HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

25 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Penghakiman Pilatus


Penuh Rekayasa
Umumnya orang sudah tahu apa yang dimaksud dengan pengadilan Pilatus. Pengadilan itu diwarnai oleh nuansa ketidakadilan yang sangat kentara. Pengadilan itu nampak sebagai sebuah pengadilan yang dipaksakan oleh para penguasa agama dan politik pada waktu itu. Pilatus sendiri sebagai penguasa Romawi yang ditempatkan di Palestina pada waktu itu punya kuasa untuk menjatuhkan hukuman mati tersebut. Namun anehnya, menurut para penginjil, ia sendiri ragu-ragu bahkan takut untuk menjatuhkan hukuman itu pada Yesus. Karena Pilatus sebenarnya mengakui bahwa Yesus tidak bersalah sehingga ia berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun padanya.” (Yoh 18:38b). Dari lain pihak ia juga tidak berani memberikan “grasi” untuk mencabut hukuman mati itu karena orang banyak dan takut kehilangan jabatan. Karena orang Yahudi berteriak kepadanya, “takut membebaskan kepada jika engkau Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar.” (Yoh 19 :12).
Yang lebih pemimpin aneh lagi para agama, imam-imam Kepala dan orang Farisi yang sebenarnya tidak suka dengan dan penjajahan Romawi Pilatus menjadi kompak, satu pikiran dan satu suara melawan Yesus. bisa Pikiran sederhanapun menangkap bahwa ada itu. politik Namun persekongkolan dibalik kerukunan dan pemerintah Romawi yang tidak biasanya kerukunan itu sebenarnya atas tokoh agama alasan yang berbeda dan demi kepentingan masing-masing. Tokoh agama ingin membinasakan Yesus dengan alasan “penghujatan”. Namun alasan itu sebenarnya juga baru kemudian dimunculkan. Yang lebih asli adalah iri hati, marah, bahkan takut. Iri hati karena Yesus lebih popular, dicintai rakyat dan banyak sekali pengikutnya. Marah karena Yesus tidak segan-segan mengungkapkan kemunafikan dan sikap hipokrit mereka. Dan takut jangan-jangan mereka akan tersingkir dari jabatan mereka yang sudah mapan dan digantikan oleh aliran baru yang dibawa oleh Yesus yang memihak kepada rakyat jelata. Yesus merombak hubungan-hubungan baru antara manusia dengan Tuhan berdasarkan pada kebenaran, kejujuran, kemurnian hati, dan kasih yang setia, seperti diringkaskan dalam Sabda Bahagia mat 5 : 1-12.

Siapa mengadili Siapa?
Proses penghakiman Pilatus atas diri Yesus terjadi atas cara yang sangat aneh seperti dikisahkan para penginjil. Yesus sebagai terdakwa, terpidana bahkan sementara menjalani eksekusi berhadapan dengan sang hakim, Pilatus, Para jaksa penuntut, para tokoh agama dan para saksi dusta, masa rakyat yang sudah diatur sebelumnya. Yang aneh adalah: Yesus sebagai terhukum ditampilkan oleh para penginjil tetap tenang dan sepertinya lebih tahu persis apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan semua rekayasa para elite itu. Namun justru para penuntut dan hakimnya merasa cemas dan takut dengan proses pengadilan yang tidak wajar itu. Mereka berteriak-teriak untuk memastikan bahwa hukuman harus segera dijalankan. Sepertinya mereka dengan penuh nafsu ingin segera melenyapkan Yesus supaya persoalan dimasyarakat menjadi beres dan mereka tidak di usik lagi oleh suara hati mereka sendiri berkaitan dengan teguran-teguran Yesus. 
Kalau melihat peristiwa pengadilan itu dengan lebih jeli, barangkali lebih tepat dikatakan bahwa Kebenaran sedang mengadili tingkah laku manusia. Yesus yang berdiri tenang dan penuh kuasa adalah pengadilan itu sendiri. Pihak yang semula menuduh dan menuntut, kini berbalik menjadi tertuduh dan dituntut oleh sang kebenaran. Kegaduhan suasana pengadilan, masa yang berteriak, Pilatus yang takut dan cuci tangan adalah tanda-tanda dari pengadilan hati nurani manusia berdosa. Kesalahan mereka itu bukan hanya telah menuduh Yesus secara tidak adil dan merekayasa kesaksian palsu sehingga meminta korban orang baik itu, melainkan juga karena mereka membiarkan diri dikuasai iri hati, popularitas, kekuasaan dan sikap-sikap hipokrit mereka sendiri.

Untuk Kita Renungkan
Apa yang dapat kita renungkan dari pengadilan Pilatus? Yaitu bahwa pengadilan yang dibuat oleh manusia itu bisa berbalik mengadili manusianya itu sendiri. Kebetulan atau karena penyelenggaraan Ilahi, kasus hukuman mati bagi Tibo Cs telah menjadi kontroversi nasional pada saat umat kristiani merenungkan sengsara Yesus. Pihak yang pro menyatakan bahwa hukuman itu sudah sesuai dengan proses hukum yang benar, sudah final dan memiliki kekuatan hukum yang tetap. Pihak yang kontra menyatakan bahwa proses hukum itu tidak berdasar pada kebenaran, melainkan usaha untuk menghentikan penyelidikan para aktor intelektual dengan mencari kambing hitam.
Kita semua belum tahu ujung dari kontroversi ini. Pihak kejaksaan agung berusaha untuk tetap melaksanakan eksekusi untuk menghormati keputusan pengadilan. Banyak elemen masyarakat yang kontra berpendapat bahwa eksekusi mati itu bisa merupakan pembunuhan oleh negara terhadap warganya. Siapa yang bertanggung jawab atas nyawa ketiga orang itu nanti? Yang jelas, tidak mungkin tidak ada yang bertanggung jawab. Konflik hati nurani banyak orang Indonesia menghadapi kasus Tibo ini sedemikian rupa, sampai ada orang, Pastor Leo Mali, bersedia untuk menggantikan Tibo Cs, menjalani hukuman mati itu, dengan harapan supaya tidak ada lagi tumbal yang selalu diambil dari rakyat kecil yang tidak mempunyai uang dan kuasa. Dalam diskusi para ahli hukum di ANTV Prof.Sahetapi dengan lantang berkata, “mudah-mudahan yang menghukum mati Tibo Cs tidak masuk neraka”.
Tibo Cs itu petani sederhana, transmigran dari Flores ke Poso, namun nasib yang menimpa mereka telah menjadi kontroversi nasional dan membangkitkan demo dibanyak kota di Indonesia. Alasan mereka adalah: perlawanan terhadap ketidakadilan yang begitu nyata. Perlawanan terhadap hukuman mati Tibo Cs harus dilakukan untuk menghentikan arogansi kekuasaan dalam menindas rakyat kecil. Pengadilan Pilatus telah terjadi pada diri Yesus. Dan pengadilan semacam itu tidak boleh terjadi lagi, juga untuk Tibo Cs dan untuk semua orang lain yang mengalami nasib seperti Yesus, orang Nazaret itu.

Pengirim,
Oleh : Albertus Sujoko
Ketua STF Seminari Pineleng


 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin