HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

07 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue(3) 

 IKUTI BERITA LAIN

Peningkatan partisipasi masyarakat dan peran Lintas sektor di daerah 
Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue

SURAT PEMBACA

Kedamaian di Sulut Harus Tetap Dijaga

 COMMENTAREN

LI dan Prestise


Bila lingkungan sekitar kita kering atau tidak ada media air sebagai tempat bertelur nyamuk maka nyamuk aedes aegypti akan berkurang di sekitar kita, sehingga dengan sendirinya penyakit demam berdarah akan berkurang. Bila tidak, dapat kita terapkan metode konvensional sederhana untuk membasmi nyamuk dewasa, dikombinasikan dengan pembasmian jentik aedes aegypti yang digunakan saat ini melalui Gerakan 3M Plus, yang dikembangkan menjadi Gerakan Multi M atau Gerakan Multi P yang pembuatannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat (Sumakul JA.)

- Pembuatan bangunan tidak menampung air hujan (talang, atap) melibatkan pemilik, arsi-tek, tukang, perusahan real esta-te, jasa konstruksi, Dinas Kese-hatan (sosialisasi), Kimpraswil. 
- Pembuatan tempat tinggal tidak memakai bak penam-pungan air atau menggunakan air secara langsung dari kran air pancuran melibatkan pemilik, arsitek, tukang, PDAM, Kese-hatan (sosialisasi), Dinas Kim-praswil, perusahan real estate. 
- Pembuatan sistem pem-buangan air limbah sederhana pada kawasan pemukiman melibatkan pemilik, ahli Kesling, Kimpraswil, tukang, real estate, LH, Lurah, Camat (mapalus). 
- Pembuatan pusat pengola-han air limbah melibatkan arsi-tek, ahli lingkungan, mikrobio-logi, laboratorium, kelistrikan, LH. 
- Pentutupan sumur gali ter-buka, pompanisasi dan betoni-sasi melibatkan pemilik, tukang, Dinkes (sosialisasi), Dinkim-praswil, Dinkessos, BPS (Gakin), Lurah, Camat (kegiatan mapalus). 
- Pembuatan sumur suntik arte-sis melibatkan pemilik, ahli tek-nik, kesehatan lingkungan, per-usahan real estate, Dinkimpraswil.
- Penanganan tanaman atau daun menampung air hujan melibatkan petani pemilik, ahli pertanian, kesling (sosialisasi), Lurah, Camat. 
- Pengelolaan rawa-rawa, kolam melibatkan pemilik, ahli perikanan, ahli pertanian, Tata Kota, Kimpraswil. 
- Penataan selokan air hujan melibatkan arsitek, tukang, Din-kimpraswil, LH, Lurah, Camat. 
- Penanganan sampah meli-batkan Badan / Dinas Keber-sihan, LH, Dinkimpraswil, teknik mesin, ahli pertanian, per-usahan real estate, pihak swas-ta / pengusaha dan masyarakat. 
- Pembuatan perangkat peraturan, pelaksanaan pe-ngontrolan dan penegakan hukum oleh ahli hukum, DPRD, Badan / Dinas Kebersihan, LH, Kesehatan, Kesbang, Pol PP, Kepolisian, Jaksa, Dipenda / Bank / Pos (Pembayaran Denda).
- Program Komunikasi Infor-masi dan Edukasi melibatkan Balai Diklat, Infokom, Dinas terkait, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, PKK, LSM, LPM, Kesling, real estate, media cetak dan elektronik, TNI/POLRI, atau kalangan stake holder lainnya. 
- Program sosialisasi, pe-ningkatan peran serta masya-rakat melibatkan Dinas Info-kom, Dinas terkait, media cetak dan elektronik, tokoh agama, tokoh masyarakat, real estate, PKK, LSM, LPM, TNI/POLRI, atau kalangan stake holder lainnya.
- Program bantuan sosial meli-batkan BPS, Dinkessos, Kese-hatan, Kimpraswil, LPM, LSM.
- Program pembasmian serangga melibatkan Dinkes, ahli entomologi, ahli kimia, perta-nian, peternakan, media massa, LSM, LPM, Lurah, Camat. 
- Program pembasmian nya-muk dewasa secara konven-sional melibatkan Dinkes, Info-kom, PKK, Camat, Lurah, Kader, Tokmas, swasta, media massa dan masyarakat sebagai sasaran.
- Pihak terkait lainnya atau yang berkepentingan dalam upaya menurunkan penyakit DBD. 
Sebenarnya bila dilihat dari komponen terkait tersebut diatas cukup besar jumlahnya yang mana hal ini merupakan suatu potensi yang sangat besar dan bila dapat disinkronkan akan memberikan hasil secara berlipat ganda dan mempunyai efek luas (multiplier effect) dalam membantu mengatasi masalah penyakit DBD secara tuntas, menyeluruh dan berkelanjutan. 
Hanya saja kini masalahnya yaitu bagaimana agar tercapai suatu sinergi dan keterpaduan dalam menyatukan gerak lang-kah dari beberbagai komponen tersebut untuk secara bersama-sama mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dalam hal memberantas tempat bertelur dan perindukan nyamuk aedes aegypti dalam upaya untuk me-nurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD yang sudah merengut banyak korban jiwa dan mengakibatkan kerugian negara dan keluarga agar boleh terjadi efisiensi dana anggaran.
Di mana nantinya oleh adanya penghematan anggaran tersebut disebabkan berkurangnya pe-nyakit DBD dikemudian hari, ma-ka alokasi dana anggaran yang saat ini digunakan untuk pe-nanggulangan DBD; diharapkan, nantinya dana tersebut dapat di-alihkan untuk membiayai ang-garan pembangunan sektor atau bidang lainnya serta akan meng-gurangi beban ekonomi masyarakat. 
