam iven ini peserta yang terdiri dari wanita gereja se Asia ini, serius membahas masalah kekerasan terhadap perempuan. Yang dinilai merupakan persoalan krusial yang dihadapi kaum perempuan maupun anak-anak dewasa ini.
Sesuai dengan tema utama yang diangkat yakni “Awarness, Connect dan Help”, menan-dakan bahwa sebagai aktivis gereja, sudah saatnya untuk bergerak dan membantu sesama yang membutuhkan yakni melalui uapaya penyadaran, saling menghubungi dan membantu-nya. Hal ini pun sejalan dengan pesan Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia Hatta, tatkala menyampaikan pesannya dalam acara pembukaan.
Dikatakan Wakil Presiden Mission 21 Asia, Pan Li Ju asal Taiwan, kekerasan terhadap pe-rempuan saat ini makin signifikan peningkatannya. Di mana me-reka dijadikan korban baik secara fisik, sosial, psikologis maupun pelecehan seksual. Dan aneh-nya, wanita-wanita yang rentan terhadap masalah ini lebih dido-minasi oleh wanita minoritas, su-ku asli, pengungsi, migran yang hidup miskin, kecacatan, lansia, terlantar maupun wanita dalam situasi konflik. “Hal ini kian diper-parah oleh kekerasan dalam ke-luarga, termasuk pemukulan, pe-lecehan seksual maupun praktik kebudayaan tradisional yang mengijinkan wanita disunat. De-mikian juga dengan eksploitasi maupun penyimpangan seks baik di tempat kerja maupun prostitusi yang dipaksakan,” ujarnya.
Kekerasan rumah tangga, memang paling sering terjadi. Di mana korban dan pelaku terdapat hubungan yang sangat dekat, yakni dengan prosentase 16-52 persen.
Sementara itu, Rev Agustien Kapahang Kaunang dalam ke-sempatan yang sama mengha-rapkan agar kaum perempuan dapat saling membantu antara satu dengan lainnya. Karena ka-sus kekerasan ini terus ber-kembang dalam masyarakat.
Di sisi lain, Emmy Sahertian dalam pembahasan masalah HIV/AIDS mengatakan bahwa masalah penyakit ini, tidak sepenuhnya tergantung hanya pada penanganan penyakit se-mata melainkan lebih dari itu adalah bagaimana secara kemanusiaan penyakit ini dapat ditanggulangi bersama.
Selanjutnya, Ketua Panitia Pelaksana dr Herlina Damongi-lala-Siwu mengatakan, sukses-nya acara ini semakin memberi semangat baik bagi peserta yang ada maupun Wanita Kaum Ibu (WKI) pada khususnya untuk semakin peduli dan concern dengan berbagai permasalahan yang dihadapi kaum wa-nita.(helda)
|
|