|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Peningkatan partisipasi masyarakat dan peran Lintas sektor di daerah
Pemberantasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue(2)
|
Bila lingkungan sekitar kita kering atau tidak ada media air sebagai tempat bertelur nyamuk maka nyamuk aedes aegypti akan berkurang di sekitar kita, sehingga dengan sendirinya penyakit demam berdarah akan berkurang. Bila tidak, dapat kita terapkan metode konvensional sederhana untuk membasmi nyamuk dewasa, dikombinasikan dengan pembasmian jentik aedes aegypti yang digunakan saat ini melalui Gerakan 3M Plus, yang dikembangkan menjadi Gerakan Multi M atau Gerakan Multi P yang pembuatannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat (Sumakul JA.)
Untuk mengeliminasi penyakit (DBD) di mana pada kenyataan-nya saat ini dalam upaya men-cegah dan menanggulangi pe-nyakit (DBD) yang paling domi-nan berperan dan diberi tang-gung jawab yaitu Instansi Kese-hatan seperti Departemen Kese-hatan atau Dinas Kesehatan saja.
Namun sebenarnya penyakit ini terjadi berkaitan erat dengan perilaku di mana penyakit ini terjadi sebagai akibat langsung keadaan kondisi higiene sanita-si lingkungan berkaitan dengan pembangunan sarana pra sara-na yang dibangun dimana kon-disi lingkungan tersebut menjadi tempat yang baik untuk berkem-bang biaknya nyamuk aedes aegypti yang menjadi vektor per-antara penularan virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah pada manusia.
Pada daerah endemis DBD, un-tuk memberantas penyakit DBD dapat dilakukan beberapa upaya untuk membasmi telur, jentik dan nyamuk dewasa aedes aegypti yang menjadi reservoar perantara penularan dari virus dengue yang menyebabkan penyakit (DBD) dengan memilih dari beberapa contoh model cara penanggu-langan melalui metode “Gerakan 3M Plus” sebagai pengembangan “Gerakan 3M” yang ada saat ini, yang dapat dikembangkan lagi menjadi “Gerakan Multi M” yang realisasi pembuatannya dise-suaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat setempat, antara lain:
1. Mencegah terben-tuknya telur dan jen-tik aedes aegypti.
- Menjamin secara baik dan te-rus-menerus distribusi air bersih secara perorangan atau oleh pihak PDAM / PT Air untuk kebu-tuhan mandi, cuci dan masak.
- Membudayakan tidak me-manfaatkan wadah penampu-ngan air di rumah, dapur dan halaman pekarangan seperti bak penampungan air, ember, drum.
- Membudayakan perilaku hidup sehat memanfaatkan air bersih terus menerus secara langsung dari mata kran air un-tuk kebutuhan mandi, cuci dan masak.
- Memanfaatkan air sumur gali tertutup memakai pompa ta-ngan atau pompa listrik.
- Menggunakan air sumur suntik.
- Meningkatkan mutu higiene dan sanitasi lingkungan pada kawasan pemukiman.
- Menempatkan sampah anor-ganik yang bersifat menampung air hujan seperti kaleng, botol, ban bekas pada tempat tertutup, terlindung atau tidak terkena air hujan.
- Mengalirkan atau menghi-langkan tempat genangan air, air hujan dan air limbah yang tidak mengalir.
- Menata bangunan seperti ta-lang saluran air, atap bangunan yang menampung air hujan serta
- Mengurangi pemanfaatan bak penampungan air di kamar mandi atau pekarangan rumah.
- Menghilangkan tempat pe-rindukan nyamuk pada tana-man seperti vas bunga, alas vas bunga, bambu, daun dan pang-kal daun lebar atau wadah yang menampung air hujan di per-kampungan atau kebun dekat perkampungan yang terdapat wabah/KLB DBD (kemampuan jarak terbang nyamuk dengan radius 200 meter).
2. Membasmi telur dan jentik aedes agypti.
- Menguras atau membundur tempat penampungan air seperti bak, ember, drum setiap minggu.
- Mengganti secara berkala setiap minggu air bersih pada bak, ember dan drum atau wadah penampungan air.
- Menuangkan air pada tempat kering atau tidak memung-kinkan telur dan jentik untuk hidup (air di bak, ember, drum, kaleng bekas, botol, ban mobil atau wadah menampung air).
- Melaksanakan program Abatisasi atau pemberian bubuk abate pada air yang ditampung.
- Memelihara ikan sebagai predator pemangsa jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan-ikan kecil lainnya.
3. Menghindari gigitan nyamuk aedes agypti.
- Menggunakan kelambu (cara paling baik), memakai pakaian dan selimut saat tidur.
- Memakai obat nyamuk bakar, semprot atau jelly kulit.
- Memakai kawat kasa penu-tup akses nyamuk pada jalusi jendela / pintu, leideng pengua-pan wc, dan tanki penampu-ngan air bersih.
- Menggunakan kipas angin.
4. Membasmi nyamuk dewasa.
- Melaksanakan penyem-protan memakai bahan insekti-sisda seperti malathion, sinoff untuk penyemprotan secara masal pada area yang luas.
- Menggunakan obat nyamuk semprot Baygon, Raid, dll.
- Memakai lampu listrik/alat pengisap nyamuk atau raket baterei.
- Memakai alat konvensional pembasmi nyamuk (masih bersifat hipotesis dan semen-tara dalam penelitian / perco-baan untuk dapat diterapkan di lingkungan perumahan).
Untuk keberhasilan pelaksa-naan program pemberantasan penyakit (DBD) melalui pening-katan mutu higiene sanitasi ling-kungan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: Adanya keterbatasan ketersediaan dana anggaran dari pihak pemerintah, swasta dan masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat, kondisi sosial ekonomi dan budaya ma-syarakat, faktor ketidaktahuan masyarakat (ignorance), iklim dan metode yang digunakan.
Disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya, faktor iklim, maka untuk eliminasi penyakit DBD dapat dipilih sa-lah satu atau gabungan dari be-berapa model pemberantasan penyakit DBD yang diharapkan dapat memberikan hasil secara efektif, efisien, berdaya guna; oleh karena mudah dilaksa-nakan, biaya murah, aman bagi manusia dan lingkungan.
Dengan adanya komitmen atau kebijakan pemerintah seperti mengyukseskan pelaksanaan even internasional (WOS), visi Kota Pariwisata Dunia; seyogia-nya hal ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan penyediaan sarana air bersih serta pembangunan sarana pra-sarana yang berhubungan de-ngan peningkatan mutu kese-hatan lingkungan melalui pe-ngolahan sampah dan air lim-bah rumah tangga secara baik dan benar; di mana hal ini diha-rapkan dapat menurunkan po-pulasi nyamuk aedes aegypti se-hingga berdampak pada menu-runnya angka kesakitan dan ang-ka kematian oleh penyakit DBD.
Untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan pemberantasan penyakit DBD sebenarnya yang paling tepat yaitu melalui upaya pencegahan dengan jalan memperbaiki ber-bagai sarana prasarana yang ada agar sarana dan prasarana atau kondisi lingkungan tersebut tidak menjadi tempat optimum untuk hidup dan berkembang biak nyamuk, demi mencapai tu-juan menurunkan populasi nya-muk aedes aegypti di lingku-ngan pemukiman masyarakat.
Di mana hal ini sebenarnya un-tuk pelaksanaannya berhubu-ngan dengan ruang lingkup di luar sektor kesehatan atau berada pada bidang tugas dan ruang ling-kup dari instansi atau dinas ter-kait lainnya seperti pemenuhan kebutuhan air bersih dan pem-bangunan sarana prasarana lain-nya yang memenuhi syarat dari segi higiene dan sanitasi ling-kungan.
Selayaknyalah, berkaiatan dengan penataan dan perbai-kan sarana dan prasarana terse-but maka untuk masuk pada substansi dasarnya dimana me-nyangkut pembuatan atau per-baikan sarana prasarana ter-sebut bidang tugas tersebut sering berhubungan dengan hal-hal teknis yaitu menyang-kut teknik design dan struktur suatu bangunan yang dibuat lengkap sehingga memenuhi syarat dari segi kesehatan ling-kungan yang berkaitan dengan bidang teknik arsitek, dimana pelaksanaan realisasi pem-buatannya banyak yang berada di luar bidang tugas instansi ke-sehatan.
Misalnya, hal meliputi adanya jaminan ketersediaan kelan-caran distribusi air bersih dan optimalnya kekuatan tekanan air oleh pihak PDAM / PT Air; adanya jaminan ketersediaan dan kelancaran distribusi aliran listrik oleh pihak PLN, yang ma-na hal ini dimaksudkan ber-kaitan dengan pembentukan perilaku dan kebiasaan masya-rakat untuk berpola hidup se-cara sehat dalam hal peman-faatan air bersih secara langsung dari mata kran air dengan me-ninggalkan kebiasaan menam-pung air di dapur, kamar mandi dan pekarangan rumah.
Jadi pada dasarnya sebenar-nya untuk mengatasi penyakit DBD agar mencapai hasil yang diharapkan di mana insidens ra-te atau angka kesakitan DBD pada tahun 2010 diharapkan un-tuk tiap 100.000 penduduk hanya didapatkan dua orang yang sakit DBD yaitu dengan jalan menga-tasi masalah yang ada di luar bidang kesehatan seperti mem-basmi tempat peruntukan ber-kembang biaknya nyamuk aedes aegypti untuk mencegah terben-tuknya telur dan jentik, membas-mi telur dan jentik serta upaya menghindarkan gigitan nyamuk aesdes aegypti.
Di mana untuk keberhasilan penanganannya memerlukan intervensi dan campur tangan secara komprehensif, simultan, terpadu dan berkelanjutan; secara multi sektor dari berbagai komponen dan disiplin ilmu baik interdisipliner dan multidisip-liner meliputi bidang teknik arsitektur, teknik mesin, ke-listrikan, air bersih, lingkungan, biologi (entomologi), pertanian, perikanan, pengairan, kimia, ekonomi (gakin), politik, psikologi, pendidikan dan sosio-kultural; yang pelaksanaannya seyogianya beorientasi ke arah higiene dan sanitasi lingkungan.
Dengan kata lain dalam pelak-sanaannya perlu intervensi oleh berbagai Instansi atau Dinas yang ada, perguruan tinggi serta pihak terkait lainnya yang ber-kepentingan untuk secara ber-sama-sama berupaya menghila-ngkan media yang menjadi tempat hidup dan tempat ber-kembang biaknya nyamuk aedes aegypti berupa “Gerakan Multi P” melalui peningkatan peran secara lintas sektor dan lintas program dari beberapa depar-temen, dinas atau instansi ter-kait, dengan melibatkan peran serta pihak swasta dan masya-rakat secara luas, yang dapat di-laksanakan pada daerah ende-mis penyakit DBD, meliputi:
- Penyediaan kelancaran distri-busi dan tekanan air yang baik oleh pihak PDAM dan PLN.(Bersambung)
|
|