HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

21 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Koreksi atas tanggapan/jawaban Drs. Joutje Sendoh
Babak Iii Pelurusan Sejarah Manado Dan Minahasa  (v)

(Oleh Ir. Joutje A. Koapaha PhD)


Dotu Ruruares dan para leluhur Tonsea menamakan Manado (sekarang) sebagai Wenang, karena keberadaan hutan kayu yang didominasi oleh sejenis pohon berdaun lebar yang tumbuh lebat disekitar perbukitan sebelum dibangun eks Rumah Sakit Gunung Wenang, demikian ungkap pak Makarau. Beliau juga menuturkan kepada kami bahwa tidak ada kait-mengkait antara Dotu Ruruares dan eksistensi Lolong Lasut yang nanti berada di Wenang 1 (satu) abad setelah kehadiran kolonial Belanda. Jadi kebenaran pernyataan pak Ben Wowor pada tahun 1970-an dan kemudian klaim penulis tentang rekayasa dan manipulasi sejarah Manado serta pembohongan publik tentang keberadaan tugu/patung Lolong Lasut yang dinyatakan sebagai penemu dan pendiri negeri Wenang semakin terbukti. Pemerintah kota Manado sekarang (pihak eksekutif dan legislatif) harus menjelaskan kepada publik siapa sebetulnya Dotu Lolong Lasut ?? dimana tugu dan patungnya telah direkayasa (dimanipulasi) oleh pejabat pemerintah kota Manado terdahulu sebagai monumen historis berdirinya kota Manado sekarang. Bila PEMKOT Manado tidak akan menanggapinya secara serius (dengan kata lain tidak melakukan pembetulan/koreksi), maka berdasarkan data dan saksi hidup yang ada (sedang terkumpul) kami akan lakukan class action (gugatan) terhadap pemerintah setempat.
Forum kalayak pembaca yang budiman, mengakhiri tulisan ini penulis secara tulus sekali lagi katakan bahwa walaupun kami yang senama ini sudah saling kritik, saling cecar/tuding satu sama lain, saling menyalahkan, saling cemoh satu sama lain, itu hanya sebatas kata-kata/tulisan belaka. Bagi penulis, itu tidak pernah tersimpan dalam lubuk hati dimana hal ini tercermin dalam hubungan antara kami berdua yang saling tegur-sapa dan ngobrol secara santun/baik-baik bila ketemu dalam forum-forum tertentu. Lagi pula karena memperhatikan saran teman-teman akademisi agar penulis terus menulis dengan melakukan library research dan pengujian lapangan sebagaimana yang sudah-sudah dan sedang jalan selama ini. Penulis yang adalah bukan seorang pakar sejarah (tapi karna nyanda ada orang yang peduli dan melakukannya terutama diantara para ahli/pakar sejarah) memaklumi berbagai keterbatasan/kendalah terutama menyangkut aspek pendanaan. Namun sebagai seorang profesional dan ilmuwan penulis akan berupaya seoptimal mungkin untuk menyajikan artikel-artikel yang memenuhi persyaratan suatu karya tulis ilmiah tentang sejarah dan budaya Minahasa masa kini dan tentunya nanti masyarakat/kalayak pembaca yang tentu akan menilainya secara objektif. Juga penulis diminta untuk tidak lagi berdebat “secara tidak berimbang” (karena ternyata keluar dari contex substansi dan argumentasi pokok persoalan) dengan pihak penanggap. Ulasan penanggap tentang Manado penulis tidak perlu lagi mengomentarinya, sebab sebelumnya penulis telah jelaskan secara rinci (dan bahkan lebih lengkap) perihal aspek-aspek: etimologis, geneologis, antropologis, historis, dan bahkan yuridis dari substansi tersebut. Hanya saja penulis perlu garis bawahi bahwa burung Manguni biasanya memberi petunjuk pada malam hari, dan adalah sangat-sangat-sangat jarang …. , bahkan jarang sekali Manguni bersuara pada siang hari. Bila Manguni bersuara pada siang hari, maka alamatnya hanya satu yaitu peringatan tentang sesuatu yang buruk/jahat akan terjadi. Namun sebagai seorang kristiani sejati, Tuhan Jesus dapat merubah sesuatu yang buruk atau yang jahat sekalipun, apabila dia beriman dan berserah sungguh pada-NYA. Jadi suara Manguni bagi penulis, hanya merupakan salah satu pengetahuan (bukan yang terutama dan yang di-imani) yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Juga paparan penanggap perihal keberadaan masyarakat Buol (Toli-Toli) dan Pasan (Ratahan), adalah kurang lengkap sebab hanya menyentu bagian-bagian tertentunya saja. Sebab pak Sendoh tidak dapat menjelaskan mengapa ada Gunung Bantik dan masyarakat asli Bantik di daerah Toli-Toli (Sulteng) dan bahkan penanggap pasti tidak tahu bagaimana sampai terjadi penamaan Toli-Toli yang berasal dari bahasa dan arti asli Bantik “Tontolri”. Silahkan ikuti hasil observasi dan kajian lapangan penulis dan tim di Daerah Buol Toli-Toli dan Talaud pada Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa. Penulis sarankan agar pak Sendoh juga perlu membaca tulisan J.N Wiersma yang merupakan misioner asing yang sempat tinggal/berada di tengah-tengah masyarakat Ratahan pada waktu lalu. Penulis bersama anggota tim Proyek Bantik Rediscovery 2006-2007 juga sedang mempersiapkan kunjungan lapangan ke Seram/Halmahera Utara dan Filipina dimana pada kenyataannya, di daerah-daerah tersebut terdapat masyarakat keturunan suku Bantik Malesung sampai sekarang. 
Penulis tidak dapat menampik tanggapan dan sanggahan dari kalayak pembaca koran ini seperti antara lain oleh: Room Palenewen dan Boy Kusoy. Bahkan kritik dan saran Boy Kusoy dalam ulasan “Surat Pembaca” yang berjudul Akademisi Dan Kesejarawan Drs. Joutje Sendoh Dipertanyakan, terbit di harian Komentar pada hari Rabu (15/2) 2006, penulis anggap merupakan suatu dinamika ilmiah dan diskusi dalam upaya menemukan suatu kebenaran yang hakiki tentang sejarah Minahasa. Sebab pernyataan pak Sendoh (menurut Boy Kusoy) dengan mengatakan bahwa ke-2 sejarawan Minahasa “Mayor Bert Supit dan almarhum Frans S. Watuseke adalah putar-bale dalam makalahnya yang omong kosong itu” adalah sangat konyol, menghakimi, dan tidak akademisi. Akhir kata, insyah Allah kita akan ketemu lagi pada kesempatan mendatang dengan judul “Babak IV Pelurusan Sejarah Minahasa”.

Pandu 29 Maret 2006.

Ir. Joutje A. Koapaha PhD, 
Direktur Eksekutif Lembaga Persatuan dan 
Musyawarah Suku Bantik Indonesia.



 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin