HOME : FOOTBALL

Berita Sanger dan Talaud 

22 April 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Kisah Opa Adam, penerus tradisi Penakule dari Naha

 

 IKUTI BERITA LAIN

Lasut Lantik Pejabat Eselon III dan IV

Berjuang Hidup dari Batang Sagu
BAGI masyarakat Kabupa-ten Kepulauan Sangihe, Kampung Naha dikenal karena letaknya lapangan terbang dengan nama Ban-dara Lapangan Terbang Naha. Kampung yang ma-suk salah satu wilayah Ke-camatan Tabukan Utara, posisinya sangat strategis dibanding dengan kampung lain yang ada di sekitarnya.
Namun dari ketenaran kam-pung ini, siapa sangka masih ada warga Kampung Naha yang mengais hidup hanya dari usaha mengolah pohon sagu duri. Da-lam bahasa Sangir dikenal dengan nama “Menakule”.
Adalah Adam Lumondo (68), salah satu dari sekian banyak warga di Kampung Naha yang kehidupan keluarganya sangat bergantung dari usaha Mena-kule. Ia generasi penerus tradisi Penakule. “Penakule menakule biahe,” begitu filosofinya.
Banyak masyarakat mengata-kan sagu adalah makanan cadangan perang. Dan kini se-dang ada upaya dari peme-rintah, sagu jadi bahan al-ternatif pengganti BBM untuk mesin diesel. Opa Adam tentu boleh berbangga. Tradisi men-cari makan turun-temurun ini ternyata memiliki arti penting tidak saja di Sangihe tapi juga di dunia. Opa Adam, begitu sa-paan warga di sekitar tempat tinggalnya. Ia adalah sosok ora-ngtua yang penuh dengan semangat hidup. Sekalipun da-lam usianya yang sudah mema-suki senja. Sebagai seorang penakule atau pengolah pohon sagu duri (bahasa latinnya Metroxyllon Rhumpii) Opa Adam pasti banyak dikenal orang. Karena tradisi mengolah sagu duri dengan cara menakule masih tetap dipertahankan ke-luarganya hingga sekarang ini. Namun sekalipun dikenal warga Kampung Naha sebagai tukang Sakule, tetapi Opa Adam tetap tegar menjalani kehidupan bersama istri tercinta Baena Makitulung (54), bersama dua orang putri cucunya, masing-masing bernama bernama Yur-ni Lumondo ( 18) yang duduk di kelas tiga dan Yerni Lumondo (16) kelas satu SMA PGRI Ene-mawira Tabukan Utara.
Senja itu, kira-kira pukul 16.00 wita saat cuaca di Kam-pung Naha mulai turun gerimis hujan, bukan menjadi peng-halang bagi harian ini, untuk menjumpai Opa Adam, ditempat usaha pengolahan sagu duri. Dengan jarak berjalan kaki kira-kira 150 meter dari tempat tinggal keluarga Lumondo – Makitulung kita akan men-jumpai tempat usaha Menakule dari Opa Adam. Lokasi kerja menakule persis di tengah-te-ngah tanaman pohon sagu duri. Sebab menurut Opa Adam ka-lau lokasi Menakule jauh dari pohon sagu, maka akan me-nyulitkan dan memberatkan pe-kerjaan nantinya. “Kalau Opa mo menakule harus di dekat po-hon sagu ini ( sambil menunjuk pohon sagu duri yang ada dise-kitarnya ) untuk memudahkan pekerjaan,” ujar Opa Adam da-lam dialek Sangihe. Perjalanan untuk menuju tempat kerja Opa Adam perlu eksra hati-hati. Mengapa? Karena jalan yang akan dilalui harus melewati jalan yang berawah dan berair. Jika salah melangkah kita pasti tertusuk duri dari pohon sagu itu. 
Sepintas ketika harian ini, ke-temu Opa Adam, sepertinya ti-dak percaya kalau dalam usia-nya yang sudah lanjut 68 tahun masih mampu untuk menebang pohon sagu yang cukup besar, kemudian menakule sagu sam-pai mengolah menjadi menjadi sari sagu. Pekerjaan ini dilaku-kannya sendiri. Kadangkala di-bantu anaknya laki-laki. Banyak hal yang diperbincangkan de-ngan Opa Adam kala itu. Ia ber-bincang tentang makna hidup yang dijalaninya. Opa yang ha-nya mengenyam pendidikan di sekolah rakyat ini kini tengah berjuang menyekolakan dua cucunya. Sagu baginya bermak-na kehidupan. Ia sesunguhnya memang penakule. Mungkin bu-kan apa-apa. Tapi kue bernama Hamburger, buatan orang luar, tak mampu mengalahkan sagu dange yang dimakan dengan kua asam. Sagu merupakan makanan pokok komunitas Sa-ngihe secara turun-temurun. Meski tak selaris bahan pokok lainnya, prodak Sagu ini masih jadi dagangan andalan dise-jumlah pasar lokal Sangihe ter-utama di Pasar Towo’e dan Pasar Tona. (meidi pandean)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin