HOME : FOOTBALL

Berita Seromini dan Agenda

04 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Natal Vs Hura-Hura Dan Huru Hara (1)
Oleh: Pdt Arthur R Rumengan MTeol


NATAL ya Natal, bukan Natal kalau tidak ada hura-hura dan akhirnya bisa berakhir huru hara. Natal tidak pernah sepi dengan gaya hidup yang hura-hura oleh umat beragama Kristen. Mungkin ada yang tersinggung, tapi faktanya demikian bahwa Natal telah dan akan diawali dengan bisnis senterklas sampai pada perayaan-perayaan natal yang akan menelan biaya ribuan triliun di
seluruh dunia yang akan habis lenyap sekejap ditelan oleh perilaku beragama yang hura-hura. Bisnis Natal, apapun motivasi dan niatnya tidak bisa lepas dengan perilaku beragama yang “hura-hura”. Di sana ada keramaian, senang-senang, di sana ada hadiah-hadiah, di sana ada bonus-bonus, di sana ada pawai-pawai, di sana ada makan-minum dan pesta pora. Itulah hura-rura. Agama yang memamerkan perilaku yang demikian dapat dikatakan agama yang hura-hura dan bukan tidak mungkin terjadi huru-hara (=keributan dan kekacauan) karena telah kelibihan minuman yang beralkohol. Beragama yang seperti ini jauh sekali dengan motivasi Natal perdana, yang aktornya adalah
bayi Yesus yang lahir di kandang hina Bethlehem, tanpa hura-hura.
Di sana tidak ada keramaian, yang ada sunyi sepi. Di sana tidak ada pernik-pernik aksesoris pohon natal, selain sebuah lantai tanah dan palungan sederhana. Apalagi kembang api sebagai simbol kejayaan dan pawai-pawai sebagai show force tidak ada di sana. Di sana hanya ada kesederhanaan dan kemiskinan. Inilah Natal perdana, yang kesaksiannya tidak perlu dipoles dan ditutupi dengan segala kemegahan dan kemewahan yang hura-hura. Kekuatan natal perdana tidak pada kemewahan dan hura-hura, tetapi terletak pada kesederhanaan dan kesunyian. Natal tanpa kemewahan dan hura-hura, tidak berarti kehilangan substansi kehadirannya, yang ada justru suara Allah dan para
malaekat lebih nyaring terdengar.
Natal perdana yang berawal di sebuah kandang yang hina, terus dilakoni oleh aktor yang sama yang tetap hidup dalam kesederhanaan. Yesus jarang berada di atas keledai sebagai simbol kejayaan sang Mesias atau di atas kereta sebagai simbol kebesaran sang raja. Dia justru banyak berada di lapangan, dikerumuni oleh orang “kebanyakan” yang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Dia tidak mau berlama-lama di bait Suci yang megah karena panggilan lapangan sebagai tanda solidaritasnya dengan sebanyak mungkin orang yang sedang termajinalisasi oleh ruang suci keagamaan waktu itu. Yesus betah hidup berlama-lama dengan beribu-ribu orang yang ketiadaan makanan dan minuman
di atas bukit. Kaki Yesus yang berkasutkan “sendal Jepang” sering terbungkus debu menempuh perjalanan panjang dengan menggunakan kendaraan plat nomor 11. Kesederhanaan kandang hina Bethlehem, tidak pernah berubah sekalipun Yesus secara duniawi telah populer atau menjadi penghotbah sejuta
umat. Konsistensi terhadap panggilan-Nya tetap berlangsung terus dalam pelayanan-Nya. Yesus tidak tergoda dengan popularitas, kekayaan dan kejayaan. Dia tetap sederhana, karena dalam kesederhanaan, justru
wibawa-Nya sebagai “hamba Tuhan” tetap terjaga.
Mengapa Natal telah kehilangan makna kesederhanaannya? Apakah perilaku
“kehambaan” para hamba Tuhan, tidak lagi mengacu pada kata-katanya? Umat sudah pasti akan mengacu pada kata dan tindakan hamba Tuhannya. Kalau saja suara kenabian para hamba Tuhan telah “sumbang” karena takut mengkritik gaya hidup beragama umat Tuhan yang cendrung hura-hura, maka tidak sulit ditebak bahwa suatu saat perilaku hidup umat akan menghalalkan perilaku huru-hara.
Merayakan natal adalah ibadah. Ibadah yang benar di hadapan Tuhan, pasti tidak hura-hura, apalagi huru hara. Natal adalah ajakan untuk bersolider dengan sesama yang miskin. Kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan gaya senterklas yang membawa hadiah sporadic dan sekedar karitatif, tetapi kemiskinan butuh perjuangan pemberdayaan. Pemberdayaan membutuhkan tindakan-tindakan diakonia reformatif, yang tidak hanya memberi ikan, tetapi sudah harus memberi pancing sekaligus melatih mereka bagaimana menggunakan pancing secara terampil agar dapat menangkap dan menghasilkan
ikan yang banyak. Bahkan sekarang ini, tindakan diakonia kita telah melangkah maju ke arah diakonia transformatif, yang tidak hanya melatih menggunakan
pancing secara terampil, tetapi bagaimana bersama kaum miskin kita membangun kepercayaan diri mereka dengan tetap mendampingi, melatih dan memperjuangkan sendiri hak-hak mereka termasuk dapat memiliki
“kolam” sendiri untuk mereka memancing ikan. Momentum Natal sekalipun setahun sekali, akan menjadi kekuatan pemberdayaan bagi warga miskin, kalau
saja kita dengan tulus mengalihkan 75 % anggaran perayaan Natal kita untuk membiayai “proyek pemberdayaan ekonomi” bagi warga gereja. Inilah implikasi Natal perdana pada setiap tahun kita merayakan Natal. Natal tidak lagi menjadi ajang hura-hura mulai dari bisnis senterklas, pohon Natal,
aksesoriss Natal , kaset-kaset/ CD natal, parcel-parcel sampai pada makan-minum di hotel-hotel berbintang yang menghabiskan dana yang sangat besar.
Mari kita mulai menghitung berapa biaya/anggaran yang sudah ditetapkan oleh panitia-panitia natal di semua aras. Berapa persen untuk memberdayakan ekonomi warga gereja dan berapa saja dana yang akan habis terbuang untuk semua urusan seremonial yang cendrung hura-hura? Kalau kita tetap pada sikap kita yang hura-hura dalam merayakan Natal atau ber-natalria, semoga saja
sesudah perayaan Natal selesai tidak terdengar dan terjadi “huru-hara” dalam keluarga, jemaat dan masyarakat.(**)

Penulis, Pengamat Sosial-Agama dan Dosen Fakultas Teologi UKIT

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin