HOME : FOOTBALL

Headlines News  

28 April 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Wawancara Komentar bersama Adel dan Methu
“Kami Sudah Mengampuni Mereka’’


KISAH wanita asal Manado, Adel Lumi dan suaminya Methusala (Methu) Barege yang masuk dalam 200 kisah martir pemberani dunia, sebagaimana tertulis dalam buku berjudul ‘’The Complete Book of Christian Heroes: Over 200 Stories of Courageous People Who Suffered for Jesus.’’, mengun-dang keharuan sekaligus pujian dari berbagai kalangan. 
Adel yang mengalami penyiksaan hebat karena keyakinannya ketika ditawan di sebuah desa di Halmahera pada saat konflik bernuansa SARA pecah di Maluku tahun 2000 silam, berkesempatan diwawancarai khusus oleh Komentar melalui email. Adel kini hidup dengan suaminya bersama kedua anaknya (satu anak dengan Methu dan satunya lagi hasil pemerkosaan dan dikwini paksa, red), di sebuah tempat yang dirahasiakan. Pasalnya, hingga saat ini, nyawa Adel terancam karena masih saja dikejar kelompok tertentu. 
Ketika mengetahui kisahnya dimuat dalam koran ini, Adel dan suaminya Methu melalui email yang diterima Pemimpin Redaksi Friko Poli membuka dengan kalimat,’’Syaloom. Pertama-tama kami mengucapkan banyak terimakasih buat Harian Komentar yang sudah memuat kesaksian kami, sehingga nama Tuhan boleh ditinggikan dan di-muliakan. Kami berdoa dan berharap lewat kesaksian ini, bisa menguatkan iman banyak orang di dalam Tuhan Yesus Kristus. Puji
Tuhan juga, kami semua saat ini baik-baik saja. Kami masih suka kembali ke Manado, tapi mungkin belum sekarang.’’
Adel sekeluarga memang ha-rus ‘bersembunyi’ dulu, karena beberapa kali sempat mendapat pengancaman. Sebab anak yang dilahirkannya ketika di-perkosa, berusaha diculik kem-bali oleh kelompok yang mena-wannya dulu. Seperti diketahui, Adel sendiri dalam kisah yang dibukukan dalam Christian Heroes, mengalami penyiksaan yang luar biasa.
Pasalnya, ketika kerusuhan pecah, Adel sempat lari ke hu-tan, sedangkan suaminya Me-thu bersama pria lainnya di de-sa berusaha memperta-hankan diri. Sayangnya kekuatan Me-thu dkk tidak mampu mem-bendung kelompok yang me-nyerang umat kristen di desa Methu dan Adel. 
Methu berhasil melarikan diri, sedangkan teman-temannya lain dibunuh. Sedangkan Adel yang lari ke hutan, berhasil di-kejar dan diseret kembali ke de-sa. Adel kemudian ditelanjangi, dicambuk dan ditusuk dengan benda-benda tajam. Dalam pe-nganiayaannya, Adel beberapa kali menyebutkan nama Tuhan Yesus.
Menurut Adel dalam kesak-siannya, ketika itu tubuhnya sempat berlumuran darah. Tapi ada mujizat yang terjadi, karena setelah darah mengering, dia tidak menemukan adanya luka di tubuhnya. Tapi penyiksaan tidak sampai di situ. Adel ke-mudian diminta mengubah ke-yakinannya, serta dikawini pak-sa sampai melahirkan seorang anak yang tidak berdosa. 
Selama dalam ‘tahanan’ ber-sama warga desa lainnya yang berjumlah 70-an, Adel disiksa lahir dan bathin. ‘’Saya kalau tidak ingat Thien (anaknya), dan suami yang sudah di Manado, sudah bunuh diri waktu itu.’’ Cinta terhadap suami, dan ke-hidupan masa depan anaknya, membuat Adel terus bertahan hidup. Padahal, seorang anak lelakinya bernama Christianto, orang tuanya serta menan-tunya, telah dibunuh dengan cara disiksa. 
‘’Saya dan Thien sering me-nangis, apalagi Thien (anaknya yang hidup) sering memanggil-manggil oma dan opanya serta kakaknya Christianto (Antho) yang telah dibunuh.’’ Suatu waktu, Adel berhasil keluar dari desa tersebut dan tiba di Mana-do bertemu suaminya, Metthu. 
Dalam suratnya terdahulu, Adel merasa bahwa suaminya pasti tidak akan menerimanya, sebab dia telah melahirkan se-orang anak atas hasil perka-winan yang dipaksakan dan diharuskan pindah keyakinan. Tapi Methu dengan tulus ikhlas tetap menerima Adel, sebagai istrinya. Demikian juga anak yang dilahirkan dari hasil perkosaan paksa oleh anggota kelompok tersebut. ‘’Anak itu tidak salah,’’ ungkap Methu seperti dikutip seorang sumber dekat keduanya. 
Kini Adel dan Methu hidup di negeri asing. Tapi keduanya mengaku bahagia. Lebih hebat-nya lagi, ketika Komentar mena-nyai apa perasaan keduanya terhadap kelompok yang telah membuat mereka mengalami cobaan yang maha hebat, dan membunuh anak, dan sanak saudara mereka? 
‘’Sekalipun ada begitu banyak penganiayaan mengerikan yang kami alami sejak terjadi konflik SARA di Maluku Utara, tapi kami sekeluarga sudah mengambil keputusan untuk tetap mengampuni bahkan te-rus mengampuni mereka yang sudah membunuh anak dan orang tua kami tercinta, dan yang sudah melakukan penga-niayaan terhadap kami seke-luarga. Kami berharap semoga kesaksian ini dapat menguat-kan Iman saudara-saudara kami umat Kristiani. Apapun yang kita alami dalam hidup ini, marilah kita tetap berserah kepada Tuhan. Kalau kita ada bersama Tuhan, kita akan kuat dalam menghadapi cobaan dan tantangan apapun,’’ tulis Adel dan Methu seraya mengutip Filipi 4 :13 “Segala perkara dapat ku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Salam dari kami sekeluarga untuk semua saudara-saudara kami di Sulawesi Utara.(rik/*) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin