|
|
|
|
![]() |
![]() |
MEMBACA dari judulnya saja mungkin pembaca akan beranggapan bahwa saya (penulis) melecehkan Minut yang merupakan daerah kebanggaan Tou Tonsea. Namun sebelum membaca tulisan ini hingga tuntas, saya harap janganlah dulu berpikir negatif. Sebab persoalan yang diangkat dan akan penulis bahas dalam tulisan ini demi kepentingan masyarakat Minut sendiri.
Sejumlah pakar lingkungan menyimpulkkan “sampah” me-rupakan salah satu faktor pe-nyebab terjadinya bencana banjir dan penyebaran penya-kit di suatu daerah. Lantas se-jauh mana tindakan yang di-ambil Pemkab Minut untuk menyikapi persoalan kecil yang nantinya berbuntut kesengsa-raan ini ? Mari kita telusuri ber-sama.
Dari data kependudukan di Pemkab Minut menyebutkan, jumlah penduduk yang ber-mukim di wilayah Minahasa Utara tak kurang dari 16 ribu-an jiwa dengan jumlah pemu-kiman sekitar 3000-an buah rumah penduduk.
Jika dikalkulasikan per satu rumah menghasilkan 1/2 Kg sampah setiap harinya, berarti di Minut sendiri memproduksi 1.5 ton sampah setiap hari, dan apabila kita hitung setiap bu-lannya, berarti sampah yang diproduksi di Minahasa Utara sekitar 45 ton sampah kering maupun basah. Itulah fakta yang ada.
Lantas apa yang telah dila-kukan penguasa kita untuk untuk menyelamatkan Bumi Tonsea yang katanya akan menjadi Daerah Serba Dimensi ini ancaman ribuan kilogram sampah setiap bulannya? Ten-tu pembaca akan lebih kaget lagi, sebab dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2006 yang ka-tanya untuk mengangkat taraf hidup masyarakat Minut men-jadi lebih baik, ternyata sepeser pun tidak ada dana yang di-alokasikan pemerintah untuk menanggulangi persoalan sam-pah ini.
Artinya selama dua tahun le-bih Minut berdiri, pemerintah tidak ada tindakan yang jelas untuk menanggulangi persoal-an sampah, sehingga bayang-kan saja, sebulan saja sampah di Minut tak kurang dari 45 ton, dan jumlah itu jika dikalikan selama 24 bulan (2 Tahun), ber-arti sekitar 1080 ton sampah kering dan basah di Minut tidak pernah di angkat alias berse-rakan di Bumi kaki Gunung Kla-bat ini. Apakah wajar dengan jumlah sampah yang begitu besar menjadikan jika Minut di juluki Kota Sampah? Biarlah pembaca menyimpulkan hal itu.
Karenanya janganlah pernah heran, imbas ketidakpekaan dari pemerintah kita, sejumlah lokasi pemukiman warga di Bumi Tonsea terlebih khusus di sejumlah kawasan peruma-han, sering kali dihiasi dengan gundukan-gundukan sampah yang tidak pernah diang-kat.(bersambung)
|
|