HOME : FOOTBALL

Headlines News  

26 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Kontroversi Pangkostrad, adik ipar presiden
Antara Soeharto-Prabowo dan SBY-Erwin Sujono


PERJALANAN kekuasaan Presiden SBY mirip-mirip perja-lanan kekuasaan Soeharto. Dulu, saat Letjen Prabowo Su-bianto diangkat sebagai Pang-kostrad, Presiden Soeharto dikecam habis. Isunya, karena dugaan nepotisme. Maklum, saat itu, Prabowo adalah me-nantu Soeharto. 
Dan kini, pengangkatan May-jen Erwin Sujono sebagai Pang-kostrad, juga dikecam. Setidak-nya oleh kalangan DPR. Isunya sama: indikasi nepotisme. Ma-klum, Erwin adalah kakak ipar SBY. Panglima TNI Marsekal Djoko Soeyanto dan KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso jelas membantah tudingan nepotisme dalam pengangkatan Erwin. 
Jabatan Pangkostrad memang cukup strategis. Dengan jabatan Pangkostrad, maka seseorang perwira tinggi relatif tidak akan sulit untuk mendapat promosi jabatan ke KSAD, level bintang empat (jenderal), dan juga ja-batan lebih tinggi lainnya. 
Tidak lama lagi, Erwin akan mengemban pangkat jenderal bintang tiga (letnan jenderal). Dan tentu, Erwin masih punya banyak kesempatan untuk me-nambah lagi bintangnya 
menjadi empat. Bila tidak di-jegal di Wanjakti, setelah Pang-kostrad, sangat mungkin Er-win akan naik jabatan sebagai KSAD. Setelah KSAD, maka pe-luang Erwin menjadi Panglima TNI juga terbuka lebar. 
Dari sisi umur, Erwin masih belum terlalu tua. Tentara alumnus Akademi Militer tahun 1975, rata-rata saat ini berumur 53-54 tahun. Dari sisi umur, Erwin masih punya ke-sempatan untuk menjadi orang nomor satu di TNI, seti-daknya untuk dua atau tiga tahun ke depan.
Dengan naiknya Erwin men-jadi Pangkostrad, maka saat ini Presiden SBY memiliki dua ipar yang memiliki dua jabatan penting di TNI. Seorang lainnya adalah Brigjen TNI Pramono Edie Wibowo, yang kini men-jabat Wakil Danjen Kopassus. Seperti Erwin, bintang Pramo-no Edie sangat mungkin terus mencorong. Biasanya, setelah menjadi Wadanjen Kopassus, maka sang tentara pun akan mengemban Danjen Kopassus, jabatan untuk bintang dua (mayjen). 
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Permadi mengkritisi jabatan-jabatan penting yang diemban ipar SBY. “Masak ipar-iparnya masuk. Ada yang jadi ketum partai, menjadi Pangkostrad, ada Wadanjen Kopassus, se-bentar lagi Danjen Kopassus. Ini jadi tanda tanya,” ujar anggota Komisi I ini seperti dilansir detik.com. 
Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno juga menilai, pe-ngangkatan Erwin bisa mem-buat cemburu tentara-tentara seangkatan Erwin. Sementara Ali Munchtar Ngabalin dari Fraksi Bintang Pelopor Demo-krasi (F-PBD) menilai pengang-katan Erwin ini berbau Orde Baru, mirip dengan yang dila-kukan Soeharto saat berupaya mempertahankan kekuasaan-nya. 
Yang paling gampang ditebak dari moncernya karier ipar-ipar SBY ini adalah isu tentang upaya pelanggengan kekua-saan di tahun 2009. Apakah SBY terlibat dalam kenaikan karir dua iparnya ini? Belum tahu. Hingga kini, SBY belum berkomentar. Hanya saja, Panglima TNI Marsekal Djoko Soeyanto membantah ada instruksi SBY. 
Yang jelas, untuk menjadi presiden 2004-2009, SBY cu-kup jitu dalam menyusun stra-tegi. Tahap demi tahap dijalan-kan dengan rapi. Dan di empat bulan pertama di tahun 2006 ini — atau 1,5 tahun kekuasa-annya — SBY sudah digawangi oleh Pangkostrad dan Wadan-jen Kopassus. Kini kekuasaan SBY masih 3,5 tahun lagi. Akankah kedua iparnya ini akan mempunyai lompatan besar dalam jabatan di TNI? Kita tunggu saja. 
Dilihat dari hitung-hitungan umur, Erwin sangat mungkin menjadi KSAD atau Panglima TNI dalam waktu yang tidak terlalu lama, minimal sebelum masa tugas Presiden SBY ber-akhir. Apalagi Marsekal Djoko Soeyanto tidak akan lama menjabat Panglima TNI. Sebab, usia Djoko Soeyanto saat ini sudah 56 tahun lebih. Satu-dua tahun lagi juga akan pensiun. 
Bila Djoko Soeyanto pensiun, maka jabatan Panglima TNI akan dipindahtangankan. Sa-ngat mungkin, jabatan Pangli-ma TNI periode selanjutnya akan dipegang kembali oleh TNI Angkatan Darat (AD). Dan bila demikian, maka Jenderal TNI Djoko Santoso paling ber-peluang sebagai Panglima TNI. Bila Djoko Santoso naik, maka Erwin memiliki kans untuk menjabat sebagai KSAD. 
Tapi, bila Presiden menghen-daki, Erwin bisa mendapat lompatan jembatan yang me-ngejutkan, bila kasus Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu terjadi pada diri Djoko Santoso. Bisa saja Djoko Soeyanto diperpan-jang sebagai Panglima TNI, tapi Djoko Santoso dimasukkan sebagai pati nonjob (seperti Ryamizard, red). Dengan begitu, Erwin bisa menjabat KSAD sebentar, kemudian menjadi Panglima TNI. Sangat mungkin kan? 
Di zaman Soeharto, pengang-katan Prabowo sebagai Danjen Kopassus yang tak lama kemu-dian diangkat sebagai Pang-kostrad, dinilai banyak kala-ngan sebagai upaya melang-gengkan kekuasaan. Soeharto melakukan hal itu karena su-dah membaca tanda-tanda za-man bahwa dirinya akan di-lengserkan. Prabowo menjadi Pangkostrad di akhir kekua-saan Soeharto. Begitu Soehar-to lengser pada 21 Mei 1998, dua hari kemudian Prabowo langsung dicopot sebagai Pang-kostrad dan dipensiunkan. 
Yang terjadi saat ini cukup berbeda. Erwin mendapat ja-batan Pangkostrad di saat SBY masih cukup lama memimpin negeri ini. SBY masih 3,5 tahun memimpin negeri ini dengan legitimasi yang kuat. Tentu masa itu tidak terlalu pendek untuk menyusun strategi. Tidak seperti Soeharto yang sudah terlambat mengantisipasi.(dtc) 



  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin