HOME : FOOTBALL

Headlines News  

07 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

YZ Case 


GARA-gara video hotnya dengan seorang penyanyi dangdut, Yahya Zaini (YZ) benar-benar babak belur. Politisi Golkar yang sedang naik daun itu, harus pasrah kehilangan kariernya. Ketua DPP Golkar, jabatan anggota DPR dan jaba-tan menteri yang telah digadang untuk-nya, hilang dalam sekejap. Belum lagi rasa malu yang harus ditanggungnya bersama keluarga. 
Jika ada penilaian politisi paling apes di dunia, YZ pantas masuk nominasi. 
Namun, terlepas dari perila-ku amoral dan kesalahan yang dilakukan YZ, ada se-jumput tradisi positif yang di-tinggalkannya dalam pentas perpolitikan nasional. Sebu-ruk-buruknya YZ di mata pu-blik, ada sebuah pelajaran yang harus dipetik kalangan politisi kita dari YZ. Sebab tanpa membela diri lagi, sepu-langnya dari kunjungan luar negeri, YZ langsung mengaju-kan surat pengunduran diri di DPP Partai Golkar. 
Selain itu, YZ juga sudah pasrah untuk menerima surat pemecatan dari keanggo-taannya di Senayan. Kebera-nian YZ mengundurkan diri karena merasa bersalah dan malu, pantas dijadikan panu-tan para politisi dan pejabat negara kita. Jepang dan Korea adalah negara yang berhasil menjadi macan ekonomi Asia dan dunia karena tradisi malu yang melekat di kalangan politisi dan pejabatnya.
Masih teringat di benak penulis, medio 2006 lalu, ketika Perdana Menteri Korsel Lee Hae Chan dan Wakil Men-teri Pendidikan Lee Gi Woo menyatakan pengunduran diri karena tradisi malu yang dipegang kuat. Mereka mun-dur hanya karena bermain golf dengan para pengusaha ketika ribuan buruh kereta api tengah mogok massal. 
Lengsernya dua pejabat publik di Korea ini merupakan sebuah keteladanan akan tanggung jawab. Tanggung ja-wab pejabat publik yang ha-rus mengurus rakyat. Namun, manakala publik menuduh ada abuse of power, mereka pun dengan kesatria meminta maaf dan menanggalkan ja-batan. Tradisi ini yang mem-buat Korsel tangguh dan tum-buh menjadi negara kuat dari segi ekonomi. Rakyat pun per-caya dengan pemerintahnya. Tak heran, ketika Korsel di-landa krisis ekonomi, rakyat secara bahu-membahu mem-berikan perhiasan emasnya untuk menopang ekonomi nasionalnya. 
Jepang mirip Korsel. Spirit Samurai mampu meletakkan tradisi malu di kalangan po-litisi dan pejabatnya. Bahkan kalangan generasi muda di negeri ‘Matahari Terbit’ itu ikut-ikutan, sampai-sampai ketika tidak lulus di pergu-ruan tinggi yang diminatinya, mereka rela ‘harakiri’ dengan cara menjatuhkan diri dari gedung bertingkat dsb. 
Sebuah koran di Jepang mencatat, sudah ratusan pejabat dan politisi di negeri itu yang mundur akibat me-rasa gagal dalam mengem-bankan amanat publik dan bukan karena surat pemeca-tan. Malah 20 persen dari me-reka memilih jalan ‘harakiri’ (bunuh diri) yang diyakini sebagai upaya penebusan atas kegagalan mereka meng-abdi untuk negara. 
Bandingkan dengan di In-donesia. Sudah dijadikan ter-sangka, bahkan terdakwa se-kalipun, ada sebagian politisi dan pejabat yang enggan un-tuk mundur. Dipecat sekali-pun, mereka masih mencoba menggugat. Ada anggota DPRD yang sudah di-PAW, masih saja mencoba bertahan dengan bicara logika yang meliuk-liuk agar mendapat-kan pembenaran publik. 
Bahkan, ketika rakyat se-dang lapar sekalipun, mereka dengan dalih untuk rakyat terus menari-nari dengan menggunakan uang rakyat. Contohnya, berbagai studi banding demi studi banding digelar, padahal hasilnya hampir tidak bisa dipertang-gungjawabkan dan berman-faat bagi rakyat. Studi ban-ding kerap dipakai sebagai alat legitimasi untuk mengha-biskan uang rakyat. 
Seharusnya kita belajar atas keberhasilan Jepang dan Ko-rea, di mana politisi dan peja-bat publiknya benar-benar mengedepankan kejujuran dalam mengemban tugas negara. Mereka tidak berdalih dan membuat kebohongan, sebab kebohongan pertama pasti akan melahirkan kebo-hongan demi kebohongan berikutnya. 
Bangsa ini perlu mengadopsi sikap pejabat dan politisi Je-pang dan Korea. Bergembira-lah kita bahwa YZ telah me-mulainya. Semoga tradisi ini bisa mengakar. Para pemim-pin kita harus berani menga-kui kesalahan dan tidak me-nyembunyikan keselahan demi kesalahan. Pemimpin harus menunjukkan budaya malu di masyarakat. YZ memang telah melakukan kesalahan fatal. Tapi kita sudah seharusnya mendukung sikap gentle YZ ke-tika menebus kesalahannya. Ini membuktikan bahwa YZ adalah pejabat negara yang mengedepankan budaya malu. 
Semoga tradisi positif dari ‘YZ case’ ini semakin banyak kita temui, dan suatu waktu sikap ini menjadi tradisi di kalangan pejabat dan politisi kita, agar negara ini mampu bangkit dari keterpurukan-nya. Semoga !!(***) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin