|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Peningkatan
partisipasi masyarakat dan peran Lintas sektor di
daerah
Pemberantasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue(6)
|
Bila lingkungan sekitar kita kering atau tidak ada media air sebagai tempat bertelur nyamuk maka nyamuk aedes aegypti akan berkurang di sekitar kita, sehingga dengan sendirinya penyakit demam berdarah akan berkurang. Bila tidak, dapat kita terapkan metode konvensional sederhana untuk membasmi nyamuk dewasa, dikombinasikan dengan pembasmian jentik aedes aegypti yang digunakan saat ini melalui Gerakan 3M Plus, yang dikembangkan menjadi Gerakan Multi M atau Gerakan Multi P yang pembuatannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat (Sumakul JA.)
. Penataan sistem pembuangan air limbah secara sederhana me-makai saluran pembuangan air limbah (SPAL) dengan lobang re-sapan air limbah sederhana atau septic tank. Lobang resapan air limbah, (bila berdekatan dengan sumur gali untuk air minum) dapat memakai saringan pada lobang resapan air limbah terdiri dari bahan ijuk, pasir, kerikil kemudian secara berkala setiap minggu dituangkan bahan kaporit, tawas atau larutan Effective Microorganisme (larutan EM) untuk menghilangkan bau busuk pada lobang resapan tersebut.
· Lobang resapan air limbah dapat di tempatkan di halaman pekarangan, di bawah pagar.
1 Unit SPAL dan lobang resa-pan air limbah dapat digunakan secara kelompok oleh beberapa unit bangunan yang ada.
· Treatment air limbah dapat memakai mikroorganisme seperti Lactobacillus sporogenus.
6. Pengelolaan Sampah
· Sampah anorganik seperti ka-leng, botol, ban kendaraan ber-motor didaur ulang atau ditanam.
7. Peraturan Daerah tentang Kesehatan Lingkungan (Perda Kesling)
· Perlu direvisi atau perlu dibuat Perda Kesehatan Lingkungan.
· Perlu penerapan dan penega-kan hukum tentang Perda Kesling.
8. Peran serta masyarakat
· Melalui peningkatan peran serta masyarakat di Lingkungan, Kelurahan, Kecamatan. Kegia-tannya berdasar azas musya-warah melalui rapat atau perte-muan RT/RW beberapa keluarga secara periodik membahas program kerja atau mengeva-luasi pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan berkaitan dengan revitalisasi, perbaikan dan pembangunan sarana pra-sarana kesehatan lingkungan menyangkut penanggulangan penyakit DBD.
· Ditingkatkanya partisipasi mela-lui peran dari perusahaan real estate.
9. Sumber Dana. Keluarga, swadaya masyarakat (gotong ro-yong atau usaha Dana Mapa-lus), bantuan pemerintah bagi keluarga miskin, Dana APBD, APBN, BLN, pihak swasta.
PROGRAM KERJA
Pada daerah endemis DBD, un-tuk mewujudkan hal tersebut dapat dilakukan beberapa ke-giatan antara lain:
1. Komunikasi Informasi dan Edukasi.
· Sosialisaasi. Sosialisasi bagi petugas, tukang bangunan, ka-der, tokoh masyarakat, dan ma-syarakat umum berkaitan de-ngan teknis pembangunan sara-na prasarana yang baik dan be-nar ditinjau dari segi kesehatan lingkungan.
· Seminar. Dilaksanakannya seminar berkaitan dengan teknis pembangunan sarana prasarana yang baik dan benar ditinjau dari segi kesehatan lingkungan.
· Media cetak dan elektronik. Pelaksanaan sosialisasi melalui media cetak dan elektronik.
2. Peningkatan dukungan oleh Dinas dan Instansi atau pihak terkait lainnya.
· Revitalisasi dan pembangu-nan sarana prasarana agar me-menuhi syarat higiene sanitasi lingkungan oleh Dinas Kimpraswil.
· Dilakukan modernisasi manajemen PDAM meliputi kerjasama dengan pihak Negara maju. Baik bila termasuk keter-sediaan air siap saji atau air da-pat langsung diminum.
· Terjaminnya kontinuitas aliran listrik (PLN).
· Pembangunan pemukiman real estate memenuhi syarat higiene dan sanitasi lingkungan.
· Peningkatan peran Perguruan Tinggi
· Peningkatan peran dari LPM, LSM, tokoh agama dan tokoh ma-syarakat serta stake holder yang ada.
3. Digalakannya Jumat Bersih meliputi:
· Setiap hari Kamis diumum-kan oleh tukang pelakat atau melalui pengeras suara pelak-sanaan kerja bakti Jumat Bersih.
· Diumumkanya melalui media cetak dan elektronik pelaksana-an Jumat Bersih.
· Setiap warga masyarakat wa-jib berpartisipasi secara spontan membersihkan lingkungan ma-sing-masing dalam rangka me-merangi nyamuk aedes aegypti.
4. Pembuatan dan penegakan Peraturan Daerah tentang higiene dan sanitasi lingkungan.
5. Program jangka pendek dilak-sanakan dengan program 3 M (Menutup, Menguras, dan Me-ngubur), namun lambat laun pro-gram jangka panjang dikemudian hari diupayakan penanganannya bersifat permanen.
6. Program penelitian untuk pembasmian nyamuk dewasa.
MANFAAT
Melalui peningkatan mutu kondisi higiene sanitasi lingku-ngan akan didapat beberapa manfaat berupa:
· Menurunnya populasi nya-muk aedes aegypti (sebagai vektor perantara penularan dari virus dengue sebagai penyebab penyakit DBD).
