HOME : FOOTBALL

Berita Kota Manado dan Sekitarnya 

22 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Warna lain makna perjuangan RA Kartini
Memotret Semangat Wanita Penambal Ban dan Tukang Parkir 


PERJUANGAN RA Kartini dalam mengangkat harkat kaum wanita untuk sederajat dengan kaum pria tidaklah sia-sia. Terbukti, dari rahim Ibu Pertiwi dan secara khusus rahim Bumi Nyiur Melambai dan kota tinutuan ini telah terlahir pemimpin-pemimpin dari kalangan kaum wanita. Dan bahkan kesederajatan dengan kaum pria pun dibuktikan kaum wanita Kota Manado dalam pekerjaan-pekerjaan yang awalnya dipandang sebagai pekerjaan kaum pria. Mau bukti?

Suhartatik (39), wanita yang kini berdomisili di Lingkungan IV, Ke-
lurahan Sindulang I ini meng-hapus pandangan yang me-ngatakan wanita hanya bisa bekerja di dapur. Dengan kete-garan dan keberaniannya, istri AT Sunaryanto ini rela meng-gantikan peran suaminya yang sudah bertugas sebagai cleaning service di Kantor Ca-bang Bank Sulut, menjadi pe-tugas tukang parkir di hala-man depan Kantor cabang Bank Sulut Kelurahan Calaca. 
Diakui wanita asal Jawa ini, ketika mengawali pekerjaan ini awal tahun lalu dirinya men-jadi perbincangan hangat para tetangga dan warga kota yang melintasi Jalan Sisingama-ngaraja. “Sering mereka bilang kok saya kerjanya jadi tukang parkir, apa nda malu. Nda ada seorang perempuan jadi tu-kang parkir. Tapi semua itu saya abaikan. Saya tidak pe-duli dengan kata-kata mereka. Karena prinsip saya apa yang saya kerjakan halal. Saya juga ingin buktikan kalau perem-puan pun bisa kerjakan apa yang laki-laki kerjakan, salah satu-nya jadi tukang parkir,” ujarnya.
Bukan cuma itu. Suhartatik juga mengakui kalau terka-dang dirinya harus berha-dapan dengan sikap kasar dari para tukang ojek dan sopir-sopir. “Banyak tukang ojek yang parkir di lokasi parkir dan ketika saya tegor mereka tidak menghiraukan saya. Juga ada kalanya para sopir yang bayar biaya parkir ku-rang dari yang ditetapkan, sehingga kadang saya yang tambah sisanya,” ujarnya.
Bagi Suhartatik, pekerjaan-nya ini dijalani dengan senang hati dan dengan kejujuran. “Saya tahu kalau hanya suami saya yang bekerja pasti tidak memenuhi kebutuhan kami, terlebih anak-anak saya Su-giarto yang sekarang duduk di kelas I SD, Prastyo di kelas III SD dan Rahayu kelas V SD. Makanya, waktu suami saya diminta kerja bersih-bersih di kantor, saya yang ganti posisi dia jadi tukang parkir,” paparnya.
Perjuangan tak kalah hebat-nya juga dilakoni Anitje Ka-rundeng (50). Ibu dari Steven, Youla, Stevi dan Victor ini memutuskan untuk memban-tu suaminya Yansen Langi be-kerja sebagai tukang tambal ban. “Sudah tujuh tahun kita kerja di sini. Tiap hari selain me-masak di dapur juga memban-tu suami tambal ban oto, motor dan sebagainya,” tukasnya.
Menurut wanita asal Tim-bukar, Sonder yang kini ber-domisili di Ranotana samping jalan Stadion Klabat ini, bekerja menambal ban bukan pekerjaan yang hina meskipun kerap mendapat sorotan dari sejumlah warga. “Kadang-kadang dorang tanya apa kita nda malu kerja begitu. Kita bilang nyanda yang penting halal deng boleh dapa doi untuk kebutuhan hari-hari. Kiapa harus malu-malu kalau yang kita kerjakan for hidop,” katanya.
Karundeng menambahkan, dengan bekerja sebagai se-orang tukang tambal ban, diri-nya bisa menggantikan posisi suaminya untuk menangani secara penuh pekerjaan me-nambal ban. “Hidup ini kan to-rang nda tau. Kadang-kadang dalam hidup torang alami masalah. Misalnya, kalau sampe kita pe paitua sakit, so pasti kita yang kerja supaya doi tetap maso,” kuncinya. (simon)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin