|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Studi Pariwisata sebagai Disiplin Ilmu Mandiri Persoalan Legitimasi(5)
|
Persoalan kita kini adalah “sampai saat ini pariwisata belum dapat diakui sebagai satu disiplin ilmu secara mandiri, sehingga penyelenggaraan pendidikan pariwisata untuk jalur akademik masih dititip pada rumpun-rumpun ilmu lain seperti ekonomi, antropologi, planning dan sabagainya. Dampaknya adalah bahwa pendidikan pariwisata hanya sebagai bagian terkecil dari mata kuliah yang diharapkan pada jurusan program study yang menjadi payungnya.”
pernyataan, semua affirmasi ha-rus mempunyai dasar kuat. Orang yang kritis, ingin mengerti, menye-lamai sesuatu dengan segala se-luk beluknya dan dasar-dasar-nya. Sifat metodis, berarti bahwa dalam proses berpikir dan me-nyelidiki itu, orang mengguna-kan suatu cara tertentu. Sifat sis-tematis, berarti bahwa pemikir il-miah dalam prosesnya itu dijiwai oleh suatu idea yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga pi-kiran-pikirannya dan pendapat-pendapatnya merupakan suatu kesatuan.
Demikian, Ilmu Pariwisata mem-punyai unsur-unsur sebagai berikut.
a). Ilmu Pariwisata sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
b). Mempunyai obyek sendiri (fenomena atau gejalan yang dise-but pariwisata yakni kegaiatan untuk melakukan perjalanan dan rupa-rupa alasan, maksud dan tujuan, mencakup semua faktor dan segala dimensinya)
c). Pemikiran ilmiah tentang objek itu (fenomena disebut pari-wisata) yang tersusun secara kri-tis, metodis, dan sistematis
d). Ilmu yang bercorak normative prescriptif dari ilmu pariwisata.
5. PERTANGGUNGJAWABAN ILMIAH ILMU PARIWISATA
Objek formalnya adalah feno-mena yang disebut pariwisata atau proses situasi pariwisata. Pari-wisata atau proses pariwisata me-nunjukkan keadaan nyata atau realita yang dilakukan, dialami manusia (praksis) dan yang harus dipelajari dan dipahami manusia.
Metode ilmiah: Realita, keadaan nyata yang dilakukan, dialami manusia harus dipelajari dan dipahami oleh manusia yaitu apa yang disebut pariwisata. Tapi agar sampai ke tingkat pemahaman itu diperlukan cara menganalisis tertentu. Pendekatan atau pene-litian ilmiah yang digunakan ialah pendekatan fenomenologis, yang berarti merenungkan, memahami gejalan dalam hal ini gejalan interaksi manusia yang berlang-sung dalam pariwisata itu.
Metode ini menggunakan cara berpikir induktif, dan hasilnya di-susun secara logis dan sistematis, sehingga menampakkan suatu penjelasan atau uraian atau des-kripsi (sifat deskriptif) mengenai pariwisata. Deskripsi itu memuat pula aturan atau ketentuan yang selanjutnya digunakan dalam kegiatan pariwisata. Dengan demikian muncul pula sifat normative ilmu pariwisata. Dalam penelitian ini, metode fenome-nologis digolongkan sebagai meto-de kualitatif (qualitative method).
Dalam usaha menjelaskan praktik atau kegiatan pariwisata digunakan pula metode kuantitatif yang menggunakan cara berpikir deduktif. Metode ini digunakan untuk menguji teori-teori yang telah disusun melalui metode kualitatif.
Demikian, objek formal ilmu pa-riwisata menunjuk suatu sudut pandang khusus dengan mana suatu objek tertentu atau bidang tertentu dipelajari. Suatu bidang yang sama bisa dipelajari oleh di-siplin ilmu lain, selalu dari sudut-sudut pandang berbeda. Objek formal (istilah barangkali sedikit kuno) merujuk secara konkrit para suatu tipe “pelayanan ilmiah” yang particular ykani bahwa ilmu pariwisata harus memberi kontribusi pada human promotion dan common good.
Tipe pelayanan ilmiah yang diberikan lewat tiga level atau tiga dimensi yang saling bergantung, yakni:
a). Mengorganisir, menyusun secara ilmiah fakta-fakta pariwi-sata secara sistematis: Organisasi ilmiah atas fakta-fakta.
b). Perenungan kritis analitis sintesis atas praksis pariwisata guna menemukan dan menyusun teori-teori baru bagi praksis pa-riwisata (teori-teori pariwisata).
c). Mengelaborasi model-model intervensi ilmiah dalam pelbagai bidang yang berbeda. Model-model ini merupakan kongkreti-sasi teori umum menuju praksis, yang sekaligus merupakan tempat dimana teori-teori itu diuji. Elabo-rasi ini meliputi hal-hal berikut.
Menindak lanjuti persoalan-persoalan pariwisata yang ada dan menganalisanya menurut aturan-aturan umum deskripsi atau penelitian empiris.
Merujuk pada dan memban-dingkannya dengan model-model intervensi ilmiah sebelumnya yang sudah diujicobakan dalam rangka mencapai solusi persoalan. Misal-nya, membandingkan, memper-hadapkan model-model itu de-ngan data-data aktual dari situasi tertentu untuk kemudian mene-liti aspek-aspek mana yang valid dan mana yang kurang tepat dari model-model sebelumnya.
Mengelaborasi suatu proposal yang menawarkan suatu penje-lasan atau deskripsi yang rasional atas persoalan sekaligus mem-berikan orientasi baru untuk memberi solusi yang lebih tepat.
Menetapkan model mana yang dapat menjadi intervensi ilmiah untuk verifikasi dan mana model untuk mengontrol, yang kemu-dian menetapkan model mana yang akan diterapkan para praksis pariwisata.
Secara umum dapat dikatakan bahwa metode-metode penelitian pariwisata sangat ditentukan oleh persoalan-persoalan yang sangat khas, di mana ilmu pariwisata dipanggil untuk memberi solusi pada level ilmiah dan operatif praktis. Kesulitannya atau per-soalan metode ilmu pariwisata muncul karena memanfaatkan ju-ga ilmu-ilmu lain. pariwisata tidak menggunakan metode-metode ilmu pengetahuan lain, tapi seba-liknya metode yang terintegrasi dalam suatu kerangka metodologi global, di mana secara teoretis tem-pat dan kontribusi dari pelbagai ilmu dan metode-metode spesifik-nya ditetapkan dan dibenarkan. Dengan kata lain penelitian ilmiah pariwisata mempunyai suatu ka-rakter interdisipliner.(Bersambung)
|
|