HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

24 April 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Paskah: Transformasi Diri Dan Sosial, Bukan “Show Force” (II)
Oleh : Ruth Wangkai

 IKUTI BERITA LAIN

(Refleksi Hari Kartini-21 April 2006)
RUU Anti Pornografi Dan Pornoaksi Dalam Prespektif HAM:
Bentuk Subordinasi Perempuan

 SURAT PEMBACA

Petugas PLN Jangan Orogan !

 COMMENTAREN

Janji yang Ditunda


Perjumpaan dengan Kristus itulah telah mengubah secara radikal kehidupan murid-murid: sebelumnya takut berubah menjadi percaya, sebelumnya sedih berubah menjadi sukacita, sebelumnya kehilangan pengharapan berubah menjadi berpengharapan, dan sebelumnya mengisolasi dan mengurung diri berubah menjadi pemberani lalu pergi mewartakan Injil - Kabar Baik - Kabar Keselamatan - Kabar Kehidupan kepada semua orang dan ke seluruh penjuru dunia. Apa yang terjadi selanjutnya ialah gerakan Yesus yang pada mulanya hanya terdiri dari beberapa orang saja kemudian meningkat dan meluas menjadi komunitas yang mendunia . Banyak orang menjadi percaya dan hidup dalam damai sejahtera sebagai buah dari iman kepada Yesus Kristus. Jadi, Paskah adalah perjumpaan dengan Kristus yang mengubah (transformasi) hidup menjadi bermartabat: sejahtera lahir dan batin, material dan spiritual. Itulah fitrah manusia yang sesungguhnya – manusia sebagai Imago Dei (Gambar Allah), yang ditempatkanNya di Taman Firdaus. Dengan demikian bagi kepercayaan Kristen, fitrah manusia – yang hilang karena manusia jatuh ke dalam dosa (melanggar kehendak Allah), hanya dapat ditemukan kembali dalam perjumpaannya dengan Yesus Kristus
Bertolak dari perspektif ini, sambil menengok ke dalam konteks dan realitas sosial bangsa kita sekarang ini maka Paskah sesungguhnya lebih merupakan sebuah perenungan pribadi dan refleksi sosial ketimbang “show force”. Betul bahwa Paskah adalah sebuah kemenangan iman, dan karena itu mesti dirayakan. Akan tetapi, apakah yang dimaksudkan dengan kemenangan iman itu adalah transformasi diri dari setiap individu-individu dan komunitas Kristen dan selanjutnya membawa perubahan sosial, ataukah hanya sebatas pengakuan verbal, yang diekspresikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan seremonial dan pernik-pernik Paskah? Jika demikian, semeriah apa pun dan sebanyak apa pun orang yang hadir dalam perayaan Paskah itu, jika Paskah tidak membawa tranformasi dalam kehidupan umat dan masyarakat luas, tak ada artinya perayaan itu. Berita Paskah adalah berita pembebasan dan kemenangan. Bagi umat Israel, Paskah adalah pembebasan dari perbudakan di Mesir, perbudakan mana telah merampas hak-hak mereka sebagai manusia yang utuh. Karena itu tunduk kepada Fir’aun berarti bukan saja tunduk secara politis dan ekonomis, tetapi juga tunduk secara religius kepada ilah orang-orang Mesir. Dan itu bagi Israel adalah sebuah bentuk pengingkaran kepada Allah. Sementara bagi murid-murid Yesus, Paskah adalah berita pembebasan dari ketakutan, yang muncul karena kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan masa depan. Bagi mereka hanya dalam perjumpaan kembali dengan Yesus Kristus mereka menemukan lagi spirit dan energi bagi kehidupan yang bermartabat dan berpengharapan yakni hidup untuk menghidupkan orang lain “Si Tou Timou Tumou Tou”. Dengan demikian berita Paskah itu selain mempunyai dasar teologis juga memiliki dasar kultural dalam kehidupan orang Minahasa. Sehingga mestinya refleksi Paskah terarah pada realitas dan masalah sosial-politik bangsa dan negara kita, dan bukan mengulangi saja kisah-kisah Alkitab sebagaimana tampak dalam prosesi-prosesi Paskah. 
