|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Rezeki di Balik Tanaman Hias
|
USAHA
Tanaman Hias di Kota Tomohon ternyata sudah
berkembang sejak jaman kolonial Belanda, sekitar 75
tahun silam. Kendati usaha ini awalnya hanya
dilakoni para pendatang asal negeri kincir angin
itu, namun perlahan warga pribumi mulai mendapat
peranan. Alhasil, Kakaskasen dikenal sebagai wilayah
penghasil tanaman hias terbesar di Kota Tomohon.
Begini singkat ceritanya. Sekitar tahun 1030, ada warga di Kakaskasen yang mendapat peninggalan dari salah satu Keluarga Belanda. Pe-ninggalan yang diberi-kan kepada Oma dan Opa dari Yenny Angouw ini, tak lain adalah bibit tanaman hias. Selepas ke-pergian keluarga asal Belanda tadi, Oma dan Opa Yenny mulai mengelola usaha kecil-kecilan mereka yakni mengkomersilkan tanaman hias bunga pada sejum-lah pelanggan lokal. Usaha ini kemudian dilanjutkan Yenny, cucu tertua yang rindu menerus-kan keratifitas Oma dan Opanya.
Meski hanya bermodal dengkul, Yenny berusaha sebisa mungkin agar usaha turun-temurun ini tidak punah. Berkat ketekunan-nya, Yenny berhasil. Apalagi tiga anaknya sudah bisa sukses de-ngan kehidupannya, setelah menikah dan menjalani ke-hidupan keluarga mereka masing-masing. “Tiga anak saya semuanya sudah me-nikah. Ini tentunya harus diyukuri karena merupakan berkat Tuhan lewat usaha saya,” ujar Yenny saat ditemui harian ini di lokasi usahanya, Jumat (21/04).
Mungkin ada diantara anda yang sudah pernah mendengar nama Ilomata, salah satu usaha tanaman hias bunga di Kakas-kasen II, Kecamatan Tomohon Utara. Nah, usaha inilah yang sekarang dikelola Tante Yenny—begitu sapaan akrabnya. D isanalah Yenny meraup rupiah dari tanaman hias bunga, yang seakan tak pernah henti dibeli pelanggan. “Kalau untuk bunga rang-kai harganya relatif, mulai dari 15 ribu. Itupun tergantung pelanggan. Dan untuk bunga potong, harganya disesuaikan dengan keindahan,” jelas Yenny.
Adapun bunga khas yang dikomersilkan, seperti bunga Kreisan, Gladiol biasa, Hollands Gladiol, Anggrek, serta masih banyak jenis bunga lainnya. Namun ada satu jenis bunga yang menurut Yenny banyak dibeli warga yakni Bunga Kreisan Bangkok. Bunga impor ini diminati karena harganya di bawah harga pa-saran produksi luar daerah. “Kalau produksi dari Jakarta dijual lima ribu per tangkai, di sini kami hanya menjual de-ngan harga tiga ribu. Sebab bunga ini kami produksi sendiri di kebun,” imbuhnya kemudian.
Berkat Tuhan lewat usaha tanaman hias juga dirasakan Yulin Polii, warga Kakaskasen II Kecamatan Tomohon Utara. Ditemui di kediamannya, Yulin menuturkan kalau kebutuhan keluarganya sudah bisa ter-penuhi lewat tanaman hias. “Anak saya dua, dan dua-duanya duduk di bangku SD. Mereka bisa bersekolah hanya karena hasil jualan tanaman hias. Jadi kami sangat ber-syukur dengan usaha kami ini,” tandasnya, seraya me-nunjuk se-jumlah ta-naman hias yang biasa dibeli war-ga khusus-nya Ibu-ibu rumah tangga, se-perti Palm, Pohon Den Hias, dan masih banyak lagi.
Tapi lanjut Yulin, ketika ada pelanggan memesan jenis tanaman hias tertentu yang tidak dimilikinya, tentu jenis ini akan berusaha didapatkan, kendati harus dibeli dari petani bunga setempat. “Biasanya torang beli ke petani. Tapi torang juga ada kebun sendiri,” katanya. Sementara soal harga, lanjut Yulin, tergantung ukurang tanaman. “Kalau kecil mungkin hanya dijual 10 atau 15 ribu. Tapi ada juga yang harganya sampai ratusan ribu seperti pohon kipas dan sikas,” sambungnya.
So bagi anda yang ingin mempercantik halaman rumah dengan tanaman hias, silakan datang dan pilih sendiri. Toh lokasinya mudah dijangkau karena terletak di pinggiran ruas Jalan raya
Manado-Tomo-hon.(david
|
|