HOME : FOOTBALL

Berita Mimbar dan Keagamaan 

29 April 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Pesan Bulan Oikoumene 2006 dari PGI
Menjadi Gereja Bagi Orang Lain (2)

 

 IKUTI BERITA LAIN

Sejarah Jemaat GMIM ‘Anugerah’ Langowan (1) 

Lintas Berita Mimbar 

YESUS Kristus Raja dan Ke-pala Gereja telah meneladankan sikap yang amat peduli bagi orang lain, bahkan yang rela mempersembahkan keseluru-han hidup-Nya melalui sengsara dan kebangkitan-Nya bagi umat manusia. Gereja dituntut untuk melakukan tindakan kasih bagi mereka yang lapar, haus, terasing, sakit, ketiadaan pa-kaian, di penjara dan yang ber-usaha untuk mempertahankan kehidupan (bdk Matius 25:31-46).
Sidang Raya XIV PGI itu telah menegaskan tempat gereja da-lam dunia sebagai “Gereja Bagi Orang Lain” (Church for Others). Sangat menarik, bahwa juga dalam Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC) di Porto Alegre-Brasil, bulan Fe-bruari 2006, keberadaan gereja sebagai gereja bagi orang lain juga digaris bawahi. Ini berarti bahwa gereja memang mesti lebih terbuka kepada pihak lain. Pihak lain, yang dulunya adalah “orang asing” (strangers) seka-rang menjadi “tetangga” (neigh-bours). Dalam rangka itu teologi keramahan (theology of hos-pitality) mesti diperkembangkan. “Orang lain” itu adalah teman seperjalanan kita dalam ziarah bersama ke masa depan, mene-lusuri lembah-lembah kesulitan dan tragedi kemanusiaan men-cari Kebenaran. Kebenaran ha-nya ada pada Allah. Oleh sebab itu tidak ada seorangpun boleh mengklaim bahwa ia telah me-megang kebenaran di dalam tangannya. Setiap klaim selalu mengandung ketidakmutlakan di dalam dirinya; siapa meng-klaim dirinya sebagai peme-gang kebenaran mutlak, se-sungguhnya tidak menyadari adanya sesuatu yang relatif.
“Gereja Bagi Orang Lain” juga membuka kemungkinan bagi kita untuk lebih menyadari bahwa menjalin relasi dengan saudara-saudara sebangsa yang berbeda agama adalah tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Sidang Raya XIV PGI tahun 2004 sangat mene-kankan penjalinan relasi ter-sebut.(bersambung)
Namun kita pun menyadari benar bahwa menjalin relasi mesti juga dilakukan di dalam kebebasan dan keadilan. Tanpa kebebasan dan keadilan, maka kerukunan yang kita wujudkan tidaklah otentik. Kita tidak bisa hidup dalam kerukunan semu seperti itu. Sebagaimana kita tahu, khususnya dalam tahun-tahun terakhir ini, kebebasan beribadah mendapat gangguan serius, khususnya di beberapa tempat di Tanah Air. Bahkan ada kecenderungan untuk mengkriminalkan orang yang beribadah. Perbuatan yang tidak sesuai dengan konstitusi ini harus kita tolak, dan kita harus menuntut Pemerintah untuk memperlihatkan kewibawaannya yang benar-benar merefleksikan keadilan dan memberikan jaminan dan keamanan bagi tiap-tiap penduduk untuk melaksanakan ibadah serta membangun rumah-rumah ibadah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Dasar 1945. 
Di tengah sukacita dan ucapan syukur yang menyinggahi relung-relung kehidupan kita, kami mengajak gereja-gereja dan seluruh umat Kristen Indonesia untuk terus-menerus berdoa bagi perjalanan gereja-gereja menapaki masa depan. Kita menaikkan doa syukur kepada Tuhan Kepala Gereja atas segala berkat-Nya kepada kita, walaupun sekian banyak persoalan kita hadapi, gereja-gereja masih tetap hidup. 
Kita berdoa agar gereja-gereja tidak kehilangan pengharapan dan kasih. Kita berdoa agar terdapat kesatuan di antara teman-teman seiman kendati kita mempunyai keragaman-keragaman, agar kesaksian dan pelayanan gereja-gereja dapat dipercaya. Mari kita berdoa bagi terjalinnya relasi-relasi harmonis di antara anak-anak bangsa, betapapun pahitnya relasi itu akhir-akhir ini. Kita tetap percaya bahwa Allah adalah Tuhan sejarah. Dialah Allah yang mengemudikan sejarah bangsa kita. Dia pulalah yang memberikan Roh Kehidupan kepada gereja-gereja untuk terus bersaksi dan melayani tanpa pamrih di tengah sejarah dalam masyarakat majemuk Indonesia.
Di masa depan Gerakan Oikoumene di Indonesia harus benar-benar menjadi sebuah gerakan yang solid, energik, cerdas, kreatif dan dinamik sehingga mampu mengukir sejarah yang bermakna baik bagi kehidupan gereja-gereja maupun bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Demikianlah Pesan Bulan Oikoumene 2006. Selamat merayakan Bulan Oikoumene!

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin