|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Martir Wanita Asal Minut Dipuji Sekaligus Mengharukan…
|
Kegigihan Adel Lumi (wanita asal Minahasa Utara) yang bertahan hidup dalam keyakinan keimanan Kristen saat pecah kerusuhan bernuansa SARA di Halmahera, dan berhasil tercatat sebagai 200 martir pemberani dunia dalam “The Complete Book of Christian Heroes: Over 200 Stories of Cou-rageous People Who Suffered for Jesus’’, mengundang decak pujian kalangan warga Minut.
Perjuangan Adel dinilai menunjukkan bahwa wanita Minut bukan cuma pinter politik, tetapi menjadi contoh dalam perjuangan keimanan. Mantan Noni Sulut Astrid Kumentas menyatakan bangga sekaligus terharu dengan perjalanan hidup yang dialami Adel. Penderitaan fisik dan beban moril yang
dihadapi Adel, merupakan su-atu tekanan yang sangat berat sekali dihadapi oleh seorang wanita sekaligus berpredikat ibu dan istri.
Keyakinannya Adel dan kegi-gihannya patut diteladani, se-bab tidak sedikit wanita yang bisa menjalani kehidupannya dengan persoalan seperti itu. Astrid pangilan akrab anak Asisten II Pemkab Minut Ir Welly Kumentas ini pun sempat meragukan dirinya apabila mengalami siksaan dan pende-ritaan yang dialami Adel, bah-kan secara berkelakar ia me-ngaku bisa-bisa memilih mengakhiri hidupnya.
“Saya sendiri tidak bisa pas-tikan akan bertahan apabila mengalami penderitaan seperti ini, dan bisa-bisa bunuh diri loh,” ujar Bendahara KNPI Mi-nut ini sambil berkelakar. Mes-ki ikut terharu dengan apa yang dihadapi Adel, namun ia juga bangga sebab Adel yang nota-bene asal Minut ikut mengha-rumkan nama Minut dalam perjuangan kerohanian.
Alasannya, kisah Adel yang tembus sebagai salah satu dari 200 martir dunia dan masuk dalam Cristian Heroes Book (CHB) melambangkan kegigihan dalam keyakinan keimanan. “Dua ratus orang untuk ukuran dunia itu sangat sedikit sekali, jadi saya sangat bangga dengan perjuangan keimanan wanita Minut ini,”jelas Mahasiswi Fisip Unsrat ini sambil menambah-kan, bahwa wanita-wanita Min-ut patut dibanggakan sebab bukan hanya dikenal dalam per-juangan politik saja, tetapi terkenal juga dalam perjuangan kerohanian.
Senada Kumtua Desa Tuma-luntung, Fien C Carolin sangat salut dengan keyakinan Adel, sebab meski dalam tekanan dan penderitaan fisik yang di-alaminya secara manusia bia-sa, merupakan suatu pukulan terberat untuk bisa bertahan hidup. Kata Ibu Fien panggilan akrab istri tercinta Piet Luntu-ngan ini, keyakinan Adel yang berserah kepada Tuhan adalah suatu kemurahan, sehingga apa yang dialami Adel merupa-kan suatu kesaksian terhadap umat manusia. Di mana orang yang bertahan hidup dengan keyakinan, tidak akan diting-galkan tetapi akan ditolong dan diangkat Tuhan.
Ia dan keluarganya bisa tembus di Amerika Serikat me-lalui suatu yayasan dan kisah-nya tembus di Christian Heroes Book itu, contohnya bukanlah suatu kebetulan belaka, tetapi karena kemurahan Tuhan da-lam kehidupan umat manusia yang senantiasa bertahan de-ngan keyakinannya meskipun mengalami penderitaan yang sungguh hebat.
“Keyakinan Adel ini harus jadi contoh bagi umat manusia, se-bab berbagai persoalan dan te-kanan hidup yang dialami apa-bila benar-benar diserahkan kepada Tuhan, pasti akan ada jalan keluar, sebab mustahil bagi manusia tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan,” papar kumtua yang banyak di-senangi masyarakat Matungkas.
Seperti diketahui, sebuah buku yang menceritakan ten-tang 200 kisah orang-orang pemberani di dunia yang men-derita untuk Yesus Kristus, di-terbitkan oleh penulis ternama Dave dan Neta Jackson, tahun 2005. Buku laris ini berjudul ‘’ The Complete Book of Chris-tian Heroes: Over 200 Stories of Courageous People Who Suffered for Jesus.’’
Menariknya, di antara 200 kisah menakjubkan dalam bu-ku ini, terdapat cerita tentang seorang wanita asal sebuah desa di Minahasa Utara (Minut) bernama Adel Lumi. Adel ber-sama suaminya, Barege asal Halmahera diceritakan lolos dari sebuah penderitaan me-ngerikan. Malah Adel Lumi di-kisahkan harus menjadi bu-dak seks ketika konflik SARA terjadi pada sebuah pulau di Kabupaten Halmahera.
Tak hanya itu, keluarganya bersama sang suami, sebelum-nya dibantai kelompok tertentu dan kemudian Adel yang di-tawan harus melayani penyik-saan lahir dan batin oleh ke-lompok penyenderaannya. Bahkan Adel dipaksa merubah keyakinannya. Adel dalam ‘tawanan’ akhirnya melahirkan seorang anak akibat diperkosa selama berbulan-bulan.
Namun akhirnya dia bisa melo-loskan diri, dan bertemu suami-nya yang telah mengungsi sebe-lumnya. Sang suaminya, karena mencintai istrinya, tetap meneri-ma Adel, meski telah memiliki ba-yi hasil pemerkosaan dan penyik-saan fisik. Anak yang dilahirkan atas hasil ‘budak seks’ itu kemu-dian dinamai Metu Barege.
Tapi ketika mengungsi ke Su-lawesi Utara, Adel bersama sua-minya sempat dikejar-kejar juga oleh orang yang mengawininya secara paksa. Atas pertolongan sebuah yayasan, Adel dan suami-nya akhirnya diterbangkan ke Amerika Serikat, dan mendapat residen permanen di Negeri Paman Sam tersebut, setelah direkomendasi HAM PBB.(ran/rik)
|
|