Melihat kondisi yang ada saat ini dimana dalam perencanaan dan pembangunan berbagai sarana prasarana yang ada ku-rang diperhatikan aspek higiene dan sanitasi lingkungan. 
Selayaknya dalam pemba-ngunan suatu sarana prasarana bangunan baik perencanaan atau pembangunan pemuki-man, perumahan, kantor, tempat-tempat umum; seyo-gianya sebagai prasyaratnya harus disertai atau dipenuhinya kelengkapan persyaratan sesuai standar higiene dan sanitasi lingkungan yang dipersyaratkan dari segi Kesehatan Lingkungan termasuk dalam hal persyaratan pemberian IMB oleh instansi berwenang termasuk dalam pengontrolan selama dalam masa pemakaiannya. 
Pada prinsipnya: “Dengan membuat kondisi lingkungan di sekitar kita kering dan bebas dari air terbuka atau tidak ada air secara terbuka maka tidak akan ada nyamuk aedes aegypti di sekitar kita”, dalam arti bahwa dengan kondisi lingkungan se-kitar yang dibuat menjadi kering atau bebas dari air terbuka maka tidak akan ada nyamuk aedes aegypti di sekitar kita karena tidak ada air yang merupakan kebutuhan hidup untuk tempat makan dan minum serta tempat bertelur atau berkembang biak nyamuk aedes aegypti sehingga penyakit demam berdarah akan berkurang di lingkungan kita. 
Sebagaimana yang ada di be-berapa negara maju, dimana de-ngan begitu baiknya kondisi hi-giene sanitasi lingkungan menye-babkan berkurangnya insidens beberapa penyakit menular dan penyakit infeksi. Dengan begitu baiknya kondisi higiene sanitasi lingkungan maka pola penyakit mengalami perubahan; di mana dengan berkurangnya penyakit infeksi dan penyakit menular menyebabkan menonjolnya penyakit pembuluh darah, penyakit metabolik dan penyakit degeneratif, namun kwalitas hi-dup makin meningkat dengan berkurangnya penyakit menular dan penyakit infeksi tersebut serta usia harapan hidup makin meningkat pula.
Sebagai bahan perbandingan, untuk gambaran kondisi ling-kungan yang ada di negara maju kami mengambil contoh model seperti di Kota Brisbane (Aus-tralia) yang tergolong maju da-lam hal penataan dan penge-lolaan lingkungan.
Di mana untuk mewujudkan kondisi lingkungan perkotaan yang baik, maka untuk pem-buatan berbagai sarana yang ada diatur oleh Pemerintah agar pembangunan sarana tersebut dibuat memenuhi syarat higiene dan sanitasi lingkungan meli-puti pemanfaatan air bersih un-tuk kebutuhan air minum dan cuci serta pengaturan setelah air bersih tersebut habis dipakai menjadi air limbah sehingga boleh dikata sulit bagi kita un-tuk dapat menemukan kondisi lingkungan sekitar yang ter-dapat air terbuka baik di dapur, rumah, halaman pekarangan ataupun lingkungan sekitarnya. 
Untuk penggunaan air bersih umumnya masyarakat dalam memanfaatkan air bersih di dapur atau di rumah menggu-nakan air secara langsung dari mata kran air dan hampir tidak ada kebiasaan masyarakat un-tuk menampung air bersih di da-pur, halaman pekarangan; dalam kamar mandi digunakan kran pancuran dan tidak ditemukan adanya bak penampungan air, hal ini boleh terwujud karena untuk penyediaan kebutuhan air bersih dijamin secara baik distribusi air bersih tersebut yang mengalir setiap waktu oleh pihak pengelola air bersih yang ada atau dalam arti air tidak mati-mati. 
Pembuatan kamar mandi di-rancang dengan kondisi ter-kesan adanya suasana yang ke-ring, umumnya kamar mandi di-buat dengan ukuran lebih kecil karena tidak ada bak tempat menampung air bersih, kamar mandi menggunakan shower untuk mandi dan umumnya ada bak tempat berendam, lantai ka-mar mandi dirancang cepat ke-ring kadang memakai karpet, serta untuk buang air besar ti-dak menggunakan air tapi me-makai toilet tissue.
Air buangan disalurkan pada saluran pembuangan air limbah, tiap rumah tidak ada air limbah yang tergenang di halaman pe-karangan sebab air limbah di sa-lurkan ke pusat pengolahan air limbah atau di alirkan pada lo-bang peresapan atau septic tank yang ada, termasuk pengaturan yang baik tentang saluran air hujan secara tersendiri yang ke-semuanya ini atas kesadaran dan inisiatif warga sudah diran-cang pada saat pembuatan ba-ngunan tersebut dan meru-pakan suatu persyaratan yang dilaksanakan pada saat men-dirikan suatu bangunan. 
Untuk mewujudkan hal terse-but memang agak sulit bagi kita karena adanya keterbatasan anggaran dan tingkat sosial eko-nomi masyarakat yang berbeda, namun karena lingkungan itu bersifat universal adalah baik bila kita dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada kita punya suatu tujuan yang jelas dalam arti kita punya satu contoh model atau patron yang ingin dibuat atau ingin dicapai dan kita coba berusaha menca-pai tujuan atau visi tersebut sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada pada kita.(Bersambung) 

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin