|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Warna
lain makna perjuangan RA Kartini
Memotret Semangat Wanita Penambal Ban dan
Tukang Parkir
|
PERJUANGAN RA Kartini dalam mengangkat harkat kaum wanita untuk sederajat dengan kaum pria tidaklah sia-sia. Terbukti, dari rahim Ibu Pertiwi dan secara khusus rahim Bumi Nyiur Melambai dan kota tinutuan ini telah terlahir pemimpin-pemimpin dari kalangan kaum wanita. Dan bahkan kesederajatan dengan kaum pria pun dibuktikan kaum wanita Kota Manado dalam pekerjaan-pekerjaan yang awalnya dipandang sebagai pekerjaan kaum pria. Mau bukti?
Suhartatik (39), wanita yang kini berdomisili di Lingkungan IV, Ke-
lurahan Sindulang I ini meng-hapus pandangan yang me-ngatakan wanita hanya bisa bekerja di dapur. Dengan kete-garan dan keberaniannya, istri AT Sunaryanto ini rela meng-gantikan peran suaminya yang sudah bertugas sebagai cleaning service di Kantor Ca-bang Bank Sulut, menjadi pe-tugas tukang parkir di hala-man depan Kantor cabang Bank Sulut Kelurahan Calaca.
Diakui wanita asal Jawa ini, ketika mengawali pekerjaan ini awal tahun lalu dirinya men-jadi perbincangan hangat para tetangga dan warga kota yang melintasi Jalan Sisingama-ngaraja. “Sering mereka bilang kok saya kerjanya jadi tukang parkir, apa nda malu. Nda ada seorang perempuan jadi tu-kang parkir. Tapi semua itu saya abaikan. Saya tidak pe-duli dengan kata-kata mereka. Karena prinsip saya apa yang saya kerjakan halal. Saya juga ingin buktikan kalau perem-puan pun bisa kerjakan apa yang laki-laki kerjakan, salah satu-nya jadi tukang parkir,” ujarnya.
Bukan cuma itu. Suhartatik juga mengakui kalau terka-dang dirinya harus berha-dapan dengan sikap kasar dari para tukang ojek dan sopir-sopir. “Banyak tukang ojek yang parkir di lokasi parkir dan ketika saya tegor mereka tidak menghiraukan saya. Juga ada kalanya para sopir yang bayar biaya parkir ku-rang dari yang ditetapkan, sehingga kadang saya yang tambah sisanya,” ujarnya.
Bagi Suhartatik, pekerjaan-nya ini dijalani dengan senang hati dan dengan kejujuran. “Saya tahu kalau hanya suami saya yang bekerja pasti tidak memenuhi kebutuhan kami, terlebih anak-anak saya Su-giarto yang sekarang duduk di kelas I SD, Prastyo di kelas III SD dan Rahayu kelas V SD. Makanya, waktu suami saya diminta kerja bersih-bersih di kantor, saya yang ganti posisi dia jadi tukang parkir,” paparnya.
Perjuangan tak kalah hebat-nya juga dilakoni Anitje Ka-rundeng (50). Ibu dari Steven, Youla, Stevi dan Victor ini memutuskan untuk memban-tu suaminya Yansen Langi be-kerja sebagai tukang tambal ban. “Sudah tujuh tahun kita kerja di sini. Tiap hari selain me-masak di dapur juga memban-tu suami tambal ban oto, motor dan sebagainya,” tukasnya.
Menurut wanita asal Tim-bukar, Sonder yang kini ber-domisili di Ranotana samping jalan Stadion Klabat ini, bekerja menambal ban bukan pekerjaan yang hina meskipun kerap mendapat sorotan dari sejumlah warga. “Kadang-kadang dorang tanya apa kita nda malu kerja begitu. Kita bilang nyanda yang penting halal deng boleh dapa doi untuk kebutuhan hari-hari. Kiapa harus malu-malu kalau yang kita kerjakan for hidop,” katanya.
Karundeng menambahkan, dengan bekerja sebagai se-orang tukang tambal ban, diri-nya bisa menggantikan posisi suaminya untuk menangani secara penuh pekerjaan me-nambal ban. “Hidup ini kan to-rang nda tau. Kadang-kadang dalam hidup torang alami masalah. Misalnya, kalau sampe kita pe paitua sakit, so pasti kita yang kerja supaya doi tetap maso,” kuncinya. (simon)
|
|