· Menurunnya angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD. O
· Manfaat psikologis, berku-rangnya beban psikologis bagi keluarga (beban kedukaan).
· Penghematan anggaran bagi keluarga, Pemda (APBD), Negara (APBN).
· Pengalihan anggaran bagi pembangunan seksi, sektor atau bidang pembangunan lainnya.
· Manfaat dari segi keuntungan ekosistem yang ada (penyem-protan berkurang).
· Adanya suasana yang nya-man dan indah dipandang dan peningkatan mutu lingkungan akan berdampak positif pada pertumbuhan sektor kesehat-an, pariwisata, investasi dan dunia usaha.
· Akan meningkatkan keper-cayaan masyarakat internasio-nal akan adanya jaminan higiene sanitasi lingkungan dan kesehatan di daerah ini.
· Dengan menurunnya angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD akan membantu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan masya-rakat serta meningkatkan per-tumbuhan ekonomi di daerah ini.
SARAN
· Untuk wilayah perkotaan, perlu perobahan metode pen-dekatan pencegahan penyakit DBD dari metode pencegahan bersifat temporer berupa gera-kan 3 M, abatisasi dan fogging; kemudian secara lambat laun beralih ke arah kegiatan pence-gahan bersifat permanen.
· Perlu peningkatan peran ins-tansi, dinas atau sektor lain yang ada.
· Perlu modernisasi mana-jemen PDAM dan PLN dalam me-nunjang terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat.
· Perlu penataan manajemen pengelolaan sistim pembuangan air limbah.
· Perlu menciptakan suasana lingkungan sekitar yang kering, bebas air terbuka atau tidak ada air terbuka yang menjadi akses nyamuk aedes aegypti.
· Pengadaan air bersih dengan sumur suntik.
· Pemanfaatkan penggunaan air bersih secara langsung dari mata kran air leideng.
· Direalisasikannya manjemen pengelolaan sampah yang baik dan benar.
· Digunakannya ikan seperti ikan kepala timah, ikan mujair se-bagai predator pemangsa jentik nyamuk pada lokasi air terbuka seperti kolam, selokan, kali dsan sungai.
· Adanya partisipasi keluarga atau usaha swadaya masyarakat, pihak swasta, kalangan peme-rintahan, TNI/POLRI, LSM un-tuk revitalisasi sumur gali ter-buka, pembuatan sumur re-sapan air limbah rumah tangga yang ada di masyarakat.
· Adanya partisipasi nyata dari pihak pengusaha atau kelom-pok pengusaha yang ada.
· Dianggarkan bantuan pro-gram betonisasi dan pengadaan pompa air serta pembuatan SPAL dan sumur resapan air limbah percontohan melalui Dana Gakin, APBN, BLN atau APBD.
· Adanya dukungan politis dari pihak eksekutif dan legislatif.
· Bila memang perlu dilakukan, program fogging sebaiknya dilak-sanakan pada bulan Desember-Januari atau beberapa saat sebelum kasus DBD mencapai puncak siklus tertinggi yang bia-sa terjadi pada bulan Februari.
· Dibudayakannya gerakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat.
Selanjutnya kaitan kesehatan secara umum, meskipun suatu bencana terjadinya sewaktu-waktu dan sukar diramalkan na-mun dengan mengambil hikmah dari data yang ada dan berda-sarkan pengalaman di waktu lalu, seyogianya setiap bulan Desember-Februari ditetapkan sebagai Bulan Waspada Ben-cana, maka pada masa-masa ter-sebut melihat gejala alam yang ada kita harus meningkatkan kewaspadaan terhadap datang-nya bencana seperti wabah/KLB (DBD, malaria, diare), banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin badai atau gelombang besar, serta meningkatnya kasus kecelakaan di darat, laut dan udara.
Pada musim panas pada bulan Juli sampai Oktober kita harus waspada terhadap datangnya bencana kekeringan dan keba-karan, masa paceklik panen per-tanian (kelaparan), topan atau angin kencang, gunung api, serta waspada terhadap penya-kit pada manusia seperti diare, malaria, rabies, flu burung dan waspada terhadap penyakit pa-da ternak seperti rabies, issue flu burung dan ND atau tetelo.
Semoga dengan melaksana-kan upaya preventif dan pena-nganan yang baik, kita dapat melewati masa-masa sulit keja-dian bencana (KLB penyakit) tersebut; di mana kita dapat me-minimalisir dampak kerugian yang timbul dan dapat mempro-teksi korban jiwa dan harta ben-da seminimal mungkin dengan menyiapkan sarana prasarana termasuk akses khusus bagi petugas kesehatan, tim SAR dan keamanan dengan adanya sa-rana transport jalan dengan konstruksi lebih tinggi, bebas hambatan, bebas banjir dan ta-nah longsor, tahan gempa yang dapat menghubungkan lokasi bencana dengan pusat-pusat sarana kesehatan yang ada dari ujung satu dengan ujung lainnya.
PENUTUP
Semoga dengan terciptanya kondisi higiene sanitasi ling-kungan yang baik di waktu-wak-tu mendatang, diharapkan akan berdampak secara langsung pada menurunnya populasi nya-muk aedes aegypti sehingga akan berdampak pada menurunnya angka kesakitan dan angka ke-matian penyakit DBD sehingga akan terjadi penghematan ang-garan pihak keluarga, Pemda dan Negara; dimana nantinya penghematan dana anggaran tersebut dapat dialihkan atau digunakan untuk pembiayaan pada bidang atau sektor pem-bangunan lainnya.(Bersambung)
|
|