Bagaimanakah berita Paskah itu bermakna bagi kita di sini, jika fakta memperlihatkan, bahwa bangsa kita belum dapat keluar dari krisis multi-dimensional: krisis ekonomi, politik, kepemimpinan, moral, dan kepercayaan – yang telah menggiring kepada kemiskinan dan kebodohan, sementara pada sisi lain wajah bangsa kita kian tercoreng sebagai negara terkorup dan pengutang terbesar di Asia. Secara politis, bangsa kita telah merdeka 60 tahun dari penindasan bangsa asing, tetapi sesungguhnya kita belum menikmati kemerdekaan sebagai individu yang utuh, yang hak-haknya dijamin oleh UUD ’45 dan Pancasila. Bayangkan saja sampi hal-hal yang amat privat (terutama bagi kaum perempuan) harus diatur oleh negara seperti berbusana, berciuman, dan bergoyang (lihat Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi – RUU APP). Belum lagi dalam mengekspresikan keyakinan dan keberagamaan seseorang – semakin dibatasi dengan munculnya penetapan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam negeri No.9 Tahun 2006. Bukankah ini cerminan bahwa demokrasi di Indonesia baru sebatas wacana. Malah ada kecenderungan mempolitisasi dan mengkooptasi agama tertentu sebagai kendaraan politik bukan saja di level pusat tetapi juga di daerah-daerah. Pun program pemerintah dalam bentuk konpensasi pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) atau disebut Subsidi Langsung Tunai (SLT) kepada keluarga/rumah tangga miskin nyatanya hanya menggiring masyarakat ke dalam euphoria kemiskinan misalnya muncul keluarga-keluarga miskin siluman, dan bukan untuk membantu daya beli sebagai imbas dari kenaikan BBM. Sementara yang miskin menjadi sasaran rentenir, dengan jalan mengijonkan kartu miskin. Dengan demikian bantuan itu bukan memberikan solusi, sebaliknya hanya membodohi dan memperdaya masyarakat untuk tidak kritis terhadap masalah yang sebenarnya, dan dengan begitu dapat meredam gejolak masa. Kemiskinan adalah kenyataan real masyarakat kita. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia 19,2 juta orang atau 11% dan di Sulut jumlah keluarga keluarga/rumah tangga miskin 22-25%. Ironinya, bahwa penyebab peningkatan kemiskinan adalah korupsi, yang kini telah merajalela ke semua lini dan level instansi dan birokrasi sampai ke lembaga-lembaga keagamaan (gereja). Sementara hutang negara kepada Bank Dunia makin membumbung tinggi sehingga setiap bayi yang baru lahir pun telah dibebani hutang. Sungguh memprihatinkan “yang meminjam negara, yang menikmati koruptor, dan yang membayar rakyat hingga tujuh turunan”. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kita masih menjadi bangsa budak: budak korupsi, budak kemiskinan, dan budak kebodohan. 
Dalam keprihatianan ini gereja (GMIM) mestinya hadir dengan gaung profetiknya. Ibadah dan perayaan Paskah apa pun bentuknya, mestinya merefleksikan keprihatian ini. Agar perayaan-perayaan Paskah sebagai wujud dari perjumpaan kita dengan Kristus yang bangkit menjadi sebuah energi dan kekuatan moral bagi transformasi diri dan sosial menuju masyarakat yang sejahtera spiritual dan material. Tak ada lain dari makna Paskah kecuali membangun kehidupan yang bermartabat bagi setiap insan ciptaan Allah, bebas dari ketakutan dan struktur-struktur yang menindas.
Bitung, 19 April 2006
Pendeta GMIM

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin