|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Ketua PGI: Isu Gereja Setan Jangan Ditanggapi Berlebihan
|
Merebaknya isu konferensi ‘Pengikut Setan’ dalam organisasi yang menamakan diri Satanic Church (Gereja Setan) di Manado, ditanggapi Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Dr Andreas Yewangoe.
Dalam wawancaranya khu-susnya dengan Komentar ke-marin (27/04), Yewangoe yang saat ini sedang berada di Ja-karta mengaku, sudah men-dengar isu tentang aliran sesat ini. Namun begitu, diimbaunya agar isu ini hendaknya ditang-gapi biasa-biasa saja dan tidak direspons secara berlebihan.
“Jangan terlalu diambil per-hatian. Karena masalah itu hanya bersifat temporer saja. Suatu saat, isu itu akan meng-hilang begitu saja. Yang jelas, aksi Gereja Setan itu harus ditolak oleh warga gereja di Ma-nado,” ujar Pdt Yewangoe dalam wawancara via telepon.
Menurut dia, GMIM dan gere-ja-gereja lainnya di Sulut harus berupaya menggembalakan jemaatnya agar tidak terjebak untuk mengikuti kelompok ini. “Kalau di GMIM, itu kan ada persekutuan rumah tangga yang disebut Kolom. Di situlah harus selalu digumuli dan dibicarakan tentang gereja setan, agar jemaat tahu bagaimana mereka untuk menolak ajaran-ajaran sesat itu,” tuturnya.
Dikatakannya, sampai saat ini kelompok ini (gereja setan) sulit untuk dilacak keberadaanya di Indonesia. Mungkin saja tidak dilaporkan, sehingga yang diketahui baru di Manado. “Bisa saja daerah-daerah lain juga aksi kelompok ini sudah menyebar, tapi kami belum pernah menerima laporannya, termasuk di Jakarta,” katanya.
Ditanya apakah PGI akan membahas dan mengambil si-kap terhadap isu ini, Yewangoe mengatakan, PGI tidak perlu melakukannya. “Kami rasa itu tidak perlu dibahas, dan PGI tidak merasa perlu untuk me-ngeluarkan fatwa atau per-nyataan sikap. Karena masalah itu sebenarnya tidak terlalu sensitif, dan karena bersifat temporer, maka suatu saat akan menghilang lagi.”
Pada bagian lain, mengenai penyebutan nama gereja setan (satanic church), menurut Ye-wangoe, tidak perlu diper-masalahkan. Karena kelompok itu memang menyebut nama organisasinya dengan sebutan gereja setan. Dan mereka itu memang ada. “Yang jelas, me-reka tidak ada hubungannya dengan gereja Tuhan.”
Untuk menyikapi masalah ini, tambahnya, yang diperlukan adalah bagaimana mengupa-yakan agar anggota-anggota jemaat, terutama generasi mu-da, tidak terpengaruh dengan aksi kelompok setan tersebut. ‘’Saya kira gereja-gereja sudah punya pegangan, yaitu dogma-dogma. Itulah yang harus jadi pegangan kita dalam meng-hadapi ajaran-ajaran yang menyesatkan.”
Yewangoe mengatakan, sam-pai saat ini tidak jelas ajaran gereja setan itu sendiri. Namun yang ia ketahui, di luar negeri ada yang merasa bahwa setan itu perlu dipuja. Oleh sebab itu, lahirlah kelompok yang mena-makan diri satanic church ini.
Sementara itu, dari Manado, Pemprop Sulut melalui Wagub Freddy H Sualang mengimbau, agar warga tidak terprovokasi dengan beredarnya SMS me-ngenai bakal diadakannya kon-ferensi gereja setan di Manado. Penegasan ini disampaikan Sualang yang ditemui di kantor gubernur, Kamis (27/04) kema-rin.
“Saya menghimbau agar selu-ruh warga Sulut tidak terpro-vokasi menghadapi kabar ini,” tukas Sualang kepada warta-wan. Namun demikian, menu-rut Sualang, pihak Kepolisian diharapkan segera mengambil tindakan bila hal ini memang dapat dibuktikan kebenaran-nya. Namun ditegaskannya, hal terpenting yang harus dilakukan menanggapi kabar ini, adalah lebih mendekatkan diri pada Tuhan. “Saya juga mengajak agar kita semua lebih mende-katkan diri pada Tuhan sesuai keyakinan kita masing-masing,” tandasnya.(jef/vic)
|
|