|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Fakultas Sastra Unsrat Seminarkan Kesejarahan dan Kebahasaan
|
Berkaitan dengan purnatugas Drs. Robert Tandi, dosen sekaligus mantan dekan Fakultas Sastra Unsrat, baru-baru ini Fakultas Sastra Unsrat menyelenggarakan seminar menyangkut aspek-aspek kesejarahan dan kebahasaan lingkup geografis Sulawesi Utara dan sekitarnya.
“Sangat disyukuri bahwa tradisi menyelenggarakan seminar purnatugas bagi setiap dosen lingkup Fakultas Sastra dapat dipertahankan, bahkan kuantitas dan mutunya terus meningkat dari waktu ke waktu”, demikian Dekan Fakultas Sastra Unsrat, Dra. Rilya Waani-Rumokoy setelah mengikuti dan melihat begitu banyaknya dosen berminat tampil dalam seminar ini.
“Oleh keterbatasan waktu hanya lima pemakalah yang tampil, sedang lainnya, setelah proses editing dan proceeding akan diterbitkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulut”, sambung Ketua Jurusan Ilmu Sejarah, Dra. Mareike Sumilat didampingi Ketua MSI Komisariat Unsrat, Drs. Raymond Mawikere M.Hum.
Drs A Ulaen DEA yang tampil dengan materi kependudukan dan migrasi di kitaran Teluk Tomini, misalnya, mengungkapkan mengenai adanya push and pull factor bagi terjadinya tindakan migrasi, juga mengenai signifikansinya pengaruh latar etnis bagi tindakan demikian. Sedangkan Prof. Dr. Wiesye Lalamentik yang membahas variasi bahasa di kitaran regional Sulut menyatakan bahwa perubahan unsur bahasa sebagaimana yang terangkat dan dapat dilihat sekarang ini pada dasarnya dapat ditelusuri, antara lain dengan pendekatan linguistik historis komparatif. “Pengetahuan mengenai aspek-aspek fonologis, sintaksis dan semantis, oleh karenanya, prioritas diperlukan guna menelusuri pemahaman atas perubahan-perubahan kebahasaan yang terjadi”, tuturnya.
Pada bagian lain, Dra R Arbie, M.Hum yang membahas sejarah budaya dan kebahasaan di perkampungan Jaton juga telah dapat menampilkan sisi-sisi lain dari struktur masyarakat Jaton yang selama ini belum terangkat luas, sementara Drs. Fendy Parengkuan yang mengulas mengenai issue nasionalisme, telah mengangkat perjalanan nasionalisme itu sendiri sejak dari biji kecambah di Asia Selatan dan Tenggara hingga memperoleh kematangannya di Indonesia, bahkan pengaruhnya terhadap iklim nasionalisme pada tingkatan struktur lokal dan regional saat ini. Makalah Ivan Kaunang, M.Hum di pihak lain secara khusus meneropong mengenai kondisi pengetahuan kesejarahan masyarakat Sulut yang minim. Yang dalam paparannya, telah menggariskan soal, “diperlukannya perhatian intens sekaligus keberpihakan dari pihak-pihak terkait”.
Sebagai sejarawan dengan spesialisasi Asia Selatan dan Indonesia pada masa pra abad ke-16, Drs Robert Tandi yang menjadi fokus dilaksanakannya seminar ini, pada kesempatan itu selain menyatakan rasa harunya, juga bangga dengan atas dilaksanakannya seminar seperti ini”. “Wajar saja Bapak Tandi bangga dalam mengakhiri purnatugasnya sebab sebagian besar makalah yang dibuat adalah merupakan produk dari anak didik beliau”, tutur Sekretaris Jurusan Ilmu Sejarah Drs. M. Rombon, didampingi Sekretaris Panitia Drs. H. Pangemanan, M.Hum.(jef)
|
|